Rabu Abu di Masa Pandemi

Percik Firman : Rabu Abu di Masa Pandemi
Rabu Abu, 17 Februari 2021
Bacaan Injil: Mat 6:1-6.16-18

“Apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa” (Mat 6:17-18)

Saudari/a ku ytk.,
Hari Rabu Abu tahun 2021 ini kita rayakan dalam situasi Pandemi Covid-19. Untuk menghindari banyak kerumunan, beberapa paroki melayani Misa Rabu Abu selama beberapa hari. Ada umat yang sudah merayakan Rabu Abu sejak Senin Sore. Ada yang Selasa kemarin. Ada yang hari ini. Ada pula yang masih besok Kamis.

Rabu Abu menjadi awal Masa Prapaskah sekaligus Masa Retret Agung. Dalam Masa Prapaskah kita diajak untuk mengenangkan atau menyiapkan Baptis dan membina pertobatan. Gereja juga mengajak kita secara lebih intensif untuk mendengarkan sabda Allah dan berdoa guna menyongsong Hari Raya Paskah.

Dalam rangka mempersiapkan diri menyambut kebangkitan Tuhan yang membawa kehidupan baru ini, kita membutuhkan “Abu”. Apa makna abu itu? Dalam kehidupan masyarakat sederhana yang belum mengenal aneka macam sabun atau detergent, abu seringkali digunakan untuk mencuci peralatan dapur, terutama untuk menghilangkan bau amis dan kerak.

Saat masih kecil, saya diajari mamak bagaimana mencuci peralatan memasak dengan bersih. Untuk peralatan yang biasa, memakai air sabun biasa. Tetapi untuk peralatan memasak yang ada angusnya (wajan, ketel, soblok, dsb), harus dibersihkan dengan air sabun yang ditambahi dengan abu. Katanya, supaya lebih gampang membersihkan kotoran angusnya. Jadi, abu mempunyai manfaat untuk membersihkan barang-barang yang kotor.

Selain itu, abu juga menjadi tanda betapa kecil, rapuh, lemah dan tidak berdayanya diri kita. Di hadapan Tuhan, kita ini ibarat debu atau abu yang amat kecil. Bahkan, berhadapan dengan diri kita sendiri dan alam semesta ini, kita tampak begitu lemah dan rapuh.

Hal ini tampak nyata dalam ketidakberdayaan kita untuk mengendalikan diri, menguasai emosi-emosi negatif, mengalahkan godaan, dan menghindari dosa. Terhadap alam, kita juga tampak rapuh. Kita tidak bisa mengendalikan bencana alam (gempa, gunung meletus, banjir, dsb).

Di awal Masa Prapaskah ini kita diajak untuk membersihkan diri kita supaya siap dan pantas menerima kehadiran Tuhan yang memberikan energi hidup, tidak hanya jasmani tetapi juga rohani.

Kita diajak untuk memperbarui hidup kita, mengoyakkan hati kita – bukan pakaian kita – (Yl 2:13), dan berdamai kembali dengan Allah (1 Kor 5:20) melalui bersedekah, berdoa, dan berpuasa (Mat 6).

Selama Masa Prapaskah ini, marilah kita meningkatkan ketiga hal tersebut. Bersedekah atau beramal melalui dana Aksi Puasa Pembangunan (APP) sebagai upaya kita untuk mendekatkan diri dengan sesama, bersolider, dan memberi pertolongan. Berdoa sebagai usaha kita untuk semakin mendekatkan diri dengan Tuhan. Dan berpuasa (+ pantang) sebagai ungkapan lahir dari pengendalian diri kita.

Terkait dengan puasa dan pantang, ada umat yang berkomentar: “Wah enak yach puasanya orang Katolik cuma dua kali, Rabu Abu dan Jumat Agung.” Yang lain menambahi, “Iya enak. Pantangnya pun bisa milih. Kalau dirasa kurang berat, kita bisa menambah atau memperberat sendiri. Dan jika tidak kuat, kita tidak kena sanksi dosa lho. Enak dan ringan yach…”

Puasa dan pantang orang katolik bukan soal sekedar makan-minum. Makan-minum hanyalah salah satu bentuknya. Maka, puasa kita tidak akan terganggu dengan warung-warung makanan yang buka. Puasa-pantang kita lebih terkait dengan pengendalian diri demi nilai-nilai yang lebih luhur (pembaruan hidup, pertobatan, dan semangat berbagi).

Yang dikendalikan adalah diri sendiri, bukan orang lain. Jika ada niat untuk sungguh berpuasa dan perpantang, maka sate, tengkleng, daging B1 atau B2 yang seenak apapun tidak akan dimakan dan mengganggu. Hehe…

Berpuasa itu memurnikan hati orang dan membantu memusatkan pikiran waktu berdoa. Dengan berpuasa orang menata hidup dan olah rohani. Dengan berpuasa-pantang, orang mengurangi keserakahan, egoisme, dan mewujudkan penyesalan atas dosa-dosanya. Puasa juga membantu orang mengarahkan diri kepada Tuhan dan sesama.

Selamat memasuki Masa Prapaskah 2021 di tengah Pandemi ini. Mari berusaha semakin mendekatkan diri kepada-Nya, tinggal dalam Kristus, agar kita bisa berbuah. Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Seminari Mertoyudan. # Y. Gunawan, Pr

Similar Posts

  • Perlu Ketegasan

    Percik Firman: Perlu KetegasanMinggu Biasa IV, 31 Januari 2021Bacaan Injil : Mrk 1:21-28 “Yesus menghardiknya, kata-Nya: ‘Diam, keluarlah dari padanya!’” (Mrk 1:25) Saudari/a ku ytk.,Santo Antonius Abas (250-356) pernah memberikan kesaksian: “Setan takut pada kita ketika kita berdoa dan bermatiraga. Setan juga takut ketika kita rendah hati dan lemah lembut. Terutama setan takut pada kita…

  • Memanggil Orang Berdosa

    Percik Firman : Memanggil Orang BerdosaSabtu, 16 Januari 2021Bacaan Injil: Mrk 2:13-17 “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mrk 2:17) Saudari/a ku ytk.,Dalam tradisi dan budaya berbagai bangsa, makan bersama merupakan tradisi yang sangat penting. Makan bersama menjadi tanda dan sarana membangun…

  • Mutiara yang Berharga

    Percik Firman : Mutiara yang BerhargaMinggu Biasa XVII, 26 Juli 2020Bacaan Injil: Mat 13:44-52 “Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu” (Mat 13:46) Saudari/a ku ytk.,Pada tahun ini ada beberapa seminaris Mertoyudan yang merupakan anak tunggal. Sejauh saya tahu, orangtuanya pun mendukung anaknya masuk seminari untuk…

  • Perintah untuk Mengasihi

    Percik Firman : Perintah untuk MengasihiJumat, 15 Mei 2020Bacaan Injil: Yoh 15:12-17 “Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain” (Yoh 15:17) Saudari/a ku ytk.,Ada seorang isteri yang dikhianati suaminya. Tak diduga ternyata suaminya selingkuh. Dan diketahui sudah punya anak dengan perempuan lain. Mendengar bapaknya berperilaku seperti itu buyarlah figur sang bapak yang baik selama…

  • Menembus Ruang dan Waktu

    Percik Firman: Menembus Ruang dan WaktuMinggu Paskah III, 18 April 2021Bacaan Injil : Luk 24: 35-48 Saudari/a ku ytk.,Ada orang yang diberi anugerah Tuhan untuk bisa melihat roh atau arwah orang yang sudah meninggal dunia. Ada yang bisa melihat roh itu ada di rumah, di jalan tol, di gereja, dan di makam. Bahkan ada orang…

  • Aura Kasih

    Percik Firman: Aura KasihJumat, 6 Agustus 2021Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya (Transfigurasi)Bacaan Injil: Mrk 9:2-10 “Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini” (Mrk. 9:5) Saudari/a ku ytk.,Pernahkah Anda melihat orang yang selalu memancarkan sukacita meskipun mempunyai masalah? Apakah Anda menyadari bahwa doa Anda bisa memancarkan aura kasih dan kedamaian bagi orang lain di sekitar? Kalau…