Website Resmi Seminari Menengah St Petrus Canisius Mertoyudan  - Semoga bisa memberikan informasi yang berguna mengenai kegiatan Seminari - Terima kasih atas kunjungan anda. Saran dan masukan yang bersifat membangun akan kami terima dengan senang hati

Pencarian

Kata kunci :

 


Polling

Mohon pooling anda untuk web ini untuk pengembangan dimasa mendatang.

 Bagus
 Cukup
 Kurang


Incoming Event

Misa Penutupan Semester Gasal da

22 Desember 2014

Mengawali semester dengan syukur maka mengakhiri j

...selengkapnya


PSB 2014/2015

on





30 Desember 2012

Meniti Jejak Peradapan Candi Peninggalan Mataram Kuno

Pada tanggal 14 Oktober 2008, Seminari Mertoyudan mendapat undangan dari Dinas Pendidikan untuk mengikuti acara yang diselenggarakan oleh Balai Konservasi Peninggalan Candi Borobudur (BKPB), Magelang. Acara tersebut bertemakan �Meniti Jejak Peradaban Candi-Candi Peninggalan Mataram Kuno�. Pihak sekolah mengirim dua siswa dan seorang guru. Dari kelas XI dipilih Fikalis Rendy (XI IPS), kelas X dipilih Christoporus Yudha (XC), dan didampingi oleh Bpk. Wahab Cahyono.Acara tersebut berlangsung selama dua hari yaitu pada hari Sabtu, 18 Oktober dan Minggu, 19 Oktober 2008. Berikut ini laporan singkatnya.

Pada tanggal 14 Oktober 2008, Seminari Mertoyudan mendapat undangan dari Dinas Pendidikan untuk mengikuti acara yang diselenggarakan oleh Balai Konservasi Peninggalan Candi Borobudur (BKPB), Magelang. Acara tersebut bertemakan �Meniti Jejak Peradaban Candi-Candi Peninggalan Mataram Kuno�. Pihak sekolah mengirim dua siswa dan seorang guru. Dari kelas XI dipilih Fikalis Rendy (XI IPS), kelas X dipilih Christoporus Yudha (XC), dan didampingi oleh Bpk. Wahab Cahyono.Acara tersebut berlangsung selama dua hari yaitu pada hari Sabtu, 18 Oktober dan Minggu, 19 Oktober 2008. Berikut ini laporan singkatnya.

Tepat pagi hari pada pukul 07.30 WIB kami tiba di kantor BPKB setelah diantarkan dengan mobil oleh Pak Darmono, sopir Seminari. Suasana masih sepi tetapi sudah ada beberapa siswa yang sudah hadir, yaitu dari SMA Candimulya dan SMAN I Ngluwar. Pada pukul 08.00 WIB sudah banyak siswa yang hadir dan melakukan registrasi. Dalam registrasi kami diberi perlengakapan mengunjungi candi dan juga souvenir dari BKPB. Adapun peserta yang ikut sebanyak 50 orang, terdiri dari siswa dan guru. Selanjutnya acara meniti jejak peradaban candi dibuka secara sederhana oleh Dinas Pendidikan dan Panitia. Ceramah dari Dr. Sumijati Atmosudiro tentang peninggalan menjadi pemanasan dan penambahan wawasan. Acara hari pertama diisi dengan perjalanan ke Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Mendut, dan Candi Ngawen.

Berikut ini beberapa informasi penting dari candi-candi yang kami kunjungi, antara lain:

1. Candi Borobudur

Kami sudah berkunjung ke Borobudur beberapa kali. Namun, berbeda dengan yang kami lakukan pada hari ini. Borobudur sungguh-sungguh merupakan simbol kebangkitan (awakening). Perjalanan pencerahan umat manusia yang digambarkan melalui kisah perjalanan pemuda yang bernama Sudhana. Kisahnya berakhir pada fragmen Bhadracari dimana Sumantabhadra memberi wejangan pada Sudhana. Proses penyempurnaan mencapai pencerahan tertinggi tentang kebenaran sejati (Paramita) diwujudkan dalam relief Lalistavistara, awadana, dan Jataka.

Dari hal itu, sangatlah sayang apabila kita hanya sekedar berkunjung saja tanpa membawa apa-apa yang bermakna. Dari sisi lain, fakta restorasi Borobudur yaitu:

a.Ditemukan pertama kali oleh Raffles pada tahun 1812 dalam kondisi penuh parah tertutup semak belukar.
b.Dilakukan pembersihan di bawah Cornelius pada tahun 1814 dengan 200 pekerja selama 2 bulan.
c.Tahun 1834, Residen Kedu ikut ambil bagian dalam pembersihan.
d.Tahun 1907-1911, Theodore Van Erp melakukan restorasi.
e.UNESCO (1973-1983) dan pemerintah Indonesia melakukan restorasi besar-besaran sehingga dapat bertahan lebih dari 1000 tahun.
Candi Borobudur dibagi menjadi tiga tingakatan yaitu Kamadhatu (bawah), Rupadhatu (tengah), dan Arupadhatu (atas).

2. Candi Pawon, Mendut, dan Ngawen

Sebenarnya ketiga candi ini ditambah dengan Borobudur membentuk sebuah Mandala (lingkaran) yang mengitari Magelang, Jawa Tengah. Candi Pawon, Mendut, dan Ngawen merupakan candi yang bercorak Budha. Candi Pawon termasuk salah saru candi Budha yang bentuknya ramping seperi candi Hindu. Candi Pawon juga sering di sebut sebagai Upa Angga (bagian dari candi Borobudur). Di masa lampau, candi Pawon merupakan tempat untuk penyimpanan abu sisa pembakaran jenasah Raja Indra. Letaknya cukup strategis karena berada di tengah-tengah persimpangan antara Candi Mendut dan Candi Borobudur. Candi Pawon sendiri cukup sering dikunjungi oleh wisatawan asing maupun domestik.

Candi Mendut berada di desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Magelang. Candi Mendut letaknya menghadap ke barat sama dengan candi Pawon. Namun misteri itu belum dipecahkan sampai sekarang (mengapa sebuah candi selalu mengahadap ke barat?). Dalam ruangan atau ilik candi Mendut, kita bisa melihat dua arca yaitu arca Buddha Gkyamuni, arca Bodhisattwa Vajrapani, dan arca Bodhisattva Avalokitesvara.

Sementara itu di dusun Ngawen Muntilan terdapat Candi Ngawen. Candi Ngawen diapit oleh dua buah sungai yaitu kali Kebo (barat) dan Sungai Pabelan (timur). Lokasinya sendiri yaitu ada gugusan 5 buah candi yang masing-masing berbentuk bujur sangkar dari I � V.
Identifikasi kedua arca yang ada di candi Ngawen II dan IV adalah sebagai arca Pantheon Tathagata (=pan: seluruh dan theos: dewa).

3. Candi Prambanan

Candi ketiga ini kami kunjungi di hari terakhir perjalanan kami. Masing-masing candi cukup berbeda dengan bentuk candi yang kami kunjungi sebelumnya. Candi Prambanan terlihat besar menjangkar ke atas dengan puncak yang tinggi. Ada tiga bangunan candi yang penting di kompleks candi Prambanan yaitu candi Siva (Roro Jonggrang), candi Brahma, dan candi Wisnu. Sejak tragedi gempa jogja, 27 Mei 2006, ketiga candi penting itu justru tidak boleh dimasuki karena masih dianggap tidak aman bangunannya. Selain ketiga candi itu, ada pula candi Nandi, Andsa, dll. Candi-candi di kompleks candi Prambanan merupakan candi Hindhu terbesar di Pulau Jawa.

Perbaikan candi Prambanan tetap dilanjutkan terus menerus. Ketika kami berkunjung, ada dua candi yang sedang dalam perbaikan dan itu merupakan bukti bahwa candi Prambanan masih tetap diperhatikan.

Sementara itu di dekat candi Prambanan, berdiri tegak Candi Sewu. Candi Sewu terletak di dukuh Bener, Bugisan, Kecamatan Prambanan.
Candi Sewu termasuk candi yang berlatar belakang agama Bundha. Kompleksnya cukup luas dan di sekitar situlah kami beristirahat sejenak sambil menikmati indahnya panorama pegunungan.

Candi Plaosan merupakan candi terakhir yang kami kunjungi. Candi Plaosan itu terletak di desa Plaosan, Yogyakarta. Candi Plaosan merupakan hasil akulturasi dari candi Hindu dan candi Budha. Bangunan yang di sekitar itu cukup besar dan banyak yang terpisah. Dan di situ pula hujan deras turun sehingga perjalanan kami hanya sedikit menelusuri candi Plaosan.

Nah, setelah berkeliling-keliling dan meniti jejak peradaban candi-candi peninggalan Mataram kuno, kami mengakhiri acara tersebut dengan penutupan di BKPB. Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih.

Oleh: Fikalis Rendy A. dan Christoporus Yudha