Luar biasanya Energi Sukacita

Percik Firman: Luar biasanya Energi Sukacita
Minggu Prapaskah IV, 27 Maret 2022
Bacaan Injil: Luk 15:1-3.11-32

Saudari/a ku ytk,.
Hari ini kita memasuki Minggu Prapaskah IV yang dikenal sebagai Minggu Laetare (Minggu Sukacita). Minggu Sukacita ini disimbolkan dengan warna liturgi dari warna ungu menjadi warna merah jambu (pink). Dalam Minggu Laetare ini, Gereja mengajak kita untuk bersukacita karena kita sudah separuh jalan menjalani masa Puasa dan Pantang (Masa Prapaskah).

Minggu Laetare mengingatkan kita bahwa Masa Prapaskah merupakan simbol perjuangan kita di dunia untuk mencapai sukacita abadi yang dilambangkan dengan Paskah. Sukacita abadi kita peroleh berkat kehidupan, wafat, dan kebangkitan Tuhan Yesus. Minggu Laetare ini memberikan kepada kita semangat untuk menyelesaikan Masa Prapaskah ini dengan sukacita rohani yang besar.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan perumpamaan Yesus tentang anak yang hilang atau bisa juga Bapa yang penuh kasih sayang. Sang Bapak bersukacita karena anaknya bungsu yang hilang sudah pulang kembali. Atas kepulangan anaknya, sang bapak mengadakan syukuran dan pesta sukacita.

Anaknya dipakaikan cincin, sepatu, dan jubah yang indah. Selain itu, para hambanya diminta untuk menyembelih anak lembu tambun. “Ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan mari kita makan dan bersukacita”, kata sang bapak.

Cincin merupakan lambang otoritas atau hak yang sepenuhnya diberikan kembali kepada anak bungsu sebagai pewaris sah atas kekayaannya. Sepatu menjadi tanda bahwa anak bungsu bukan budak, tetapi orang merdeka.

Dengan memberikan jubah terbaik, bapak itu mau mengungkapkan bahwa dia menerima sepenuhnya si bungsu sebagai anaknya lagi. Perintah ini secara tidak langsung juga sebagai permintaan kepada para hamba agar menerima kembali anaknya tanpa syarat sebagai majikan dan memberikan hormat yang sepantasnya.

Akhirnya, bapak itu memerintahkan untuk menyembelih anak lembu yang gemuk untuk berpesta serta mengundang para penari dan pemusik. Artinya, pesta itu merupakan pesta sukacita yang istimewa dan pasti mengundang orang-orang sekampung karena seekor lembu yang gemuk terlalu banyak kalau hanya dikonsumsi orang-orang serumah.

Selain sebagai ungkapan sukacita, pesta itu juga merupakan upaya rekonsiliasi antara si bungsu dengan seluruh warga kampung. Itulah acara syukuran atas kembalinya sang anak yang hilang.

Di tengah keluarga dan masyarakat kita juga sudah menjadi kebiasaan adanya acara syukuran. Saat masih kecil, misalnya, di desa saya ada tradisi brokohan. Konon, brokohan memiliki asal kata “barokahan”, yaitu ungkapan syukur dan terimakasih kepada Sang Pemberi Hidup atas kelahiran bayi dari kandungan ibunya.

Tradisi brokohan ini pada dasarnya memang dilakukan sebagai tanda terimakasih atas “kelahiran.” Dalam praktiknya, tradisi ini tak melulu hanya dilakukan pada manusia saja, tetapi juga pada binatang peliharaan. Misalnya, ketika sapi atau kambing piaraannya melahirkan, sang pemilik akan mengadakan acara syukuran ini.

Harapannya, Tuhan berkenan melimpahkan keselamatan dari tumbuh dan berkembangnya anak sapi atau kambing tersebut, sehingga mampu memberi penghidupan yang lebih layak bagi pemiliknya.

Hal ini mengingatkan pengalaman saya saat masa kecil. Pada waktu itu kami bersukacita ketika ada kambing atau sapi tetangga yang melahirkan. Dalam waktu dekat pasti akan mendapat es cendol dawet dan aneka makanan. Segerrrr….Maka jika ada sapi atau kambing tetangga sedang hamil, saya dan teman-teman akan menunggu dengan sukacita. Sang pemilik dalam waktu dekat akan membagi-bagikan es dawet dan makanannya yang lain untuk kami anak-anak waktu itu.

Sukacita atau bersyukur adalah tanda bahwa orang itu beriman. Orang yang bersukacita atau bersyukur mempunyai energi positif yang luar biasa. Bahkan sukacita atau syukur bisa menciptakan aura positif dalam hidup bersama.

Menurut peta kesadaran diri yang disampaikan David R. Hawkins, Ph.D dalam buku “Power Vs Force”, diungkapkan bahwa level sukacita itu berada dalam nilai atau score 540. Energi positifnya sangat tinggi. Bahkan level sukacita ini ada di atas level cinta (nilai 500).

Sukacita yang dibagikan itu membawa berkah. Sukacita itu bisa nyetrum atau menular. Bahkan bisa dirasakan oleh banyak pihak. Selain sukacita, semangat belaskasih juga ingin ditunjukkan Tuhan Yesus dalam perumpamaan tersebut. Belaskasih Bapa melahirkan sukacita bagi manusia.

Kita bersyukur karena Allah kita adalah Allah Bapa yang penuh belas kasih. Tuhan Yesus menegaskan bahwa yang bersukacita tidak hanya manusia, tetapi penghuni surga pun bersukacita karena ada orang yang bertobat.

Pertanyaan refleksinya, pengalaman kasih apa yang pernah Anda alami dalam hidup ini? Sukacita akan apa yang sedang Anda rasakan akhir-akhir ini? Mari jangan lupa bahagia dan sukacita yaaa…Berkah Dalem dan Salam Teplok dari MeSRA (Mertoyudan Spiritual Rest Area). # Y. Gunawan, Pr

Similar Posts

  • Berkarya dalam ‘Garis Bengkok’ Hidup Manusia

    Percik Firman : Berkarya dalam ‘Garis Bengkok’ Hidup ManusiaSelasa, 8 September 2020Pesta Kelahiran Santa Perawan MariaBacaan Injil : Mat 1:1-16.18-23 “Mereka akan menamakan Dia Imanuel, yang berarti: Allah menyertai kita”(Mat 1:23) Saudari/a ku ytk.,Saya bersyukur karena dua minggu ini mendapat kabar bahwa ada beberapa umat yang sembuh dari virus korona. Sebelumnya mereka sudah dinyatakan positif…

  • Mutiara yang Berharga

    Percik Firman : Mutiara yang BerhargaMinggu Biasa XVII, 26 Juli 2020Bacaan Injil: Mat 13:44-52 “Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu” (Mat 13:46) Saudari/a ku ytk.,Pada tahun ini ada beberapa seminaris Mertoyudan yang merupakan anak tunggal. Sejauh saya tahu, orangtuanya pun mendukung anaknya masuk seminari untuk…

  • Wani Nggetih

    Percik Firman: Wani NggetihSelasa, 26 Desember 2023Pesta St. Stefanus (Martir pertama)Bacaan Injil: Mat 10:17-22 Saudari/a ku ytk.,Pergi ke Tegal, berbekal roti.Selamat Natal, Tuhan memberkati. Perayaan liturgi Hari Raya Natal telah usai. Kita diajak merenungkan tema: “Kemuliaan bagi Allah dan Damai Sejahtera di bumi”. Pesan Natal itu tetap menggema dan menantang kita untuk memancarkan kemuliaan Allah…

  • Bijak dalam Hadapi Dilema

    Percik Firman: Bijak dalam Hadapi DilemaMinggu Biasa ke-29, 18 Oktober 2020Hari Minggu Misi ke-94Bacaan Injil : Mat 22:15-21 ”Orang-orang Farisi berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan” (Mat 22:15) Saudari/a ku ytk.,Kalau orang mau jujur dan mendengarkan suara hatinya, pasti akan kagum akan kepemimpinan Presiden RI saat ini, Bapak Joko Widodo. Mengapa? Ia…

  • Kata-kata yang Memberkati

    Percik Firman : Kata-kata yang MemberkatiSenin, 13 September 2021PW Santo Yohanes Krisostomus (Uskup dan Pujangga Gereja)Bacaan Injil: Lukas 7:1-10 “Aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Luk 7:7) Saudari/a ku ytk.,Pada zaman modern ini banyak orang sudah akrab dengan kosmetik. Bahkan anak kecil…

  • Menjadi Viral

    Percik Firman : Menjadi ViralRabu, 10 Januari 2024Bacaan Injil: Mrk 1:29-39 “Waktu menemukan Dia mereka berkata: ‘Semua orang mencari Engkau” (Mrk 1:37) Saudari/a ku ytk.,Sesuatu yang menarik perhatian banyak orang akan ‘viral’ dengan cepat. Dalam hitungan detik berita itu akan cepat menyebar dan diterima banyak orang di berbagai penjuru tempat. Apalagi sekarang dengan kecanggihan dan…