Website Resmi Seminari Menengah St Petrus Canisius Mertoyudan  - Semoga bisa memberikan informasi yang berguna mengenai kegiatan Seminari - Terima kasih atas kunjungan anda. Saran dan masukan yang bersifat membangun akan kami terima dengan senang hati

Pencarian

Kata kunci :

 


Polling

Mohon pooling anda untuk web ini untuk pengembangan dimasa mendatang.

 Bagus
 Cukup
 Kurang


Incoming Event

Belum ada event



PSB 2017/2018

on





24 Juli 2015

Fides quaerens intellectum

Ketika tanggal 27 Mei 2015 yang lalu Ibu Karlina mengajak kita untuk belajar bersama, kita banyak bertanya tentang diri kita, proses formatio kita, dan pemahaman yang kita punya. Banyak hal dalam diri kita merupakan pertanyaan. Kita pun diajak untuk memahami jati diri kita sabagai orang beriman Kristiani bahwa justru iman kita memanggil kita untuk semakin menuju pada Sang Kebenaran Abadi. Iman dan ilmu yang membutuhkan nalar untuk mengusahakannya tidaklah bertentangan. Iman yang semakin mendalam mampu mempertanggungjawabkan ilmu. Orang yang berilmu selayaknya tidak meninggalkan siapa yang menganugerahkan akal budi sebagai sebuah sarana mencapai pada Kebenaran Abadi. Ia tidak sombong hanya karena kepandaiannya.




24 Juli 2015

KEDALAMAN SANCTITAS MENGGERAKKAN HIDUP SANITAS - SCIENTIA

Dengan rendah hati Rektor mengulang Lectio Brevis tahun sebelumnya (2014). Repetisi ini dilakukan agar arah kemendalaman Sanctitas (kerohanian) mampu mendasari serta menggembangkan pilar Sanitas - Scientia dalam perjalanan formasi di Seminari. 




10 September 2014

STUDI sebagai Latihan KEUTAMAAN (Virtus)

Studi, Motivasi Awal, dan Disiplin

Melanjutkan tema “Menjadi Sang Pembelajar”, kita masuk ke dalam sebuah proses formatio calon imam. Salah satu syarat menjadi imam adalah mampu menjalani proses pengolahan intelektual yang lama agar jadi pribadi yang berdaya tahan. Di seminari ini kita mempunyai dimensi SSS: Sanctitas, Sanitas, dan Scientia. Dimensi intelektualitas diseimbangkam dengan dimensi kerohanian dan kesehatan pribadi. Dimensi intelektualitas harus dan selayaknya berdiri bersama dengan kesehatan pribadi secara utuh. Lemah dalam hal studi dapat menjadi salah satu faktor untuk melihat situasi panggilan walau tidak sepenuhnya dari indikasi ini. Di sinilah studi membutuhkan kedisiplinan.

Disiplin berasal dari bahasa Latin “discipulus” yang berarti murid. Arti kata ini berkembang di abad pertengahan dan dipakai oleh para rahib/pertapa di daratan Eropa-Afrika Utara menjadi “disciplina” yang berarti segala alat untuk mendisiplinkan diri. Misalnya kalung duri dari besi yang dililitkan di perut atau paha agar seorang rahib tetap fokus pada kehidupan rohani dan komunitas. Ada juga cambuk untuk mencambuki diri kalau dia jatuh dalam godaan duniawi dan menjadi sarana penitensi diri untuk kesalahan yang diperbuatnya. St Aloysius Gonzaga masih menerapkan hal ini ketika dia menjadi seorang frater. Ia tidak ingin dikuasai oleh godaan duniawi (Bdk. Joseph N. Tylenda SJ, 1993).

Di sini sebenarnya mau dikatakan bahwa disiplin adalah melekat dan menjadi jati diri kita sebagai seorang murid. Oleh karena itu, kedisiplinan bukan barang asing bagi diri kita yang berniat belajar alias menjadi seorang murid.

 

Studi: TEDUH (TEnang, DUduk, Hening)

Prinsip dasar dalam latihan di seminari ini adalah kemauan keras untuk tenang, duduk dan hening. Silentium adalah sarana belajar itu sendiri. Tanpa hal itu, studi tidak terjadi sebagaimana mestinya. Semua yang dilakukan manusia itu pada dasarnya ada latihannya. Tanpa latihan orang tak berkembang ke arah yang lebih baik. Semakin kompleks struktur kehidupan makhluk hidup, semakin lama dibutuhkan waktu untuk latihan/belajar hidup. Oleh karena itu, berdasar  apa yang menjadi jati diri kita, latihan keutamaan itu butuh motivasi dan disiplin diri.

Cara praktis untuk latihan itu jelas dapat terukur dan ada indikasinya. Pertama, ciptakan ketenangan dalam diri, duduklah di kursi belajar Anda. Kedua bangun sikap hening secara fisik dan mental lalu ambilah buku untuk dibaca. Buku yang dibaca adalah buku yang bermutu dan dipelajari, bukan novel atau komik. Tidak ada excuse atau dalih apapun untuk belajar. Di sinilah latihan kemurnian niat kita untuk sungguh-sungguh belajar itu terbangun. Para guru rohani zaman dulu mengatakan soal “intentio recta, anima pura” (maksud hati yang lurus, jiwa yang murni). Ingat bahwa Anda masuk ke Seminari Mertoyudan ini dengan motivasi menjadi imam. Anda perlu beradaptasi dengan sistem yang dibangun di sini lebih dari 100 tahun. Bukan sistem yang harus menyesuaikan dengan Anda tetapi sebaliknya. Pakailah jam studi untuk benar-benar studi, bukan bermain, ngobrol,  atau makan.

Membaca novel bukan berarti dilarang. Di sini perlu dilihat mana prioritas, membagi waktu, menjaga intensi. Membaca sebagai kegiatan rekreatif santai dan kegiatan serius belajar ada perbedaannya. Ada waktunya. Ada maksud yang diungkapkan. Kecenderungan kita adalah membolak balikkan waktu dan kesempatan yang sudah tertata menjadi campur aduk.

 

Studi: Sarana Menuju Keutamaan

Hidup mempunyai tujuan yaitu keselamatan jiwa raga, kata St Ignatius Loyola (Latihan Rohani 23). Lebih jelasnya tujuan manusia diciptakan adalah untuk memuji, memuliakan dan mengabdi Allah, dan dengan itu menyelamatkan dirinya dan orang lain. Barang ciptaan lain di dunia dipakai untuk membantu manusia mencapai tujuan ia diciptakan itu. Jika sarana itu menghalangi ia untuk mencapai tujuan, sarana tadi harus disingkirkan. Jadi sarana dipakai SEJAUH membantu ke arah tujuan. 

St Petrus Canisius pernah mengungkapkan kesaksian hidupnya demikian: “Di masa kecil dan remaja aku terpikat dalam pergaulan dengan teman-teman yang nakal, yang sayangnya dari mereka aku menyia-nyiakan waktu yang berharga: kesombongan, bicara tak pantas, dan tinggi hati. Dengannya aku melawan pimpinan, jika dia meminta, segala apa yang adil dan benar, aku dengan teman-teman sebaya segera menentangnya, mengabaikannya, dan malah mengolok-oloknya. Tidak jarang inisiatifnya berasal dariku dan menular pada yang lain....Aku tenggelam tidak hanya dalam omong kosong dan kepuasan lahir, tetapi juga tidak sabar atau enggan menjalani disiplin ketat, sesuatu yang sangat perlu bagi kaum muda, sehingga kami menyerupai anak-anak Allah.” (Testamentum Petrus Canisius yang didiktekan kepada Sigismund Illsung SJ terjemahan T. Krispurwana C, SJ, 2008).

Belajar dari keutamaan St Petrus Canisius, studi dipakai untuk mengolah kemampuan intelektualitas kita agar kita menjadi pribadi yang berkembang ke arah yang lebih baik. Studi dipilih dengan cara seperti yang kita punyai di Seminari ini karena kita sadar bahwa dengan kultur seperti ini membangun struktur keutamaan dalam hal refleksi, kepekaan akal budi, kritis, dan mampu melihat tanda-tanda zaman dengan lebih baik sebagai seorang seminaris. Dengan kata lain, latihan keutamaan bukan suatu hal yang hanya menekankan soal kesalehan belaka tetapi latihan menaklukkan diri dan mengatur hidup begitu rupa hingga tak ada kelekatan dalam hidup kita (bdk. Latihan Rohani 21). Dengan melatih diri belajar disiplin kita juga harus berani menanggalkan kelekatan untuk ramai, ngobrol, usil, cepat bosan, makan saat belajar, dan sebagainya.

Oleh karena itu, dalam memperkuat pembiasaan ini perlu ada pendampingan dari pamong/sub pamong, ada sarana studi dengan perpustakaan, dan guru pengajar. Sarana-sarana itulah yang harus kita pakai. Hal-hal lain itu tambahan.  Selamat belajar untuk hidup ! AMDG.

 

 

Pertanyaan-pertanyaan pendalaman:

  • Kendala atau kelemahan diri macam apa yang dapat menjadi hambatanku dalam menjalani aturan main di Seminari Mertoyudan terutama kedisiplinan, ketaatan, dan kesiapsediaanku sebagai keutamaan? Sebutkan dan jelaskan dalam permenungan dan refleksi Anda!
  • Di sini aku memakai sarana, ruang, dan waktu untuk mengolah kehidupan intelektualitasku. Bagaimana (1) aku selama ini memakai sarana belajar seperti waktu, perpustakaan, kelas, laboratorium, dsb dan (2) bagaimana aku seharusnya memakai saran belajar itu untuk mencapai tujuan?
  • Niat konkrit terukur (dapat dijalankan dan realistis dengan keadaan diriku) macam apa yang dapat kubuat selama setahun ini dalam pengolahan intelektualitas sebagai seorang seminaris?

 

Sumber-sumber:

  • Latihan Rohani St Ignatius Loyola, terjemahan yang diperbaharui dan disertai lampiran-lampiran oleh J. Darminta SJ, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1993.
  • “Mengenal Jejak dan Pewartaan Iman Petrus Kanisius,” Internos Cetak, terjemahan Geistliche Texte SJ Nr. 19 [1997] oleh T. Krispurwana Cahyadi, SJ, 2008.
  • N. Tylenda, Joseph, Para Kudus dan Martir Serikat Yesus 2 April-Juni, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1993.

 

Mertoyudan, Pada Peringatan St Yoakhim dan St Anna, 26 Juli 2014

 

 

Y. Alis Windu Prasetya, SJ

Direktur/Kepala Sekolah





10 September 2014

Ngurip-urip, Ngrumat, Nggemateni (Lectio Brevis Pamong Umum)

“Barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia sama sekali tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.” (Mat 10:42) 

 

Kerja belum selesai. Kita masih berada dalam tahap membangun rumah. Di awal tahun lalu, rumah yang kita idam-idamkan adalah ‘rumah remaja Samaria yang baik hati’. Di awal tahun lalu saya mengatakan dalam Lectio Brevis Pamong Umum mengenai gambaran kebaikan Orang Samaria: “…  hatinya penuh belas kasihan. Ia dengan tergesa menjumpai yang terluka. Ia menyiram luka dengan anggur dan minyak, ia balut luka itu. Ia naikkan si terluka ke keledainya. Ia mau berjalan menuruni bukit terjal. Ia bayar penginapan dan merawat si terluka di situ. Ketika ia pergi untuk sementara waktu, ia yakinkan bahwa ia pasti akan kembali dan orang tidak perlu menjadi khawatir. […] semoga rumahku dipenuhi dengan anak remaja Samaria yang baik hati, yang tahu merawat saudara-saudarinya.” Rumah yang sedang kita bangun adalah rumah yang dipenuhi dengan remaja-remaja Samaria yang tahu merawat saudaranya.

Beruntunglah bahwa Firman Tuhan pada tanggal 14 Juli 2014, di hari pertama kita memulai peziarahan kita di Seminari Mertoyudan ini, membantu kita untuk lebih memahami apa artinya ‘merawat saudara’. Tuhan Yesus berkata, “Barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia sama sekali tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.” (Mat 10:42). Mari kita pahami Firman Tuhan itu bersama-sama.

1. Air sejuk secangkir. Merawat saudara ternyata bukanlah pekerjaan yang rumit-ribet atau sulit. Merawat saudara adalah jalan sederhana, a simple path. Tuhan Yesus, Guru kita, memang pribadi yang menakjubkan justru karena ia selalu menawarkan jalan-jalan sederhana untuk menyatakan kebaikan dan kemurahan hati Allah Bapa. Di saat dunia rebut-ribut kekuasaan, uang dan ketenaran, ia berbicara mengenai secangkir air sejuk. Ia menghargai sebuah pekerjaan yang di mata dunia sama sekali tidak penting yaitu kebaikan hati yang tersimpan di dalam secangkir air sejuk. Ia menjanjikan imbalan pada mereka yang mau memberikannya. Ia tidak akan melupakan itu sama sekali.

2. Yang kecil selalu ada di hati terdalam Allah. Ia tidak berubah. Dari sejak zaman Perjanjian Lama sampai di millenium ketiga ini. Hati Allah tertambat pada janda-janda tua, anak yatim dan kaum papa. Di Perjanjian Baru Tuhan Yesus Kristus tidak hanya dekat dengan mereka melainkan  mengidentifikasi diri dengan kaum papa miskin yaitu yang haus dan lapar, yang telanjang, orang asing, mereka yang sakit atau dipenjara. Yesus Kristus ada dalam diri mereka. Mereka yang kecil tidak hanya ada di panti-panti asuhan, di pabrik-pabrik, di pinggir-pinggir jalan yang sibuk. Kalau Tuhan sayang pada kita, ia akan mendekatkan kita kepada mereka dan itu berarti mereka ada di dekat kita. Itu berarti mereka ada di rumah kita ini. Mereka ada di sini. Mereka mungkin adalah kita.

3. Karena ia murid-Ku. Pada waktu Pater Provincial Jesuit, Rm. Riyo Mursanto SJ berkenan untuk berkunjung ke seminari ini di tahun yang lalu, beliau menegaskan bahwa Seminari Mertoyudan adalah komunitas para murid Yesus Kristus. Satu-satunya alasan mengapa kita berada di tempat ini adalah cinta Tuhan yang sangat besar kepada kita sehingga ia mau melibatkan kita dalam pekerjaan besarnya yaitu dalam tugas misi, pewartaan Kabar Gembira. Merawat saudara di seminari ini adalah pekerjaan kecil yang dikehendaki-Nya. Sebenarnya Dialah yang care pada jiwa-jiwa. Kita hanyalah perpanjangan tangan dan hati-Nya. Maka dari itu segala pekerjaan kita di sini, terutama upaya kita untuk saling merawat satu sama lain, kita kerjakan atas nama Dia.

4. Tidak akan kehilangan upah sama sekali. Tuhan Yesus adalah majikan yang baik. Ia tidak akan membiarkan para pekerjanya yang rendah hati pergi tanpa mengantungi upah. Upah bagi para murid yang ada dalam proyek misi Yesus Kristus adalah sukacita yang penuh. Sukacita ini adalah buah dari ketaatan akan perutusan Yesus Kristus yaitu mengasihi dan merawat saudara. Tuhan mengatakan: “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku […]. Semua itu Ku-katakan kepadamu supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintah-Ku yaitu supaya kamu saling mengasihi seperti Aku telah mengasihi kamu.” (Yoh 15:10-11)

Saudara-saudariku sekomunitas, tahun ini kita mau setia dengan tugas perutusan itu yaitu merawat saudara-saudari sekomunitas. Itulah perutusan Yesus Kristus yang sudah berada di tangan kita, para murid-Nya. Itulah juga yang menjadi sebab utama mengapa kita berhak mengalami sukacita yang penuh. Ada dua pilar yang perlu kita dirikan supaya niat kita kokoh yaitu sikap hormat pada saudara-saudari sekomunitas dan rasa tanggung-jawab atas pertumbuhan mereka menjadi orang Samaria yang baik hati.

Saudaraku, para calon imam masa depan, semoga kalian lebih mencintai Yesus Kristus di tahun yang baru ini dengan cara-cara sederhana, sesederhana secangkir air sejuk yang kita berikan pada saudara kita.

 

Salam Ngurip-urip, Ngrumat, lan Nggemateni!

 

Rm. Ag. Suryonugroho pr

Pamong Umum

 

 

Pertanyaan refleksi:

1.   Siapakah yang dimaksud dengan ‘salah seorang yang kecil ini’ dalam komunitas Seminari Menengah Mertoyudan ini?

2.   Perbuatan konkret seperti apa yang dapat disamakan dengan ‘memberikan secangkir air sejuk’ di dalam lingkup komunitas kita ini?

3.   Di waktu lalu, apakah kamu bangga dengan sikap hormat dan rasa ikut bertanggung-jawab terhadap saudara sekomunitas? Mengapa bangga atau tidak bangga?




10 September 2014

Non Multa sed Multum (Lectio Brevis Rektor 2014)

  1. A.   Inspirasi Sabda : Lukas 5: 2-6

Dikatakan dalam Injilnya demikian : “ Yesus melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jala. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahuanya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: ”Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab: ”Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.

B. Masuk ke Kedalaman Hidup

Yesus memilih masuk ke perahu Simon. Ya, Ia naik ke atas perahu Simon yang disebutnya Petrus itu, bukan ke perahu yang lain. Lalu Ia berkata kepada Simon: ”Bertolaklah ke tempat yang dalam”. Siapakah Simon ini, sehingga Yesus memilih perahu miliknya? Tentu orang tahu siapa Simon. Ia adalah pribadi batu karang (Petrus). Ia orang yang keras kepala, tidak mudah diatur atau disuruh ini-itu, temperamental, kokoh kalau punya keinginan. Tak seorang pun dapat meredam kemauannya. Namun di hadapan Yesus, ia tidak mampu menolak atau berkelit. Dapat dibayangkan, Simon masih capek karena baru semalaman pulang dari menjala, ia ingin santai setelah bekerja namun Yesus menyuruhnya untuk bertolak ke dalam dan ia pun berani meninggalkan kemalasan untuk bergegas berangkat.

Sangat mungkin, hati Simon dipenuhi rasa berontak. Mengapa berontak? Karena, semalam-malaman ia telah bekerja keras mencari ikan, dan ia tidak mendapatkan apa-apa. Namun di tengah rasa berontak, marah  dalam kelelahan fisiknya ia melakukan apa yang disuruh oleh Yesus. Ia masih dapat memprioritaskan dan taat pada Yesus. Simon mau diubah oleh Yesus untuk mengalahkan dirinya pergi bersama Yesus menuju ke tempat yang lebih dalam.

C.Refleksi dalam Panggilan Hidup?

Saat inipun Yesus sedang memilih dan ingin masuk dalam perahu hidup kita. Yesus yang memilih, bukan kita. Yesus mengenal betul pribadi Kita dan mengajak kita untuk pergi masuk ke tempat yang lebih dalam. Akankah kita menolak? Akankah kita mengatakan bahwa cukuplah saya hidup di permukaan, yang dangkal dan nyaman-nyaman saja? Atau apakah kita berani menyongsong tantangan dan berani berubah untuk mengembangkan kemendalam hidup kita? Apakah dengan tantangan itu kita mudah menyerah pada kemalasan dan kemanjaan fisik? Ataukah sebaliknya kita berani masuk ke kedalaman formasi dan siap dibentuk di seminari ini ?

D. Kedalaman Hidup Seminaris

Kemajuan perkembangan jaman dan teknologi melahirkan kemudahan-kemudahan hidup. Tawaran kehidupan disekitar kita memberikan suatu tawaran yang menyenangkan sesaat. Kehidupan ini dirasa serba mudah, cepat, copy paste, narcis, dan serba instan. Selain itu, kehidupan orang muda mudah ditandai dengan daya juang yang lemah. Sesuatu yang penting telah dilupakan hanya untuk mengejar sesuatu yang menyenangkan sesaat. Orang bercita-cita tinggi dan ingin berprestasi namun mudah lupa diri. Menghadapi tawaran itu, cara bertindak Seminaris diuji untuk mampu mengatisipasi. Kehidupan seminaris (calon imam) harus unggul dan mendalam agar tidak mudah tergoyahkan oleh kemudahan-kemudahan tawaran jaman.

E. Mendalamam = Berani Berproses secara Utuh dan Seimbang

Lembaga pendidikan calon imam di Seminari ini dipanggil untuk membantu seminaris agar sungguh-sungguh berkomitmen membangun pribadi berkarakter. Seseorang disebut berkarakter bilamana ia mempunyai pengetahuan, perasaan, dan tindakan yang integral, utuh dan seimbang. Seminaris dikatakan berkarakter mendalam apabila mempunyai perpaduan antara pikiran, hati, dan perbuatan untuk mewujudkan kebaikan. Menjadi pribadi berkarakter ibaratnya seperti mutiara. Ia harus berani berproses dan dibentuk setiap hari tanpa menyerah. Ia harus melakukan dan memperjuangkan nilai-nilai keseminarian yaitu Sanctitas, Sanitas dan Scientia secara utuh dan seimbang. Artinya ketiga (SSS) harus kokoh menjadi pilar utama dalam hidup. Maka tidak ada alasan lagi seminaris hanya pandai disekolah tetapi lemah dalam komunitas. Seminaris maju di bidang IFO/Musik tetapi lemah dalam kerohanian. Seminaris pandai dalam berbicara tetapi lemah dalam bertindak (orang hanya omong doang), tidak disiplin, tidak tertib dan tidak menghormati sesamanya.  Seminari ini membentuk pribadi yang mau berproses, utuh dan seimbang.

F. Penutup

Akhirnya menjadi pribadi yang mendalam adalah pilihan. Mari kita bertolah ke tempat yang lebih dalam dan memilih segala sesuatu secara lebih berkualitas. Bukan banyaknya namun yang lebih penting adalah kualitasnya (Non Multa sed Multum). Dan semua pilihan itu harus nyata tampak dalam hidup dan tindakan kita. Sebagai penutup saya mengajak untuk mendalami Lectio Brevis ini dengan Permenungan :

  1. Apakah aku merasakan bahwa Yesus hadir dalam ‘perahu’ hidupku?
  2. Tanggapan Apa yang akan kulakukan pada Dia?
  3. Sebagai pribadi (Seminaris, Staf, Guru, Karyawan), komitmen (SSS) apa yang akan kulakukan dan kuperjuangkan?
  4. Bagaimana aku mewujudkan komitmen itu (konkrit) dalam hidup harianku?

Semoga Tuhan memberkati apa yang kita pilih secara baik dan berkualitas. AMDG......

 

Pada Pesta St.Yohanes Maria Vianney, 4 Agustus 2014.

 

TB.Gandhi Hartono,SJ  

Rektor