Website Resmi Seminari Menengah St Petrus Canisius Mertoyudan  - Semoga bisa memberikan informasi yang berguna mengenai kegiatan Seminari - Terima kasih atas kunjungan anda. Saran dan masukan yang bersifat membangun akan kami terima dengan senang hati

Pencarian

Kata kunci :

 


Polling

Mohon pooling anda untuk web ini untuk pengembangan dimasa mendatang.

 Bagus
 Cukup
 Kurang


Incoming Event

Belum ada event



PSB 2017/2018

on





28 November 2016

Aquila, This Is Us

Di Seminari Menengah Mertoyudan, bacaan rohani menjadi salah satu kegiatan wajib bagi para seminaris. Kegiatan ini bersifat rutin sehingga membentuk suatu kebiasaan bagi para seminaris. Namun, apakah seminaris maupun pembaca sudah mengetahui kegunaan membaca buku rohani?

Memahami Kebutuhan Hidup

Sanctitas, Scientia, dan Sanitas merupakan tiga nilai yang terus dihidupi di Seminari. Dalam bidang intelektual, terdapat berbagai kegiatan studi, antara lain seperti KBM dan jam studi di asrama. Dalam hal menjaga kesehatan badan, Seminari menyediakan waktu olahraga rutin untuk tiap-tiap kelas, jam makan yang teratur, dan jam tidur siang atau siesta dalam bahasa Latin. Nah, untuk memenuhi kebutuhan rohani, bacaan rohani hadir untuk menjadi salah satu sarana pemenuhannya. Menurut Rm. Sani Wibowo, SJ, Pamong Medan Tamtama, tujuan pokok kegiatan bacaan rohani dilakukan adalah untuk membantu kehidupan rohani para seminaris.

Bisa dibayangkan bagaimana jadinya apabila tidak ada kebiasaan membaca buku rohani. Bagi Fr. Petrik Yoga Sasongko, Sub Pamong Medan Madya, bacaan rohani menjadi penyeimbang kebutuhan-kebutuhan utama kita dalam menjalani hidup di seminari. Bacaan rohani dilakukan untuk memberi makan bagi jiwa atau roh seseorang. Tanpa bacaan rohani, seseorang akan merasakan suatu kekeringan hidup. Tidak ada lagi cakrawala yang dapat terbuka tanpa asupan bagi jiwa atau roh yang seharusnya menjadi dasar hidup para seminaris.

Membangun Kebiasaan Baik

Kebiasaan para seminaris dalam membaca buku-buku rohani telah dibangun sejak masih berada di Medan Pratama, area bagi seminaris yang menjalani tahun pertamanya di Seminari. Saat masih Medan Pratama, para seminaris diwajibkan membaca kisah-kisah hidup Santo atau Santa dalam buku berjudul “Sahabat-sahabat Yesus”. Pada semester satu, seminaris Medan Pratama melakukan kegiatan bacaan rohani secara berkelompok sesuai basis wilayah (bawil) masing-masing. Tujuan utamanya adalah, dengan bersama-sama dalam kelompok, para seminaris yang baru saja mengenal bacaan rohani terbantu dalam prosesnya dan dengannya siap untuk bacaan rohani secara pribadi.

Berbeda dari Medan Pratama, para seminaris tahun kedua atau Medan Tamtama melakukan bacaan rohani untuk membantu keheningan dan kedekatan relasi dengan Tuhan. Menyikapi hal itu, kepamongan Medan Tamtama memberikan arahan agar buku yang dibaca berisi pengalaman seseorang dalam membangun kedekatan relasi dengan Tuhan. Buku bacaan rohani pada semester satu yang diberikan oleh kepamongan Medan Tamtama menceritakan kisah perjalanan seorang peziarah yang berjudul “Berdoa Tak Kunjung Putus”.

Rm. Sani, SJ, pamong Medan Tamtama, mengajak para seminaris Medan Tamtama untuk tidak hanya sekedar membaca, tetapi juga berlatih menyadari dan merenungkan isi bacaan. Dalam membaca, para seminaris tidak perlu terburu-buru sehingga tidak terkesan mengejar waktu melainkan tetap menghayati bacaan agar mendapatkan makna yang mendalam.  Hal inilah yang menjadikan bacaan rohani lebih dari sekedar bacaan biasa.

Para seminaris di tingkat selanjutnya berada di Medan Madya yang merupakan Medan Electio (pemilihan). Ini adalah saat bagi para seminaris untuk berani memilih: meneruskan jalan panggilannya sebagai calon imam atau keluar dari Seminari. Bacaan rohani secara tidak langsung ternyata juga mempunyai pengaruh untuk mendukung fokus medan dalam usaha pemilihan jalan hidup panggilan. Menurut Fr. Petrik, bacaan rohani bagi seminaris Medan Madya memberikan pemahaman yang lebih luas tentang imamat. Karena itu, kepamongan Medan Madya pada semester ini memfasilitasi para seminaris, buku berjudul “Imam Bukan Miliknya Sendiri” karya Fulton Sheen sebagai buku bacaan rohani. Fr. Petrik juga menceritakan bahwa saat beliau masih menjalani formatio di Seminari Mertoyudan dulu, kegiatan bacaan rohani yang paling mengesan adalah ketika berada di Medan Madya. Beliau merasa, kegiatan bacaan rohani benar-benar mendukung proses pemilihan jalan hidupnya. Buku-buku yang dibacanya antara lain berjudul “Antara Kabut dan Tanah Basah” karya Rm. Bambang Triatmoko, SJ, dan “Satria Pinandita” karya Rm. Stanislaus Darmawijaya.

Medan Utama sebagai jenjang terakhir seminaris dalam menjalani masa formatio di seminari menengah pun memiliki fokus tersendiri. Fokus Medan Utama adalah Confirmatio (penegasan). Menurut Fr. Dedy, bacaan rohani dilakukan seminaris Medan Utama untuk semakin membantu menegaskan panggilan dan semakin mantap dalam mengolah panggilan. Maka dari itu, untuk mendukung hal tersebut, kepamongan Medan Utama menganjurkan seminaris Medan Utama untuk mencari buku yang sesuai dengan spiritualitas (ordo/kongregasi) yang mereka pilih. Buku yang digunakan hendaknya adalah buku yang mampu membantu atau mendukung spirit yang sudah dipilih. Misalnya, seorang seminaris telah memilih ordo Serikat Yesus sebagai spiritualitasnya. Maka, ia akan mengusahakan setiap hari membaca bacaan tentang spiritualitas Serikat Yesus.

Bacaan rohani ternyata merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat bagi para seminaris. So, para seminaris, mari kita lestarikan budaya membaca bacaan rohani!