Kegiatan ini merupakan ajang sebagai penguat pemberdayaan siswa dalam minat baca. Perpustakaan SMA Seminari St. Petrus Canisius Mertoyudan selalu memberikan kesempatan kepada seluruh siswa seminaris untuk terus menggali dalam minat baca. Salah satu kegiatan yang diadakan adalah lomba resensi buku. Menurut Ibu Fransisca Liana selaku petugas Perpustakaan SMA Seminari mengungkapkan bahwa“Lomba resensi buku itu perlu karena dengan menulis resensi buku kita dapat membiasakan diri untuk dapat membaca, memperkaya bahasa dan untuk belajar dalam mengarang” ujarnya.

            Lomba resensi buku tahun 2019, dimenangkan oleh 3 para seminaris yaitu: Alfonsus Stanley Eka Putra dari XI IPA dengan sumber buku yang bertajuk Gadis Pantai, Christofer Edgar Liauwnardo dari XI IPA dengan sumber buku yang bertajuk Sukacita Dalam Panggilan dan Bagas Sugiharto dari XI IPA dengan sumber buku yang bertajuk Gadis Pantai.

            Dalam lomba ajang ini diharapkan selurah warga seminaris dapat selalu menguatkan terus dalam minat bacanya. Berikut salah satu hasil karya lomba resensi buku dari ketiga pemenang:

  1. Resensi buku karya Alfonsus Stanley Eka Saputra

Gadis Pantai             : Wajah Iblis Feodalisme Jawa

Alfonsus Stanley Eka Putra / XI IPA

Judul                          : Gadis Pantai

Pengarang                : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit                    : Lentera Dipantara

Tahun terbit             : 2007 (cetakan ke-4)

 Tebal                         : 272 halaman

Gadis Pantai adalah sekuel pertama dari trilogi roman keluarga. Buku ini menjadi satu-satunya karya yang tersisa, karena dua karya lanjutan hilang akibat diberangus rezim Orde Baru. Beruntung, Universitas Nasional Australia (ANU) di Canberra berhasil mendokumentasikannya,  sehingga kita bisa menikmatinya sekarang.

Gadis Pantai adalah tokoh sentral dalam kisah ini. Ia adalah seorang gadis belia yang harus meninggalkan kampung halamannya untuk berpindah ke kota dan menjadi wanita utama atau lebih akrab dipanggil Mas Nganten− wanita pendamping Bendoro sebelum ia mampu menemukan pasangan yang sederajat dengannya. Pada mulanya, ia merasa frustasi dengan keadaan yang begitu kontradiktif dengan kehidupannya sebelumnya – kehidupan yang terkurung di rumah sendiri, tanpa kawan yang sederajat dengannya, dan tidak leluasa mengekspresikan diri. Karena kondisi yang terus menghimpitnya, lama kelamaan tata hidup priyayi mulai tumbuh dalam dirinya.

Kepriyayian yang begitu didambakan oleh “orang kebanyakan”− demikian Pram mengistilahkannya− membuatnya disanjung setinggi langit sekaligus menimbulkan jurang pemisah dengan “orang kebanyakan”, bahkan sanak dan keluarganya. Kepriyayiannya jugalah yang mencegahnya melakukan berbagai pekerjaan yang sebelumnya sudah menjadi makanan sehari-hari baginya. Akan tetapi, prestise tersebut tak bertahan lama, kuasa priyayi jugalah yang menghempaskannya dan mengubur kebahagiaan dan masa depan indahnya.

Roman yang telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing adalah bukti dari tangan dingin dari Pramoedya Ananta Toer. Kegemilangan karya sastranya dalam roman Gadis Pantai memberikan gambaran yang jelas dan gamblang mengenai kebudayaan dan kehidupan sosial masa lampau. Perkawinan usia belia terlihat dalam karya ini. Bagaimana kehidupan Priyayi Jawa yang dapat bertindak sesuai keinginan hatinya− bahkan bertindak di luar adab dan martabat− memberikan gambaran kepada kita bahwa praktik feodalisme Jawa tak kalah biadabnya dengan kelakuan para pembesar kolonial kala itu.

Selain substansi yang sudah baik dan mendalam, Pram pun mampu mengemas ceritanya dengan sangat baik. Bahasa yang cukup mudah dipahami tentunya memanjakan para pembaca dalam menikmati karyanya. Selain itu, penggambaran yang begitu rinci dan permainan diksi yang indah mampu menghidupkan kisah tersebut dalam imajinasi para pembaca. Jalannya kisah juga terasa tidak membosankan karena perpaduan teks naratif dengan dialog sangat tepat, juga selingan syair indah, sehingga kesan monoton hilang dari benak pembaca. Tak hanya itu, kemunculan konflik yang proporsional dalam kisah membuat pembaca tidak merasakan datarnya cerita. Pihak penyusun dan pencetak buku juga menambah baiknya roman ini. Ilustrasi yang ditempatkan di halaman depan mampu membantu pembaca dalam membayangkan tokoh dengan penokohan yang memegang peranan penting dalam kisah tersebut. Tidak hanya itu, penyusunan margin yang tepat dan enak dibaca semakin memanjakan pembaca untuk masuk dalam kisah tersebut.

Buku ini juga memiliki kekurangan. Dari segi fisik, buku ini menggunakan kertas berwarna putih yang mungkin bagi sebagian orang kuran nyaman dibaca karena sudah terbiasa membaca buku dengan kertas berwarna kuning kecoklatan. Ada bagian pengantar yang terlalu kompleks sudah mampu menggambarkan seluruh kisah. Hal ini menimbulkan orang tidak lagi berminat membaca karena sudah tahu jalan dan akhir cerita. Dari segi jalannya cerita terdapat sedikit kerumpangan antara bagian ketiga dan keempat. Tentunya seorang pengarang bebas menempatkan time skip-nya. Akan tetapi, time skip bagian ketiga dan keempat kurang tepat karena ada bagian yang bila diceritakan sebenarnya dapat memicu konflik, sehingga dapat menambah keseruan kisah, namun bagian tersebut tidak ada. Selain itu, ada satu peristiwa yang sebenarnya kurang wajar bila dinalar dan kontradiktif. Dalam cerita tersebut digambarkan orang-orang kampung nelayan memiliki tingkat pendidikan yang rendah dan begitu mudah percaya pada sugesti yang belum terbukti kebenarannya. Namun, dalam penggalan cerita selanjutnya digambarkan bahwa para nelayan tersebut mampu menciptakan intrik dan mengelabuhi orang-orang kota yang memiliki niat tidak baik terhadap Gadis Pantai.

Roman ini sangat cocok bagi hampir semua usia yang ingin mengenal kehidupan sosial budaya masa lampau. Akan tetapi, anak  di bawah umur kurang tepat membaca roman ini karena di dalamnya terdapat kekerasan dan kata-kata yang belum patut dikenal oleh mereka. Bacaan yang baik, namun batasan umur tetap perlu menjadi perhatian yang serius.

Jika roman ini sudah sampai didokumentasikan oleh Universitas Nasional Australia (ANU), hal ini menjadi isyarat akan kegemilangannya. Bila orang luar negeri telah mengapresiasinya, lalu apakah yang akan dilakukan oleh kita? Akankah orang asing jauh lebih mengenal kehidupan para pendahulu kita dibanding kita sendiri? Marilah kita mencintai dan semakin mengenali asal-usul kita dengan membaca roman ini.