Keluarga Sebagai Penentu Kualitas Imam Gereja Katolik
MERTOYUDAN – JENDELA, Seminari Menengah Mertoyudan melaksanakan rekoleksi bulanan, bertajuk “Berbuah dalam Keluarga dan Berbuah dalam Proses Panggilan”. Acara yang berlangsung di GOR Laudato Si Seminari ini menghadirkan Rm. Agustinus Eko Wahyu Krisputranto, MSF sebagai narasumber utama (11/4).
Dalam pemaparannya, Rm. Eko menekankan bahwa proses pendidikan calon imam tidak boleh dilepaskan dari sejarah keluarga masing-masing. Sebagai imam dari tarekat Missionariorum a Sacra familia (MSF) yang berfokus pada pelayanan keluarga, beliau membawa perspektif bahwa kualitas seorang imam di masa depan sangat bergantung pada bagaimana ia mengolah pengalaman-pengalaman yang membentuknya.
Rm. Eko membuka sesi dengan menegaskan bahwa panggilan adalah sebuah tanggung jawab publik. Ia menggarisbawahi tiga pilar utama yang harus dimiliki oleh seorang calon imam demi memenuhi hak umat Allah, yaitu suci, pintar, dan dewasa.
“Perubahan untuk menjadi gembala yang baik tidak instan. Perlu proses panjang dan bertahap. Umat berhak mendapatkan imam yang mumpuni dalam ketiga aspek ini,” tegasnya.
Mengambil inspirasi dari perikop “Perumpamaan tentang Seorang Penabur” (Matius 13:1-23), Rm. Eko mengajak para seminaris melakukan refleksi atas “jenis tanah” dalam diri mereka. Beliau menegaskan bahwa diri seminaris di masa depan berada di tangannya yang sekarang. Oleh sebab itu, seminaris perlu memilih untuk menjadsi menabur di tanah yang seperti apa supaya ia tumbuh.
Beliau menjelaskan bahwa setiap orang memiliki kebebasan untuk memilih mau menjadi jenis tanah seperti apa agar benih panggilan tersebut dapat tumbuh.
“Melalui keluarga, kita dibentuk namun tidak dikunci. Keluarga bukanlah alasan bagi kita untuk tidak tumbuh,” ungkap Rm. Eko, mengingatkan para seminaris untuk menerima segala pengalaman keluarga, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan.
Rekoleksi ini berlangsung sangat interaktif, karena Rm. Eko aktif bertanya dan menggali perspektif para seminaris mengenai tantangan hidup berkomunitas di asrama. Sesi ini menjadi wadah dialog antara para seminaris mengenai dinamika panggilan mereka.
Sebagai penutup, seluruh seminaris diajak menyusun komitmen konkret melalui diskusi kelompok. Langkah ini bertujuan untuk membangun komunitas Seminari yang lebih sehat dan suportif, sehingga setiap individu memiliki ekosistem yang tepat untuk terus berbuah dalam perjalanan formasinya. (RKK)





