Website Resmi Seminari Menengah St Petrus Canisius Mertoyudan  - Semoga bisa memberikan informasi yang berguna mengenai kegiatan Seminari - Terima kasih atas kunjungan anda. Saran dan masukan yang bersifat membangun akan kami terima dengan senang hati

Pencarian

Kata kunci :

 


Polling

Mohon pooling anda untuk web ini untuk pengembangan dimasa mendatang.

 Bagus
 Cukup
 Kurang


Incoming Event

Belum ada event



PPDB 2018/2019







30 Agustus 2017

Lectio Brevis TP. 2017-2018

Tahun Pelajaran 2017-2018 adalah Tahun sanitas bagi seluruh warga komunitas Seminari Menengah St. Petrus Canisius Mertoyudan Magelang. Oleh karena itu, di awal tahun pelajaran, ada lectio brevis yang perlu menjadi pegangan bagi seluruh warga komunitas dari Rektor, Direktur dan Pamong Umum.

 

SANITAS :

MENGGERAKAN SANCTITAS DAN SCIENTIA

(Lectio Brevis Rektor)

A.   Pengantar

Teman-teman seluruh keluarga besar Seminari tercinta, selama dua tahun terakhir ini kita telah mengolah dua pilar visi seminari yaitu : Sanctitas dan Scientia. Untuk tahun ketiga ini, kita akan mendalami pilar ketiga yaitu Sanitas (kesehatan). Ketiga pilar SSS (Sanctitas, Scientia dan Sanitas) adalah tritunggal yang utuh. Utuh artinya satu sama lain tidak bisa dipisahkan dan tidak saling mengalahkan namun satu sama lain saling mendukung dan menginspirasi dalam tujuan formasi rumah kita ini.  Tahun Sanitas ini menjadi inspirasi kita dalam menggerakan dan mengembangkan Sanctitasserta Scientia.

B.    Inspirasi Sabda : Matius 20:20-23

Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud  di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya.  KataYesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu." Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" Kata mereka kepada-Nya: "Kami dapat."  Yesus berkata kepada mereka"Cawan-Ku  memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya."

CRefleksi : Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?”

Pertanyaan Yesus dalam Injil Matius diatas baik untuk menjadi dasar dalam cara kita menjalani hidup saat ini, “Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?”Pertanyaan Yesus kepada Yakobus dan Yohanes (anak-anak Zebedeus) adalah pertanyaan yang langsung menusuk ke inti iman dan kehidupan para murid. Sekilas pertanyaan itu tidak begitu sulit untuk dijawab karena pasti akan mengatakan, “ya saya siap dan mau minum cawan itu.”Hari ini pertanyaan yang sama kembali muncul bagi kita yang ada di Seminari ini, “Dapatkahkamumeminum cawan, yang harus Kuminum?”. Pertanyaan inimenjadi tantangan formasi spiritual kita entah sebagai Imam,Suster,Bruder,Frater, Guru, Karyawan dan Seminaris. Mungkin kita bisa berargumentasi, mengapa kita harus minum cawan itu?  Yesus sendiri menjawab, "Cawan-Ku  memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.". Inilah resiko kita yang mau mengikuti Yesus yaituresiko dari seorang murid yang ingin hidup sehat, bahagia dan sejahtera. 

D. Konteks Dinamika Formasi

Roh kehidupan di rumah formasi ini adalah pembentukan diri. “Siapapun yang berada dalam rumah formasi tidak luput dari pembentukan diri untuk menjadi lebih baik” (pesan Bapa Suci pada hari minggu panggilan 2017).  Untukmeminum cawan kebahagiaan tidak bisa asal jadi (otomatis) melainkan harus dilakukan proses pembentukan kegiatan yaitu : memegang, mengangkat dan meminum (H.J.M.Nouwen). Memegang cawan berarti memeluk (sadar) diri mengapa aku disini.Apa yang kita lakukan di sini? Kita tidak bisa meminum tanpa terlebih dahulu merasa diri haus.Oleh karena itu, untuk meminum,kita harus memegang cawan, mengangkat dan meminumnya. Untuk proses itu butuh keberanian untuk terus belajar dan terus disiplin mengembangkan diri. Banyak orang yang merasa dahaga dan haus ingin segera meneguknya tanpa harus berjuang dan bekerja namun disini kita diajak untuk menahan diri, bekerja dan mengusahakan apa yang akan kita minum itu. Kita perlu menempa diri agar yang kita dapat  minum air yang sungguh-sungguh membawa kesegaran dan kehidupan. Bagi pribadi yang tidak mau belajar menempa diri akan sulit untuk meminum kesegaran yang datang dari Tuhan dan sebaliknya mereka akan terlindas oleh kemabukan arus jaman.

E. Tantangan dan Peluang dalam Perutusan di Seminari

Situasi kehidupan akhir-akhir ini menantang kita untuk dapat memilah dan memilih mana yang menyegarkan dan mana yang memabukan. Kita dihadapkan pada persoalan-persoalan gaya hidup yang tidak mudah, gaya hidup yang tidak sehat, malas, mudah putus asa, serakah,saling hujat dan karakter yang mudah merusak tata kehidupan berkomunitas. Tantangan gaya hidup ini membuat banyak orang menjadi mabuk dan akhirnyastroke: lumpuh rasa, lumpuh nalar dan lumpuh kehendak (Provinsial SJ dalam “Forum Provinsi SJ 2017”).

Sebagai rumah formasi saya mengajak setiap pribadi yang ada disini untuk mengusahakan air segar yang menghidupkan, bukan sebaliknya yang air yang memabukkan. Untuk sampai menemukan kesegaran dan kesehatan,hal itu tergantung dari apa yang kita “minum”saat ini. Oleh karena itu, kita perlu berjuang mengusahakan sebuah panci untuk dapat memasak dan menyajikan sebuah air minum yang membawa kesegaran hidup yang menopang kesehatan formasi kita ini. Kesegaran itu selain menyegarkan diri juga harus menyegarkan siapapun yang ada di sekitar kita. Untuk itu mari kita terus berproses untuk: memegang, mengangkat dan meminum cawan kehidupan dengan cara terus mengusahakan: Olah rasa, olah pikir dan olah kehendak.

·           Olah rasa: terus menyadari diri sebagai pribadi yang dicintai dan sehat sebagai pria ataupun wanita. Hidup dengan rendah hati, peduli dan terbuka akan sesama.  Menghargai satu sama lain sebagai satu keluarga (hormat, tidak melecehkan/tidak mem-bully) dan tekun merefleksikan diri sehingga mampu mensyukuri kehidupanya. Kata kunci olah rasa adalah: Maaf - Minta tolong – Terima kasih.

·           Olah pikir: terus ngasah pikir untuk belajar, membaca dan punya daya analisa. Kita perlu mengembangkan diri untuk berinovasi baik dalam belajar maupun mengajar. Kita perlu menciptakan daya kreasi yang bisa dinikmati untuk kehidupan.Hasilnya lingkungan hidupmenjadi bersih, rapi dan sehat. Kata kunci olah pikir adalah: Membaca – Menganalisa – Prestasi (produk).

·           Olah kehendak: terus mewujudkan diri dalam aksi. Aksi yang menciptakan daya kreasi dalam kehidupan. Tegas dalam prinsip namun tetap lembut dalam aksi. Bisa bekerja sama dan mau melakukan sesuatu. Mampu membangun strategi danmampu  mengeksekusi pilihan-pilihan yang ditawarkan oleh media digital yang sering membuat manusia terlena dan sebaliknya mampu menggunakan media sebagai cara membangun gerakan bagi keutuhan ciptaan.Kata kunci olah kehendak adalah:

Imajinasi – Aksi – Refleksi/Evaluasi tanpa henti.

 

F.  Apa Yang Akan Aku Perbuat untuk Dia?

Akhirnya menjadi pribadi yang Sanitas adalah sebuah pilihan bukan kebetulan. Mari kita ciptakan pola hidup yang sehat: cara berpikir yang sehat, cara merasa yang sehat dan cara bertindak yang sehat dalam komunitas formasi Seminari ini. Dalam hidup sebagai seminaris bersama kepamongan dan guru-karyawan kita ciptakan tiga daya itu secara lebih hidup. Bukan hanya kata-kata saja namun sungguh harus sampai perbuatan nyata. Mari kita saling mengingatkan apabila ada diantara kita lupa mengolah tiga daya jiwa ini. “Karena hal duduk di sebelah kanan atau di sebelah kiri, Tuhan akan memberikan kepada orang-orang yang mau terus mengusahakan." (bdk.Mat :20-23)

Sebagai penutuplectio brevis ini saya menawarkan permenungan untuk terus diolah dalam refleksi Anda:

1.       Apa tujuanku tinggal di rumah formasi ini?

2.       Sebagai warga komunitas (guru-karyawan, seminaris) pengolahan daya-daya jiwa (rasa, pikir, kehendak)manakah yang akan kuperjuangkan demi mewujudkan tujuanku itu?

 

Terima kasih dan Berkah Dalem.

Mertoyudan, 17 Juli 2017

 

T.B.Gandhi Hartono,SJ

Rektor


 

Mengusahakan Fairness, Menghargai Waktu

(Lectio Brevis Direktur)

 

Tulisan saya ini berdasarkan evaluasi bersama sebagai komunitas guru dan karyawan tanggal 17 Juni 2017, atas masukan para seminaris dalam mengisi questioner dari Litbang Sekolah dan juga FORUM LESEHAN tanggal 11-12 Juni 2017 yang lalu. Keprihatinan mengenai kedisiplinan yang menurun juga sudah saya dengar sejak 2014 ketika saya mulai menjadi staf Seminari ini.

 

Di Seminari ini kita dilatih untuk belajar dan bekerja dengan panduan jadwal. Rutinitas selalu akan kita alami. Mengapa harus rutin? Menurut Pater Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia, P. Sunu Hardiyanta SJ, rutinitas itu menolong kita yang paling lemah. Yang paling lemah pada umumnya adalah diri kita sendiri. Dengan latihan menjalankan rutinitas itu, kita dilatih untuk membentuk diri kita yang sering kali tak teratur menjadi teratur. Keteraturan sangat dibutuhkan bagi kita yang menjalani proses fotmatio (pembentukan) calon imam. Dengan rutinitas, kita mulai mengenal dinamika hidup harian bagi seminaris Medan Pratama (MP). Dengan rutinitas, kita makin menanamkan nilai-nilai yang kita hayati di Seminari bagi seminaris Medan Tamtama (MT). Dengan rutinitas, kita makin mengenali dan memilih manakah orientasi pilihanku untuk martabat hidup bagi seminaris Medan Madya (MM). Dan dengan rutinitas, aku makin menguji dan memantapkan pilihanku sebagai calon imam di Medan Utama (MU).

 

Jadwal memang pada awalnya menyiksa. Dengan keteraturan, kita tidak lagi bisa dengan seenaknya memperlakukan diriku. Dengan jadwal, kita tidak bisa dengan semaunya kita bertindak dan bertingkah. Jadwal itu sudah dengan sendirinya mengatur diriku sedemikian rupa sehingga aku tidak lekat pada satu hal yang kusukai saja namun juga kita diajak untuk berpindah dari aktivitas satu ke aktivitas yang lain. Dengan adanya jadwal sebenarnya diriku diformat dengan acara harian yang mau tidak mau harus kumakan, kukunyah, kurasakan setiap harinya, entah apapun mood yang ada pada diriku. Dan itu akan dirasakan tubuhku dan membentuk habitus diri.

 

Seminggu ada 7 hari. Kita belajar selama 6 hari pada umumnya. Setiap hari ada 7 jam pelajaran. Jika dihitung ada 42 jam pelajaran selama seminggu. Namun karena ada jadwal yang tidak memungkinkan semua dilaksanakan pada pagi sampai siang secara normal maka ada jadwal pelajaran di sore hari bagi kelas-kelas tertentu. Misalnya Pendidikan Olahraga dan Bahasa Jawa. Mata pelajaran itu terpaksa diletakkan sore hari karena tidak bisa diletakkan bersama 42 jam di pagi hari. Berbagai faktor memaksa kita meletakkan di sore hari. Misalnya karena guru yang honorer dan hanya bisa sore hari.

 

Dari jadwal pagi hari jam 06.45 sampai siang jam 12.30, kita sering kali masih merasakan dan melihat praktik-praktik diri yang kurang menghargai waktu dan kurang menunjukkan fairness (keadilan). Artinya, masih banyak penyalahgunaan waktu selama 7 jam pelajaran dengan 2 x 15 menit istirahat. Masih ada saja dalam keluhan kita adalah kurangnya disiplin diri untuk belajar. Entah itu yang isinya mengantuk di kelas. Entah itu yang kita buat untuk bergurau. Entah itu yang kita isi dengan mengerjakan yang lain yang tidak produktif-edukatif. Belum lagi jika kita melihat lebih dalam jam belajar sore  dan malam (studi 1 dan 2) yang kita punyai pada jam 18.00-19.00 dan jam 20.00-21.15. Sungguh kita pantas menyesali jika ada waktu yang tidak kita manfaatkan dengan baik. Sungguh kita telah menyia-nyakan anugerah Allah dengan waktu itu dengan kegagalan memfokuskan diri dan tidak mempergunakannya dengan baik. Banyak alasan kita buat karena kita lebih suka dengan aktivitas lainnya. Banyak alasan kita buat agar diriku tidak masuk dalam konsekuensi mengikuti jadwal rutin itu. Oleh karena itu, kita sebenarnya sudah mengkhianati apa yang menjadi komitmen diri dan sarana pembentukan diri yaitu jadwal harian rutin terutama studi. Jadwal itu dibuat tentu ada maksudnya, yaitu supaya kita sebagai calon imam mempunyai habitus studi yang kuat, karena semakin kita berjalan ke tahap berikutnya, kita semakin harus tahan untuk belajar demi kerasulan imami kita. Semakin kita ke jenjang formatio selanjutnya kita semakin dipanggil (dituntut) untuk tahan duduk, membaca, menangkap, dan merumuskan berbagai pemikiran dan teori yang kita serap dengan rumusan kita sendiri. Itu membutuhkan ketahanan. Ketahanan diperoleh lewat latihan rutin tiap hari dengan setia pada jadwal harian, terutama studi dan yang lainnya.

 

Hal ini tidak hanya terjadi pada diri seminaris namun juga guru atau staf. Ada saja yang telat datang atau mengumpulkan tugas atau soal atau nilai. Guru dan staf pun kiranya tidak dapat menghindar atau beralasan jika kadang atau sering telat. Jika tembok bangunan ini bisa bercerita, kita semua tercatat oleh memori bangunan Seminari ini. Keteladanan perlulah menjadi hal yang tidak bisa dipisah dalam disiplin diri. Oleh karena itu disiplin itu menurut saya ada beberapa hal:

·         Disiplin waktu: datang, persiapan, memulai, mengerjakan dan mengakhiri sebuah aktivitas sampai tuntas (sesuai waktu yang ditentukan/disepakati/diatur).

·         Disiplin diri: kesantunan menata diri, berpakaian, bertindak dan bertutur kata, dsb.

·         Disiplin ruang: ruangan bersih, tertata, yang tidak perlu harus dibongkar atau dibuang.

 

Mengusahakan keadilan bukan hanya dengan melakukan demo besar-besaran menuntut hak kita, namun mengusahakan keadilan juga sejauh mana kita itu setia pada jadwal (tuntutan) dan memberikan yang terbaik dalam kerja rutin kita ini. Tidak ada hal yang lebih disebut mukjizat daripada kita mengerjakan sesuatu yang rutin biasa dengan semangat yang luar biasa. Mukjizat dan itulah usaha demi keadilan adalah kalau kita setia dengan apa yang menjadi komitmen dan apa yang real terjadi dan kita kerjakan. Komitmen belajar atau bekerja 6 hari ya harus kita wujudkan real selama 6 hari juga. Tidak kemudian komitmennya 6 hari namun yang real terjadi hanya 5 hari, jika kita mengkalkulasi kualitas kerja dan belajar kita yang kadang atau sering tidak serius, banyak bercanda, terlalu santai, dan sebagainya. Mengusahakan keadilan itu juga sebenarnya harus ada kemurahan hati (generosity) dan intensi murni (intentio recta et anima pura) dalam diri kita. Kalau kalkulasi waktu studi 7 jam mata pelajaran yang selama 5 jam 45 menit ditambah 2 kali jam studi selama 2 jam 15 menit dan jika dijumlah total ada 8 jam sehari kita belajar, kita sudah memakai sepertiga hari itu (yang lamanya 24 jam) untuk belajar. Dan itu sesuai dengan pengaturan kesehatan diri. 8 jam per hari belajar itu sudah membentuk habitus studi untuk jenjang selanjutnya. Jangan mengatakan dan membela diri jam belajarku kurang karena kalkulasi membuktikan bahwa Seminari ini sudah memberikan sepertiga waktunya untuk BELAJAR (STUDI).

 

Dengan 8 jam studi tiap hari kita mengibaratkan juga fair dengan para pekerja yang juga 8 jam bekerja sehari dengan upah gaji minimum di tiap daerah. Kita solider juga dengan para buruh dan pekerja yang sehari harus bekerja 8 jam. 8 jam belajar juga kita usahakan untuk keseimbangan diri dengan mengisi 16 jam yang lain dengan waktu rohani, opera (kerja tangan untuk bersih-bersih) dan waktu-waktu aktivitas yang lain. Saya kira kalau kita berkomitmen menjalankan 8 jam studi dengan sungguh-sungguh, kita menjalankan fairness. Dengan kita fair itu, kita juga menghargai waktu. Menghargai waktu kita sebenarnya juga mengelola waktu sehingga tidak termakan oleh waktu itu sendiri, karena kita sudah mengelola, mengontrolnya.

 

Ajakan saya adalah bagi para seminaris, mari kita usahakan setahun ini dengan lebih disiplin diri mengelola waktu studi pada jam KBM dan juga studi 1 dan 2 di sore/malam hari. Saya berangkat dari keprihatinan Anda karena kedisiplinan ini masih lemah (sumber litbang sekolah). Bagi staf guru dan karyawan, saya mengajak untuk makin sadar akan arti fairness dalam melayani di Seminari ini, yaitu dengan menjalankan proses pendampingan sesuai kebutuhan hari, intensitas, dan dibarengi dengan kemurahan hati. Tidak sekedar hanya menuntut dari lembaga namun ketika dituntut tidak menampakkan profesionalitasnya. Murid yang tidak disiplin mencerminkan guru yang sering telat atau sering mangkir saat jam efektif belajar. Murid yang sering bolos karena melihat guru yang pulang lebih awal dari waktu yang sudah ditentukan. Perpustakan yang buku-bukunya jarang dibaca dan dipinjam juga mencerminkan seberapa besar semangat membaca dari guru-gurunya. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.... Demikian kata pepatah.

 

Kita juga pantas bertanya apakah selama ini aku hanya bertindak berdasarkan balas jasa yang kuterima, entah itu fasilitas apa yang bisa kunikmati atau seberapa besar aku membayar lalu aku pun bertindak sesuai bayaran itu? Orang yang mampu bersyukur adalah orang yang bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya dan tidak menyia-nyiakan waktu, sadar bahwa dirinya miskin harta dan miskin waktu. Orang yang kurang bersyukur adalah orang yang tidak menghargai waktu dan tidak tahu terima kasih walau dirinya miskin harta dan miskin waktu. Kita pantas melihat saudara-saudara kita yang kurang mampu dan tidak bisa belajar karena mereka juga tidak mendapat kesempatan dan fasilitas belajar yang ada. Di sini, di Seminari ini, kita selayaknya bersyukur atas waktu dan sarana yang ada walau mungkin tidak seideal bagi yang kaya yang pernah mengenyam sekolah mewah dan atau dari keluarga berduit.

 

Mari kita mengusahakan keadilan dan menghargai waktu selama 4 tahun atau setahun bagi KPA belajar di Seminari, dan selama waktu berkarya bagi para staf guru dan karyawan. Itu semua adalah perwujudan iman kita, perwujudan dari aku yang menanggapi panggilan Tuhan yaitu dengan mengusahakan keadilan dan menghargai waktu. Iman kita adalah iman yang mengusahakan keadilan; “faith that does justice”. (Pedro Arrupe, dalam Dokumen Konggregasi Jendral ke-32 Serikat Jesus, 2 Desember 1974-7 Maret 1975).

 

Puncta refleksi:

1.       Dari pengalamanberdisiplin, manakah yang cenderung menjadi penghayatanku selama ini? Lihat dan bandingkan dengan 3 macam kedisiplinan dalam teks ini!

2.       Manakah yang sudah kulakukan? Lebih banyak menuntut kepada pihak lain (sekolah/lembaga/pendamping) ataukah aku sudah mencoba berusaha bermurah hati melakukan tugas dan pekerjaanku?

3.       Apakah aku sebagai pribadi dan bagian dari komunitas sudah fair (adil) dengan pemakaian waktu belajar dan atau bekerja selama ini jika dihitung antara proses dan hasilnya (antara tuntutan kebutuhan dan hasil yang kucapai/kemampuan profesionalitasku bagi kita yang bekerja)? Renungkan, jelaskan dan sharingkan!

 

 

 

Pasturan Bongsari Semarang,

Pada pesta St. Aloysius Gonzaga

 

Y. Alis Windu Prasetya, SJ

 

 

 


Menanam Kebiasaan, Menuai Kebaikan

 (Lectio Brevis Pamong Umum)

 

Saya memulai Lectio Brevis pagi ini dengan sebuah pertanyaan kecil, bagaimana sebuah negara bisa maju dan menjamin kesejahteraan rakyatnya. Kemajuan sebuah negara tidak tergantung pada umur. Kita bisa melihat negara India dan Mesir. Kedua negara ini berumur lebih dari 2000 tahun. Tetapi, toh dua negara ini tetap terbelakang. Sebaliknya, negara Singapura, Australia, dan New Zealand umurnya kurang dari 150 tahun. Saat ini, negara-negara ini tergolong negara maju dan penduduknya tidak miskin.

Ada kemungkinan jawaban lain. Sebuah negara bisa maju karena memiliki sumber daya alam yang baik. Tetapi, apakah memang demikian? Kita bisa belajar dari negara Jepang. Jepang mempunyai wilayah yang sangat terbatas. Itu pun masih ditambah 80% wilayah Jepang berupa pegunungan. Pasti keadaan ini tidak cukup mendukung untuk pertanian dan peternakan. Anehnya, Jepang menjadi salah satu negara raksasa dalam bidang ekonomi dan iptek. Jepang laksana negara “industri terapung” yang mengimpor bahan baku dari semua negara di dunia untuk kemudian diolah dan diekport dalam bentuk barang jadi.

Selain Jepang, negara Swiss tidak memiliki wilayah perkebunan coklat yang besar. 11% wilayah daratannya yang bisa ditanami. Tetapi, Swiss terkenal sebagai pembuat coklat terbaik di dunia. Selain itu, Swiss terkenal dengan perusahaan makanan terbesarnya di dunia, yaitu perusaan Nestle. Swiss juga tidak memiliki reputasi keamaan, integritas, dan ketertiban yang cukup baik. Tetapi, saat ini bank-bank di Swiss menjadi bank yang paling aman dan paling disukai untuk berinvestasi. Banyak dokumen resmi negara pun disimpan di Jenewa, Swiss.

Kemajuan sebuah negara tidak terletak pada usia atau sumber daya alam yang dimililiki. Tetapi, pada sikap dan perilaku masyarakat yang telah dibentuk sepanjang tahun melalui kebiasaan, kebudayaan, dan pendidikan. Beberapa faktor yang menjadi prinsip dasar kehidupan negara maju adalah etika, hormat pada aturan, bekerja keras, dan disiplin waktu. Bisa jadi pribadi kita kurang bisa maju secara maksimal bukan karena kemampuan diri kita, bukan juga karena sistem yang mengatur kita. Mungkin, karena kita kurang mematuhi dan mengajarkan prinsip-prinsip dasar kehidupan seperti yang dikatakan di depan. Untuk mencapai masa depan yang baik, orang harus berubah dan bertindak. Awal perubahan terjadi dari diri kita sendiri.

Prinsip Menegerial “5 S” di Jepang

Banyak industri di dunia berusaha memperbaiki diri untuk menjaga kebersihan dan keteraturan. Mereka berpikir keadaan yang berantakan akan menyembunyikan masalah. Sebagai pemecahannya, banyak perusahaan di Jepang menerapkan manajeman 5 S yang menjadi kebiasaan untuk mengurangi aneka bentuk pemborosan di tempat kerja. 5 S tersebut adalah pemilihan (Seiri), penataan (Seiton), pembersihan (Seiso), penjagaan kondisi (Seiketsu), dan komitmen atau kesadaran diri untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik (Shitsuke).

Penerapan prinsip ini akan membuat perusahaan mampu berjalan dengan lebih baik, lebih efisien, lebih aman, dan lebih produktif. Perusahaan yang tidak melakukan 5 unsur di atas akan mengeluarkan biasa yang besar. Padahal, biasa yang besar akan mengurangi keuntungan. Maka, perusahaan akan melakukan perubahan terhadap etika kerja orang-orang yang terlibat dalam sebuah produksi. Kecerdasan para pekerja tidak menjamin terjadinya peningkatan produktifitas. Bisa jadi, para pekerja memiliki kecemerlangan berpikir. Tetapi, itu semua tanpa didukung etika kerja yang baik tidak akan menghasilkan perubahan berarti dan tidak akan berproduksi secara optimal.

Prinsip “3S” di Seminari Menengah Mertaoyudan

Pendidikan di Seminari Menengah Mertoyudan mendasarkan pada 3 prinsip: sanctitas, sanitas, scientia. Prinsip ini memang bukan merupakan tujuan, tetapi dipertimbangkan sebagai sebuah cara untuk mencapai tujuan. Tujuan ke depan tidak lain adalah tenaga imam yang berkualitas dalam kesucian, pengetahuan, dan kepribadian yang sehat sehingga dapat melayani umat beriman secara optimal.

Bercermin dari prinsip dasar kehidupan dari negara-negara maju dan prinsip menegerial perusahaan di Jepang, kita dapat berefleksi atas diri kita, bagaimana kita mengusahakan menjadi tenaga-tenaga yang handal bagi perkembangan Gereja di masa mendatang. Masyarakat Jawa juga memiliki pola pikir inspiratif yang dapat mewarnai usaha kita untuk menatap masa depan yang baik, yaitu: “3S” (SemediSumadiyoSakmadyo). Semedi berarti sikap doa dan keheningan yang mendasari seluruh aktifitas kita. Sebagai Seminaris, apakah aku sudah memiliki habitus rohani yang baik? Apakah aku sudah bisa silentium pada waktu-waktu tertentu? Apakah aku berdisiplin diri untuk berekaristi sebagai saat di mana aku mengalami perjumpaan dengan Tuhan? Apakah aku sudah terbiasa membuat refleksi harian? Apakah aku terbiasa dengan membaca buku-buku rohani? Apakah aku sudah mendisiplinkan diri dengan latihan meditasi dan belajar bentuk-bentuk doa yang lain? Kegiatan-kegiatan ini amat bermanfaat untuk menajamkan mata hati kita sehingga kita memiliki keterarahan pada Tuhan.

Kedua, Sumadyo. Sumadyo adalah sikap siap sedia menjalankan perutusan yang mengarah kepada kebaikan. Hidup rohani yang baik pasti akan membuahkan kebaikan dalam bertutur kata atau pun dalam bertindak. Apakah aku mau berubah demi kebaikan? Apakah aku masih marah dan ‘mutung’ apabila aku ditegur oleh pamong atau teman-temanku? Apakah aku sering berbicara kasar kepada teman-temanku dengan mengucapkan kata-kata umpatan yang tidak cocok diucapkan oleh seorang seminaris?

Ketiga, Sakmadyo. Sakmadyo kurang lebih berarti cukup, tidak berlebihan. Dalam pengertian ini, sakmadyo adalah sebuah sikap hidup yang sesuai dengan panggilannya. Apakah aku mampu menyadari identitas kita sebagai seorang calon imam? Apakah aku hidup secara berlebihan di mana aku membawa banyak barang sehingga loker almari dormit tidak cukup? Akibat lebih lanjut adalah dormitorium yang tidak rapi. Apakah aku bisa mempertanggungjawabkan uang saku dari orang tuaku atau sebaliknya, aku justru berpikir aku bisa minta apa saja dari orang tuaku karena aku adalah seorang seminaris yang hidup jauh dari keluarga? Apakah aku terbiasa untuk mengembalikan sesuatu pada tempatnya setelah kita memakainya, atau sebaliknya kita secara sembarangan meletakkan barang pinjaman?

Marilah kita mengadakan perubahan diri sedikit demi sedikit untuk masa depan yang cerah. Apa yang kita tanam hari ini, pasti akan mendatangkan buah kebaikan di masa mendatang. Semoga di tahun sanitas ini, kita mampu memberi perhatian pada kedewasaan pribadi dalam pengolahan hidup rohani, tanggungjawab tugas, kerapian tempat-tempat supaya nyaman dilihat dan dipakai, kebersihan di lingkungan seminari. Ini semua menjadi wujud konkret pribadi calon imam yang berkarakter.

 

Pertanyaan Reflektif?

1.       Apakah aku menyadari identitasku sebagai seorang Seminaris? Apakah aku sudah mengusahaan sikap hidup Semedi, Sumadyo, dan Sakmadyo dalam hidupku?

2.       Apakah niat konkret yang dapat aku lakukan untuk mengadakan perubahan diri?

 

Mertoyudan, 19 Juli 2017

 

Paulus Tri Wahyu Widiantoro, Pr.

Pamong Umum