Website Resmi Seminari Menengah St Petrus Canisius Mertoyudan  - Semoga bisa memberikan informasi yang berguna mengenai kegiatan Seminari - Terima kasih atas kunjungan anda. Saran dan masukan yang bersifat membangun akan kami terima dengan senang hati

Pencarian

Kata kunci :

 


Polling

Mohon pooling anda untuk web ini untuk pengembangan dimasa mendatang.

 Bagus
 Cukup
 Kurang


Incoming Event

Belum ada event



PPDB 2018/2019







28 November 2016

Aquila, LitBang - FENOMENA

Membaca merupakan suatu hal yang tak asing lagi bagi masyarakat umum. Dimana-mana, kita, sebagai bagian dari masyarakat, dapat menemui berbagai macam tulisan yang beragam, seperti artikel, media massa, ataupun sekadar peraturan tertulis. Tulisan-tulisan ini mengawali kita untuk memulai kegiatan membaca. Sesederhana apa pun itu, kita dapat dengan mudah membangun habitus membaca.

Seminaris yang juga adalah bagian dari masyarakat, ternyata memiliki hubungan yang sangat erat dengan kegiatan membaca. Di Seminari Mertoyudan, seminaris telah diwadahi sarana yang cukup memadai untuk membangun budaya membaca, yakni perpustakaan. Perpustakaan menjadi salah satu tempat utama yang digunakan seminaris untuk memperluas pengetahuannya dengan membaca. Persoalannya, apakah seminaris sudah mengoptimalkan penggunaan perpustakaan di seminari?

 

Melihat fenomena tersebut, Tim Litbang Aquila pada edisi kali ini akan membahas mengenai pemanfaatan perpustakaan oleh seminaris. Sejauh manakah seminaris memanfaatkan perpustakaan?

FYI : Pada tahun 2015, Perpustakaan Seminari Mertoyudan dinobatkan sebagai perpustakaan terbaik no.1 tingkat kabupaten dan no.9 tingkat nasional.

 

 


Metode penelitan yang digunakan oleh Tim Litbang Aquila adalah dengan angket. Tim Litbang Aquila menyebarkan angket yang terdiri dari 5 pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan ini disusun sedemikian rupa untuk menjawab pokok permasalahan yang diangkat Tim Litbang Aquila, yaitu pengoptimalan perpustakaan sebagai sarana/tempat membaca buku di seminari. Tim Litbang Aquila mengambil responden sebanyak 110 orang. Setiap kelas memperoleh 10 angket dengan rincian sebagai berikut: Medan Pratama 30 angket, Medan Tamtama 30 angket, Medan Madya 20 angket, dan Medan Utama 10 angket.

 

 

 

 

 

KAPAN SEMINARIS PALING SERING MEMBACA DI PERPUSTAKAAN?

 

Seminaris paling sering membaca buku di perpustakaan pada saat jam pelajaran kosong, di mana saat itu kemungkinan guru sedang berhalangan hadir di kelas. Sebanyak 59 seminaris memilih sering pergi ke perpustakaan saat jam pelajaran kosong. Jam istirahat menjadi frekuensi kedua waktu yang digunakan seminaris untuk membaca buku di perpustakaan. Jam istirahat dalam KBM terhitung dua kali, yaitu pada pukul 09.00 – 09.15 WIB (istirahat I) dan 10.45 – 11.00 WIB (istirahat II). Sebanyak 33 seminaris yang memilih sering pergi ke perpustakaan saat jam istirahat. Setelah jam istirahat, waktu yang menjadi pilihan bagi seminaris untuk membaca buku di perpustakaan adalah waktu studi II. Jam Studi II diberlakukan pada pukul 20.00 – 21.15 WIB. Saat jam Studi II, perpustakaan tidak ditunggui oleh petugas perpustakaan. Perpustakaan saat jam Studi II biasanya dijaga oleh bidel perpustakaan OSIS. Sebanyak 14 seminaris memilih sering pergi ke perpustakaan saat jam Studi II. Sedangkan, seminaris paling jarang pergi ke perpustakaan setelah KBM usai. Sebanyak 4 seminaris pergi ke perpustakaan setelah pulang sekolah.

 

BERAPA KALI SEMINARIS MEMBACA BUKU DI PERPUSTAKAAN DALAM WAKTU 1 MINGGU?

 

Dalam kurun waktu 1 minggu, sebagian besar seminaris membaca buku di perpustakaan sebanyak 1-4 kali. Sebanyak 79 seminaris pergi ke perpustakaan sebanyak 1-4 kali untuk membaca buku. Di urutan kedua, frekuensi seminaris membaca buku di perpustakaan adalah sebanyak 5-10 kali. Sebanyak 18 seminaris yang sering pergi ke perpustakaan untuk membaca buku dalam frekuesnsi ini. Ada pula yang tidak memiliki frekuensi alias 0. Sebanyak 8 seminaris tidak pernah membaca buku di perpustakaan dalam kurun waktu 1 minggu. Di urutan keempat, seminaris pergi ke perpustakaan sebanyak lebih dari 14 kali untuk membaca buku. Sebanyak 2 seminaris pergi ke perpustakaan sebanyak lebih dari 14 kali. Selain itu, ada 1 seminaris yang pergi ke perpustakaan sebanyak 11-14 kali untuk membaca buku.

 

 

APA JENIS BUKU BACAAN YANG PALING SERING SEMINARIS BACA SAAT DI PERPUSTAKAAN?

 

Majalah HAI menjadi jenis buku bacaan yang paling sering dibaca seminaris saat di perpustakaan. Sebanyak 29 seminaris paling sering membaca majalah HAI. Novel dan Majalah TEMPO menempati urutan kedua. Sebanyak 16 seminaris paling sering membaca novel dan Majalah TEMPO di perpustakaan. Pada urutan ketiga, tersebut ensiklopedi. Sebanyak 17 seminaris paling sering membaca ensiklopedi di perpustakaan. Setelah ensiklopedi, seminaris paling sering membaca buku rohani. Sebanyak 8 seminaris membaca buku rohani di perpustakaan. Setelah itu, seminaris paling sering membaca buku pelajaran di perpustakaan. Sebanyak 7 seminaris paling sering membaca buku pelajaran di perpustakaan. Buku pelajaran ini tergantung dengan jenis mata pelajaran yang seminaris sukai atau seminaris baca pada waktu hendak menghadapi ulangan mata pelajaran tersebut. Setelah buku pelajaran, seminaris paling sering membaca Majalah DJOKO LODANG di perpustakaan. Sebanyak 3 seminaris membaca Majalah DJOKO LODANG di perpustakaan. Komik menjadi jenis buku bacaan terakhir yang paling sering seminaris baca saat di perpustakaan. Hanya 1 seminaris paling sering membaca komik di perpustakaan. Selain data tersebut, terdapat 11 seminaris yang menjawab lainnya.V

 

APA TUJUAN SEMINARIS MEMBACA BUKU DI PERPUSTAKAAN?

 

Sebagian besar seminaris membaca buku di perpustakaan bertujuan menambah pengetahuan. Sebanyak 46 seminaris menjawab menambah pengetahuan sebagai tujuannya membaca buku di perpustakaan. Mengisi waktu luang menjadi tujuan kedua seminaris dalam membaca buku di perpustakaan. Sebanyak 42 seminaris membaca buku di perpustakaan untuk mengisi waktu luang. Ketika tidak ada yang ingin dilakukan pada saat waktu bebas, seminaris mengisi waktunya dengan membaca buku di perpustakan. Sedangkan, rekreasi menjadi tujuan terakhir seminaris membaca buku di perpustakaan. Sebanyak 11 seminaris membaca buku di perpustakaan untuk rekreasi. Kegiatan ini dipandang oleh mereka sebagai kegiatan yang bersifat refreshing (menyegarkan). Selain tiga tujuan tersebut, di antaranya terdapat 9 seminaris yang menjawab lainnya.

 

 

 

 

SUDAHKAH SEMINARIS MENGOPTIMALAKAN PERPUSTAKAAN SEBAGAI SARANA/TEMPAT MEMBACA BUKU DI SEMINARI?

 

Ternyata, sebagian besar seminaris merasa belum dapat mengoptimalkan dengan baik perpustakaan sebagai sarana/tempat membaca buku di seminari. Sebanyak 57 seminaris merasa belum mengoptimalkan perpustakaan seminari. Alasan-alasan mereka belum dapat mengoptimalkan perpustakaan seminari adalah sebagai berikut : bagi seminaris Medan Pratama, alasan-alasannya antara lain belum mempunyai  habitus membaca dan kurangnya minat baca, keterbatasan waktu, belum terbiasa dengan sistem perpustakaan, belum mempunyai keinginan untuk menambah informasi (pengetahuan), menggunakan perpustakaan sebagai sarana peminjaman buku, dan masih menggunakan perputakaan untuk rekreasi; bagi seminaris Medan Tamtama, alasan-alasannya antara lain masih banyak buku yang belum dimanfaatkan, jarang ke perpustakaan, terkendala menjadi bidel perpustakaan OSIS, keterbatasan waktu, malas, kurangnya minat baca, sulit menemukan buku yang pas, dan niat pergi ke perpustakaan hanya untuk mencari tempat tidur yang nyaman dan aman; bagi seminaris Medan Madya, alasan-alasannya antara lain masih banyak buku yang belum dibaca, lebih senang baca di kelas, hanya sekedar mengisi waktu luang, ada banyak bacaan di luar perpustakaan, merasa perpustakaan masih terlalu sepi dan kurang ideal untuk belajar; bagi seminaris Medan Utama, alasan-alasannya antara lain akses ke perpustakaan terbatas, sibuk, hanya menggunakan jika butuh, sudah memiliki buku yang diinginkan, kekurangan waktu, malas datang dan membaca secara serius, suasana perpustakaan kurang kondusif, menempatkan perpustakaan sebagai tempat peminjaman buku, lebih sering liat gambar daripada baca artikel, malas membaca, jarang ke perpustakaan, masih banyak buku yang belum dibaca, minimnya sistem perpustakaan, dan hanya ikut kesenangan saja. Sedangkan, sebagian kecil seminaris merasa sudah mengoptimalkan perpustakaan sebagai sarana/tempat membaca buku di seminari. Sebanyak 53 seminaris merasa sudah mengoptimalkan perpustakaan seminari.

 

KESIMPULAN

          Perpustakaan seminari yang pada tahun 2015 dinobatkan sebagai perpustakaan terbaik no.1 tingkat kabupaten dan no.9 tingkat nasional ini ternyata belum begitu dioptimalkan oleh seminaris dengan baik. Seminaris yang seharusnya menjadi pengunjung utama yang terlibat aktif dalam penggunaan perpustakaan nyatanya belum seluruhnya sesuai dengan apa yang diharapkan. Terjadi kontradiktif kenyataan antara tujuan dan realita yang dilakukan seminaris dalam kegiatan membaca buku di perpustakaan seminari. Seminaris sebagian besar sudah memiliki tujuan yang baik dalam hal membaca buku di perpustakaan, yakni menambah pengetahuan. Akan tetapi, nyatanya sebagian besar seminaris justru masih membaca jenis bacaan yang bersifat rekreasi. Maka dari itu, bisa disimpulkan bahwa seminaris sudah mempunyai tujuan yang baik dalam usaha membaca buku di perpustakaan, tetapi di sisi lain usaha pencapaian tujuan yang baik tersebut masih kurang tepat. Usaha pencapaian tujuan yang baik itu tentu perlu diperbaiki. Maka dari itu, teman-teman, apakah kita berani untuk mengoptimalkan perpustakaan di seminari sebagai sarana/tempat membaca buku pada tahun Scientia ini?