Kebijakan Cangkem

Selasa, 13 Desember 2022
PW St. Lusia (Perawan dan Martir)
Bacaan Injil: Mat 21:28-32

“Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga” (Mat 21:30)

Saudari/a ku ytk.,
Dalam salah satu wawancaranya, Seniman Butet Kartaredjasa mengungkapkan agar kita hati-hati dengan pemimpin yang hanya bisa membuat “kebijakan cangkem”. Seorang pemimpin harus juga bisa membuat kebijakan real, yaitu kebijakan yang nyata dalam tindakan. Tidak hanya pandai menata kata, tetapi juga harus trampil menata kota.

Dalam Perumpamaan Injil pada peringatan wajib Santa Lusia hari ini ditampilkan 3 karakter, yakni ayah, anak sulung, dan anak bungsu.

Karakter ayah mendatangi ke-2 anaknya dan ia mengatakan hal yang persis sama, yakni, “Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur”. Jadi sang ayah tidak mengharapkan banyak hal, ia ingin hari itu ada yang pergi untuk bekerja di kebun anggurnya dan ia meminta anaknya melakukan pekerjaan itu.

Anak sulung menyanggupi, tetapi tidak melakukannya. Nggih nggih ning ora kepanggih. Si bungsu awalnya menolak, tetapi kemudian menyesal dan mau melakukannya.

Apa relevansinya untuk kita dalam konteks masa kini? Tuhan tidak butuh orang-orang yang hanya berkata “Ya, Tuhan” tetapi tidak mau melangkah. Seringkali Tuhan memanggil orang-orang percaya untuk melakukan sesuatu bagi Tuhan, tetapi banyak orang percaya yang hanya berkata “Ya” tetapi tidak mau.

Di sisi lain, juga banyak orang percaya yang jelas-jelas menolak panggilan penuh dengan pertimbangan semisal, “Tuhan, kalau aku jadi pengurus Dewan Pastoral Paroki full time nanti anak-anakku makan apa?” atau “Tuhan, aku masih tidak pantas menjadi prodiakon atau ketua lingkungan, nanti saja kalau aku sudah pantas, baru aku melayani di gereja dech”.

Tuhan butuh tindakan nyata dari kita semua. Tuhan butuh kesiapsediaan dan komitmen kita, bukan kehebatan kita yang bisa ini bisa itu. Kita dipanggil menjadi “cahaya” dalam kata dan tindakan nyata. Tidak hanya pandai merangkai dan menata kata, tetapi juga trampil melakukan tindakan nyata.

Itulah yang diteladankan Santa Lusia hari ini. Lusia artinya cahaya. Semenjak usia remaja, Lusia sudah berkomitmen mengabdi Tuhan untuk hidup suci murni. Ia berjanji tidak menikah. Namun ketika sudah besar, ibunya mendesak dia agar mau menikah dengan seorang pemuda kafir.

Ketika diminta mengingkari imannya, ia pun menolaknya dengan tegas. Demi imannya yang gigih, ia ditangkap, disiksa dan dibunuh. Seorang algojo memenggal kepalanya, sehingga Lusia wafat sebagai martir Kristus pada 13 Desember 304.

Lusia dihormati di Roma (di Sisilia) sebagai perawan dan martir yang sangat terkenal sejak abad ke-6. Untuk menghormatinya, dibangunlah sebuah gereja di Roma.

Karena namanya berarti ‘cahaya’, maka pada Abad Pertengahan orang berdoa dengan perantaraannya memohon kesembuhan dari penyakit mata.

Pertanyaan refleksinya, seberapa sering Anda menjadi cahaya bagi sesama di sekitar? Bagaimana komitmen Anda melayani Tuhan, GerejaNya dan bangsa kita?

Semoga Tuhan memberkati dan menyembuhkan Anda yang sedang sakit. Semoga berkat doa Santa Lusia, Anda yang sakit mata diberi kesembuhan.

Proficiat dan selamat berpesta pelindung bagi Anda yang bernama Lusia/Lucia. Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli-Semarang). # Y. Gunawan, Pr

Similar Posts

  • Diberi Kesempatan Hidup Lebih Baik

    Percik Firman: Diberi Kesempatan Hidup Lebih BaikSabtu, 24 Oktober 2020Bacaan Injil : Lukas 13:1-9 “Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya” (Luk 13:8) Saudari/a ku ytk.,Ada seorang yang hidupnya pernah tidak baik, ugal-ugalan, dan suka mabuk. Orangtuanya sudah mengingatkan berkali-kali. Tetapi tidak digubris. Suatu kali dia…

  • Bersatu dengan Yesus

    Percik Firman: Bersatu dengan YesusKamis, 28 Mei 2020Novena Roh Kudus Hari ke-7Bacaan Injil: Yoh 17:20-26 “Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku” (Yoh 17:24) Sdri/a yang terkasih,Komuni adalah salah satu kesempatan kita bersatu dengan Kristus. Caranya dengan menyambut Tubuh Kristus dalam perayaan Eakristi. Sejak adanya wabah Covid-19, terjadi kebijakan ditiadakannya…

  • Kekuatan Sapaan yang Tulus

    Percik Firman: Kekuatan Sapaan yang TulusMinggu Adven IV, 19 Desember 2021Bacaan Injil : Luk 1: 39-45 Saudari/a ku ytk.,Kalau ada dua wanita yang sedang mengandung atau hamil bertemu, kira-kira apa yang diomongkan yach? Karena saking kepo nya, saya pernah bertanya kepada beberapa ibu. Jawaban yang bermunculan pun cukup bervariasi. Ada yang saling ngomongin : berapa…

  • Kerasukan Setan

    Percik Firman: Kerasukan SetanSelasa, 1 September 2020Bacaan Injil: Luk 4:31-37 “Seorang yang kerasukan setan itu berteriak dengan suara keras: Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah” (Luk 4:34) Saudari/a ku ytk.,Pada suatu hari ada seorang bruder yang bercerita kepada saya. Ia mempunyai kenalan seorang bapak non Katolik yang menjadi ‘dukun’, yang sering didatangi banyak…

  • Ora et labora

    Percik Firman: Ora et laboraRabu, 17 Maret 2021Bacaan Injil : Yoh 5:17-30 Saudari/a ku ytk.,Beberapa tahun yang lalu saya pernah datang ke gereja Katedral Jakarta. Saya melihat ada seorang bapak tua sedang bekerja di dalam gereja itu. Ia seorang diri menyulam atau merajut kursi umat dari rotan. Beberapa kursi memang sudah rusak. Dengan diterangi lampu…