Ketulusan dalam Melayani

Percik Firman: Ketulusan dalam Melayani
Kamis Putih, 1 April 2021
Bacaan Injil: Yoh 13:1-15

Saudari/a ku ytk.,
Sejak bulan Januari 2021, para seminaris Mertoyudan mulai menjalani Formatio Jarak Jauh dan Pembelajaran daring. Para guru dan staf formator berusaha memberikan pelayanan dan pendampingan sebaik-baiknya.

Meski dalam keterbatasan kemampuan, para guru dan staf tampak tulus dalam mencari terobasan pendampingan. Juga melibatkan para rama paroki dan orangtua. Menjadi terasa nyata bahwa keluarga sebagai seminari yang utama bagi seminaris.

Meskipun pandemi, formatio calon imam harus tetap jalan terus. Banyak pendampingan dilakukan secara online. Ada Misa angkatan online, Instruksi Medan online, Kumpul Bawil online, Bimbingan Rohani online, Retret online, meditasi online, Pertemuan “Hari Orang Tua” online, dsb.

Dari yang semula HP atau laptop dilarang untuk dibawa seminaris selama formatio di Seminari, sekarang HP atau laptop menjadi sarana penting untuk formatio. Seminaris yang tidak ada HP justru dipinjami HP dari pihak Seminari. Yang kesulitan kuota internet, disubsidi kuota internet.

Bahkan, terjadi hal yang tak terduga sebelumnya: ada orang tua dan nenek seminaris yang malah ikut meditasi online. Selain itu, para rama paroki ikut memfasilitasi para seminaris di pastoran untuk menjalani Pembelajaran Jarak Jauh dan Retret angkatan secara online.

Relasi para seminaris dengan para rama paroki semakin akrab. Di sana ada perjumpaan dan sharing panggilan “senior mendampingi yunior”. Pelayanan terhadap pembinaan calon imam melibatkan banyak pihak.

Kalau berbicara tentang pelayanan, setiap orang tentu mempunyai kegiatan pelayanan, baik dalam skala kecil ataupun besar. Tak jarang masyarakat juga memberikan berbagai sebutan untuk pelayan. Misalnya: Pelayan kemanusiaan, pelayan kesehatan, pelayan masyarakat, pelayan pastoral, dsb.

Merenungkan pesan misteri perayaan Kamis Putih, kita selalu diingatkan akan makna sebuah pelayanan yang tulus. Tuhan Yesus memberikan teladan nyata dalam melayani secara tulus lewat Perjamuan Malam Terakhir dan pembasuhan kaki para murid-Nya.

Pada hari Kamis Putih ini, mari kita bertanya pada diri kita sendiri: Apakah ketika melayani keluarga kita, kita menyertakan hati dengan sepenuh hati? Lantas Apa makna perayaan Kamis Putih bagi kita di masa pandemi saat ini?

Kita tahu bahwa pada tahun 587 sM Kerajaan Yehuda dihancurkan oleh Nebukadnezar, raja Babel. Bait Allah Yerusalem dihancurkan. Istana raja dimusnakan. Bangunan-bangunan lain diratakan dengan tanah. Orang-orang Yehuda diangkut ke Pembuangan. Hati mereka ambyaaarrr….ikut hancur: tidak ada lagi kemeriahan ibadat kurban, tidak ada lagi berkat imam, tidak ada lagi nyanyian mazmur, dsb.

Bagaimana mereka masih bisa berhubungan dengan Tuhan? Apakah Tuhan sudah meninggalkan mereka? Dengan pelayanan dan pendampingan para nabi, mereka disadarkan bahwa hubungan dengan Tuhan sama sekali tidak terputus. Tuhan tidak meninggalkan mereka. Tuhan tetap menyertai mereka dalam ke-ambyaran- hidup mereka.

Tuhan tidak lagi terikat di suatu tempat, Dia bisa ditemui di mana-mana. Dia tetap bisa ditemui, tidak harus dalam ibadat kurban di Bait Allah. Ada cara baru bertemu dengan Tuhan, yaitu lewat Firman yang dibacakan dan direnungkan.

Beberapa orang tidak bisa merayakan Kamis Putih di gereja karena situasi pandemi dan keterbatasan kuota tempat duduk. Mereka merayakan Misa secara online / live streaming dari rumah masing-masing.

Pada saat Perjamuan Malam Terakhir tersebut Tuhan Yesus juga berpesan, “Perbuatlah ini untuk mengenangkan Daku”. Maka, sejak saat itu, para murid selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa sesuai dengan pesan Yesus (bdk. Kis 2:42). Kebiasaan ini pun dilestarikan terus-menerus sampai sekarang dalam bentuk Perayaan Ekaristi, baik misa online atau offline.

Setiap kali merayakan Ekaristi, kita mengenangkan kurban Kristus yang total. Dengan pengenangan itu, kita tidak sekedar mengingat-ingat, tetapi kita sungguh-sungguh menerima dan bersatu dengan Kristus.

Dalam rupa roti dan anggur, Kristus sungguh hadir dan memberikan diri-Nya demi keselamatan kita. Sesuai dengan pesan Yesus ini, kita diajak untuk semakin tekun berEkaristi dan menghayatinya dengan sungguh-sungguh.

Di masa pandemi ini, Paus Fransiskus mengajak kita untuk terus memeluk Tuhan dan memeluk harapan. Mari kita terus menyadari kehadiran dan penyertaan Tuhan dalam hidup saat ini. Harapannya, agar kita tiada lelah melayani dengan tulus. Dimana ada ketulusan melayani dan kehendak baik, pasti ada jalan keluar dan orang baik yang membantu. Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bumi Mertoyudan. # Y. Gunawan, Pr

Similar Posts

  • Makna Puasa dan Pantang

    Percik Firman : Makna Puasa dan PantangJumat Pertama, 7 Maret 2025Bacaan Injil : Mat 9:14-15 “Waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa” (Mat 9:15) Saudari/a ku ytk.,Dalam masyarakat Yahudi zaman Yesus, ada tiga olah kesalehan yang diwariskan turun temurun yakni berdoa, berderma dan berpuasa. Dalam bacaan Injil…

  • Allah yang Berbelaskasih

    Percik Firman : Allah yang BerbelaskasihSabtu Imam, 6 Maret 2021Bacaan Injil : Luk 15:1-3.11-32 Sdr/i ku ytk.,Kita bersyukur punya Allah yang berbelaskasih, Allah yang maharahim. Hal ini ditunjukkan dalam Injil pada hari Sabtu Imam hari ini. Tuhan digambarkan sebagai Bapak yang merangkul dan menerima kembali anak bungsunya yang telah berbuat salah. Anak itu pulang ke…

  • Pewarta Kabar Gembira

    Percik Firman: Pewarta Kabar GembiraKamis, 23 April 2020Bacaan : Yoh 3:31-36 “Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya” (Yoh 3:35) Saudari/a ku ytk.,Merenungkan bacaan Injil hari ini, saya ingat akan pernyataan Pak Ahok saat dalam sidang dakwaan kepadanya beberapa tahun yang lalu. Ditegaskannya, “Mengapa saya bukan kafir? Karena saya juga taat kepada Tuhan…

  • Kepekaan terhadap Mimpi

    Jumat, 30 Desember 2022Pesta Keluarga KudusBacaan Injil: Mat. 2: 13-15.19-23 Saudari/a ku ytk.,Pada hari ini bersama dengan seluruh Gereja, kita merayakan pesta Keluarga Kudus: Yesus, Maria dan Yusuf. Pesta ini mulai diresmikan oleh Paus Leo XIII tahun 1893. Pada awalnya jatuh pada hari Minggu dalam Oktaf Epifani atau Penampakan Tuhan, tetapi sekarang dirayakan pada hari…

  • Mengandalkan Tuhan

    Percik Firman : Mengandalkan TuhanRabu, 23 September 2020PW St. Padre Pio (imam)Bacaan Injil: Luk 9:1-6 “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju” (Luk 9:3) Saudari/a ku ytk.,Adanya masalah dalam kehidupan ini dapat membentuk kita menjadi pribadi yang tangguh. Ketidaknyamanan dapat menempa kita menjadi pribadi yang…

  • Akar Segala Kejahatan

    Percik Firman: Akar Segala KejahatanJumat Pertama, 1 Maret 2024Hari Pantang dan Devosi Hati Kudus YesusBacaan Injil: Mat 21:33-43.45-46 Saudari/a ku ytk.,Dalam ajaran Gereja Katolik ada yang namanya dosa pokok. Dosa pokok adalah dosa yang mengakibatkan dosa-dosa lain dan kebiasaan-kebiasaan buruk lainnnya. Menurut Santo Gregorius Agung, dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) no. 1866, ada 7 dosa…