Percik Firman: Sambutan yang Ramah
Rabu, 29 Juli 2020
PW Santa Marta
Bacaan : Lukas 10:38-42

“Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan ke Yerusalem, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya” (Luk 10:38)

Saudari/a ku ytk.,
Pada suatu hari kami para rama yang berkarya di Paroki Banyumanik meluangkan waktu pergi berziarah ke Taman Doa Bunda Maria Fatima di Ngrawoh, Sragen. Kemudian berlanjut ke Gua Maria di Tawangmangu. Pulangnya kami mampir ke Pertapaan “Triniji Suci”, tempat bertapa Rama Martin Suhartono di lereng Gunung Lawu.

Meski tidak janjian terlebih dahulu, Rama Martin menyambut kami bertiga dengan ramah. Beliau bersharing banyak hal tentang kehidupan di pertapaan yang dijalaninya, termasuk sosialisasi dengan warga desa dan pondok pesantren di dekat pertapaan. Bahkan kami diajak berdoa bersama di kapel pertapaan.

Sebelum pulang, kami diajak berdoa mohon perlindungan pada Bunda Maria. Saya senang karena secara khusus saya didoakan dan diberkati Rama Martin. Di tengah kebun pertapaan, ada patung Bunda Maria yang memakai sandal jepit, diletakkan di atas pohon bercabang tiga. Pohon itu diberi nama pohon Triniji Suci.

Dalam bacaan Injil pada Peringatan Wajib Santa Marta hari ini, Tuhan Yesus mampir ke rumah Marta di kampung Betania. Waktu itu Tuhan Yesus dan para murid-Nya sedang dalam perjalanan menuju ke Yerusalem.

Nama ‘Betania’ berasal dari bahasa Aram Ibrani (bahasa Ibrani: beit-te’enah, beit berarti rumah; te’enah berarti pohon ara), artinya: rumah dari (pohon) ara. Kampung Betania memang dekat Yerusalem. Jaraknya sekitar 2 mil dari Yerusalem dan terletak 1,5 mil (sekitar 2,4 km) di lereng sebelah tenggara dari Bukit Zaitun.

Saat Yesus mampir, Dia disambut dengan ramah, hangat dan penuh sukacita oleh keluarga Marta-Maria. Mereka berdua menyambut Yesus dengan caranya masing-masing secara khas. Marta menyibukkan diri untuk mempersiapkan segala hidangan (makanan-minuman). Sedangkan Maria dengan nyaman menyambut Yesus melalui kerinduannya mendengarkan ajaran Tuhan Yesus.

Meski bentuk dan cara penyambutannya berbeda, tetapi keduanya mau menunjukkan sikap ramah penuh persaudaraan atas kedatangan Tuhan Yesus di rumah mereka. Di sana terjalin suasana persaudaraan, keakraban, dan kehangatan. Yang mampir merasa senang, dan yang dikunjungi juga senang.

Dalam tradisi mampir itu, terkandung nilai luhur, yakni keramahan dan persaudaraan. Silahturahmi terjalin. Persaudaraan terbangun. Satu sama lain bisa saling menguatkan. Itu pula yang digambarkan dalam bacaan Injil hari ini.

Dalam masyarakat Jawa, kita mengenal ungkapan “Urip ing donya iki mung mampir ngombe”. Artinya, hidup di dunia hanya sementara. Manusia hidup di dunia ini adalah ‘mampir ngombe’ (mampir/singgah untuk sekedar melepas dahaga). Hal ini menggambarkan bahwa dunia ini hanya tempat persinggahan yang sementara.

Meski hanya mampir, tetap ada tugas misi yang harus dijalankan, seperti Tuhan Yesus lakukan di rumah Marta-Maria, yakni bagaimana kehadiran kita membawa sukacita dan memberikan peneguhan satu sama lain. Seberapa lama kita mampir (hidup di dunia) tidak penting. Yang lebih penting, apa yang kita lakukan selama mampir ini dan bagaimana kita memaknai serta mengisi hidup di dunia ini.

Pertanyaan refleksinya, bagaimana sikap Anda jika ada orang yang mampir ke rumah atau komunitas Anda? Bagaimana Anda mengisi (memaknai) hidup Anda di dunia yang hanya sementara ini? Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bumi Mertoyudan.

# Y. Gunawan, Pr