Website Resmi Seminari Menengah St Petrus Canisius Mertoyudan  - Semoga bisa memberikan informasi yang berguna mengenai kegiatan Seminari - Terima kasih atas kunjungan anda. Saran dan masukan yang bersifat membangun akan kami terima dengan senang hati

Pencarian

Kata kunci :

 


Polling

Mohon pooling anda untuk web ini untuk pengembangan dimasa mendatang.

 Bagus
 Cukup
 Kurang


Incoming Event

Belum ada event



PSB 2017/2018

on





28 November 2016

Aquila, Syering Panggilan - Wong Kere Pengen Dadi Romo

Perlu waktu lama dan tenaga ekstra untuk mengartikan sebuah kata yang sering disebut “panggilan”. Di luar tembok seminari, aku seringkali menganggap sebelah mata kata ini. Kata panggilan jika diartikan secara kasar, tidak akan mengena di diriku. Namun, setelah aku berada di seminari, aku dapat mengartikan panggilan secara mendalam. Bagaimana tidak, panggilan adalah tiket ajaib yang dapat menghantarku ke kehidupan yang lebih indah. Seminari Mertoyudan telah memperkenalkanku arti sebuah panggilan yang sebenarnya, hingga melahirkan sebuah kisah yang membekas di hati.

Tentang Ibu dan Kuliah

Akhir tahun ajaran sudah dekat. Waktu itu aku masih duduk di kelas sembilan SMP. Ku tak tertarik pada sekolah-sekolah yang promosi ke sekolahku. Karena SMA adalah batu pijakan pertama yang menentukan masa depanku, aku memikirkan matang-matang akan sekolah yang aku pilih. Hambatan yang kumiliki adalah dari sisi keluargaku. Waktu itu, keluargaku tidak mampu mengeluarkan banyak uang untuk biaya sekolahku dan adikku.

Aku ingin mencari sekolah yang dapat memberiku jaminan beasiswa di salah satu universitas. Dengan begitu, orangtuaku hanya membayar uang sekolah sampai aku lulus SMA. Paling tidak, semacam SMK yang memberikanku keterampilan tertentu. Itu semua karena keluargaku sedang mengalami kesulitan ekonomi. Di sela-sela kegelisahanku, ibuku dengan lembut menawari sekolah yang memiliki kelebihan tersebut, yaitu Seminari Mertoyudan. Tawaran itu langsung aku terima. Aku seakan-akan dibutakan  oleh embel-embel dikuliahkan tersebut. Sebenarnya, ibu tidak mempermasalahkan semua itu. “Urusan pembayaran itu urusan bapak sama ibu, le. Pilih saja mana yang cocok dan yang berpotensi mengembangkan bakatmu”, pesan ibuku. Tapi aku tetap tidak mau menjadi beban bagi keluargaku. Tak lama berpikir, sampai pada akhirnya aku bersama dengan ibuku mengambil formulir pendaftaran peserta didik baru gelombang dua.

Sehari sebelum tes PSB, nenek, paman, dan pakdeku berkunjung ke rumahku. Di sela-sela pembicaraan, mereka menanyakan calon sekolahku. Aku hanya menjawab,”besok pagi Aang tes di SMK Mikael”. Hal itu kulakukan untuk menenangkan pikiran mereka, karena waktu itu sudah lama dari UN SMP, dan aku belum dapat sekolah. Tes PSB pun tiba, ku bermodalkan “kebohongan” untuk  mendapat tiket masuk ke Seminari. Pada waktu itu, aku masih menganggap Seminari hanyalah sebatas “sekolah”. Ya, semua materi tes kukerjakan dengan sungguh-sungguh. Ku merasa gelisah saat menunggu pengumuman. Kalau tidak diterima mau sekolah di mana lagi aku ini? Namun, Tuhan memang meluruskan jalanku. Beberapa hari kemudian, aku membuka pengumuman via online dan hasilnya aku DITERIMA.

Sadar dan Menjawab

Hari-hari pertamaku di seminari, ku diliputi oleh rasa kebingungan, karena niatku berbeda dari teman-temanku. Yang kuingat saat keluargaku pulang adalah perkataan ibu, “Sudah, sekarang kamu tanamkan dalam hatimu bahwa kamu akan menjadi romo, hilangkan sejenak keinginan kuliah itu, toh kamu baru masuk SMA”. Kata-kata itu selalu kurenungkan di masa karantinaku. Apakah ini benar jalan yang diberikan Tuhan? Selama karantina, ku mencoba untuk merenungkan ini semua. Saat jam rohani dan saat hening sebelum Ekaristi di pagi hari adalah saat paling tepat untuk merenungkan hal itu. Sampai pada ahkirnya, aku menemukan makna dari panggung sandiwara ini.

Aku sadar, bahwa semua ini adalah jalan Tuhan. Sebenarnya, bisa saja aku sekolah di luar yang menjamin masa depanku kelak, tidak harus di seminari. Tapi karena Tuhan memanggilku, Ia lalu membuka jalan bagiku. Walaupun lewat berbohong kepada semua orang, lewat sandiwara panggilan yang kubuat, lewat kesulitan ekonomi yang kuhadapi, Tuhan memiliki maksud dari semua itu. Lewat ibu, lewat keluarga, aku menemukan karya Tuhan bagiku. Mereka memiliki harapan yang besar kepadaku, mereka ingin mempersembahkan putra sulungnya kepada Tuhan, menjadi pelayan-Nya.

Aku merasakan jalan Tuhan begitu indah. Ia yang menjadi navigasi saat aku berjalan. Ia menuntunku ke tempat yang benar, ke tempat yang seharusnya kutuju. Namun, bukan semata-mata panggilanku demi ibuku, tapi memang Tuhan menunjukkan jalanNya lewat perantaraan ibuku. Tuhan memberikan jalan atas kegelisahan keluargaku dalam menghadapi masalah ekonomi. Aku yang menjadi jawaban Tuhan, karena setelah aku masuk ke Seminari, keadaan keluargaku mulai  membaik dari segi finansial maupun segi sosial. Aku mensyukuri semua itu.

Butuh waktu yang panjang untuk memilih dan menjawab Panggilan Tuhan dan menyerahkan diri seutuhnya untuk menjadi Imam-Nya. Namun, dari proses yang kujalani, dinamika yang ku rasakan di seminari, menjadi jawaban atas semua itu. Aku merasa tidak akan sendirian. Hidup bersama di seminari mengajarkanku akan indahnya sebuah panggilan. Aku bersyukur dapat menjadi bagian dari teman-teman sepanggilanku. Menikmati dunia dengan segala keterbatasan, mensyukuri apa yang Ia berikan. Sebenarnya ku tak akan sendirian, Tuhanlah yang menjadi kawanku. Ia menghadirkan siapapun untuk mewarnai hari-hariku. Tuhan ada dalam hidupku.

 

-Aloysius Anggoro

Seminaris Tahun Ketiga