Bangga dengan Salib

Percik Firman : Bangga dengan Salib
Senin, 14 September 2020
Pesta Salib Suci
Bacaan Injil: Yoh 3:13-17

“Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yoh 3:17)

Saudari/a ku ytk.,
Beberapa waktu yang lalu di tengah masyarakat kita ada semacam “ketakutan” dari sekelompok orang. Mereka takut akan gambar atau benda yang berbentuk salib. Sampai ada salib di kuburan pun dipotong.

Jalan di kota Solo yang mirip gambar salib pun diprotes. Pemerintah Kota Solo disuruh untuk membongkar dan menggantinya. Ada juga seorang pemuka agama yang mengatakan bahwa di dalam salib ada jin kafir. Hehehehe….ada-ada saja yaaa…

Hari ini Gereja merayakan Pesta Salib Suci, yaitu salib Tuhan Yesus Kristus sendiri. Lalu, apa makna salib Yesus?

Bagi orang Yahudi, salib adalah penghinaan. Mengapa disebut penghinaan? Karena salib bagi mereka adalah tempat penyiksaan bagi orang-orang berdosa, orang jahat, dan yang pantas mendapat hukuman mati.

Sedangkan bagi orang Yunani, salib adalah kebodohan. Mengapa disebut kebodohan? Karena mereka berpikir, “Masak sich seorang Raja kok mati di kayu salib.” Bagi sekelompok tertentu, Salib itu menakutkan.

Bagi kita sebagai orang Katolik, salib adalah kemenangan dan keselamatan. Mengapa? Karena di sanalah Tuhan Yesus menebus dosa-dosa umat manusia. Ditegaskan dalam Injil hari ini, “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.”

Dia merelakan hidup-Nya secara total untuk menderita, sengsara, dan wafat. Sekalipun sebagai seorang Raja, namun Tuhan Yesus mau merendahkan diri sama seperti manusia, bahkan sampai wafat di salib untuk menyelamatkan kita para pendosa.

Pesta Salib Suci dalam kalender liturgi Gereja Katolik biasanya disebut “In Exaltatione Sanctae Crucis”. Dirayakan setiap tanggal 14 September. Pesta ini untuk memperingati penemuan salib Yesus pada tahun 320 oleh Santa Helena, ibunda Kaisar Konstantinus.

Sejarah mencatat, setelah penemuan salib Yesus oleh Santa Helena itu, sebuah basilika didirikan oleh Kaisar Konstantinus di atas Makam Kudus Yesus di Yerusalem. Dan kemudian basilika itu diberkati pada tanggal 14 September 335 dengan sangat meriah dan khidmat.

Sehari setelah pemberkatan basilika tersebut, kayu Salib Suci diperlihatkan kepada umat di Yerusalem. Kemudian salib itu dibagi-bagi menjadi potongan-potongan kecil untuk disimpan dalam batu altar gedung-gedung gereja di seluruh dunia sebagai relikwi.

Sejak saat itulah perayaan Salib Suci sudah menjadi kegiatan rutin di Gereja Timur. Tradisi ini terus berlanjut dan setiap tahun selalu dirayakan di Yerusalem.

Ternyata perayaan ini menarik sejumlah besar biarawan dari Mesopotamia, Siria, Mesir dan dari provinsi-provinsi Romawi lainnya untuk datang ke Yerusalem. Tidak kurang dari 40 uskup rela menempuh perjalanan jauh dari keuskupan mereka untuk menghadiri perayaan ini.

Di Yerusalem pesta ini berlangsung selama 8 hari berturut-turut. Dan pada masa itu pesta ini menjadi suatu perayaan yang hampir sama pentingnya dengan Paskah dan Epifani (Penampakan Tuhan).

Pesta ini kemudian menyebar ke luar Yerusalem, mulai dari Konstantinopel (sekarang Istambul, Turki) hingga Roma pada akhir abad ke-7. Akhirnya, pesta ini kemudian menjadi bagian dari liturgi Gereja Katolik Roma, yang dikenal dengan Pesta Salib Suci.

Yesus telah setia memanggul salib-Nya menuju Golgota. Sebagai pengikut Yesus, kita juga mempunyai salib masing-masing yang harus kita panggul. Salib yang dimaksud di sini bukanlah seperti kayu salib yang dipanggul oleh Yesus, tetapi bisa berupa beban atau masalah hidup kita ataupun peristiwa yang tidak mengenakan terjadi.

Tuhan meminta kita untuk memanggul salib itu dengan tegar dan setia. Di balik salib ada kemuliaan. Salib kita bisa berat atau bisa juga ringan. Ketika kita setia memanggulnya bersama Yesus, salib kita akan terasa ringan.

Jangan menghindari salib! Marilah kita memohon rahmat kekuatan agar dapat memanggul salib itu. Adakah salib yang sedang Anda pikul saat ini? Berkah Dalem dan Salam Teplok dari bumi Mertoyudan. Jangan lupa bahagia.

# Y. Gunawan, Pr

Similar Posts

  • Luar biasanya Energi Sukacita

    Percik Firman: Luar biasanya Energi SukacitaMinggu Prapaskah IV, 27 Maret 2022Bacaan Injil: Luk 15:1-3.11-32 Saudari/a ku ytk,.Hari ini kita memasuki Minggu Prapaskah IV yang dikenal sebagai Minggu Laetare (Minggu Sukacita). Minggu Sukacita ini disimbolkan dengan warna liturgi dari warna ungu menjadi warna merah jambu (pink). Dalam Minggu Laetare ini, Gereja mengajak kita untuk bersukacita karena…

  • Masalah Mencair dalam Doa yang Tekun

    Percik Firman : Masalah Mencair dalam Doa yang TekunRabu, 7 Oktober 2020PW Santa Perawan Maria Ratu RosarioBacaan Injil : Lukas 11:1-4 “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya” (Luk 11:1) Saudari/a ku ytk.,Ada seorang katekumen yang sudah tua. Ia bersemangat mengimani Yesus sebagai Juru Selamat. Dengan tekun ia ikut pelajaran calon…

  • Berpikiran Positif

    Percik Firman: Berpikiran PositifRabu, 22 November 2023PW St. Sesilia, perawan dan martirBacaan Injil : Lukas 19:11-28 Saudari/a ku ytk.,Orang yang berpikiran positif akan bisa menjalani kehidupan ini dengan gembira. Orang yang seperti itu adalah orang yang optimis. Apa saja ciri orang yang berpikiran positif tersebut? Ada beberapa ciri orang yang berpikiran positif, antara lain: mensyukuri…

  • Hati yang Belaskasih

    Percik Firman: Hati yang BelaskasihJumat Pertama, 7 Januari 2022Bacaan Injil: Luk. 5: 12-16 Saudari/a ku ytk.,Hari ini adalah hari Jumat Pertama di awal tahun 2022. Mari kita persembahkan hidup kita dan segala rencana kita sepanjang tahun 2022 ini pada Hati Kudus Yesus. Dari hati-Nya yang penuh belas kasih itu, rahmat kebaikan selalu mengalir. Injil Lukas…

  • Bermurah Hati

    Percik Firman : Bermurah HatiRabu, 19 Agustus 2020Bacaan Injil: Mat 20:1-16a “Iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” (Mat 20:15) Saudari/a ku ytk.,Iri hati adalah salah satu dari 7 dosa pokok. Dosa pokok adalah dosa yang dapat menyebabkan dosa-dosa yang lain dan kebiasaan-kebiasaan buruk yang lain. Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) no. 1866, Santo Yohanes…

  • Yudas bin Simon Iskariot

    Yudas bin Simon Iskariot Bacaan: Yoh. 13:21-38 Yudas dalam Injil Yohanes ditampilkan sebagai murid yang dipercaya Yesus (dalam pengelolaan keuangan), tetapi sekaligus sebagai pengkhianat. Maka, Yesus yang mengerti hati Yudas, memandang Yudas dengan pandangan belas kasih. Ketika Yesus membuka perkataan bahwa ada yang akan mengkhianati Dia, dalam kacamata belas kasih, itu adalah peringatan yang masih…