Hidup Penuh Perjuangan

Percik Firman: Hidup Penuh Perjuangan
Selasa, 23 Juni 2020
Bacaan Injil: Mat 7:6.12-14

“Masuklah melalui pintu yang sempit itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju ke kebinasaan” (Mat 7:13)

Saudari/a ku ytk.,
Jalan kemuridan Yesus tidak selalu mengenakkan. Tidak selalu berupa jalan tol yang halus, lebar dan bebas hambatan. Jalan kemuridan itu diwarnai salib, sesuatu yang membuat tidak nyaman tetapi menyelamatkan.

Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa jalan kemuridan itu ibarat kita memasuki pintu yang sempit. Untuk memasukinya, butuh perjuangan dan pengorbanan. “Masuklah melalui pintu yang sempit itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju ke kebinasaan”, tegas Tuhan Yesus.

Hidup ini penuh perjuangan. Memasuki hidup kekal atau surga juga butuh perjuangan. Bahkan kita perlu siap menderita. Meskipun demikian, jangan mudah menyerah! Jangan takut dan berkecil hati! Setelah kita melewati pintu yang sempit itu, kita diberi jaminan keselamatan dan kebahagiaan.

Lantas pertanyaannya, apakah salib itu identik dengan kesengsaraan atau penderitaan? Salib memang berat. Namun apakah merupakan kesengsaraan atau tidak, hal itu tergantung pada kita masing-masing.

Saya memberi contoh demikian: seorang ibu yang sedang hamil dan berjuang melahirkan anaknya akan merasakan kesakitan yang luar biasa. Apakah kesakitan tersebut merupakan kesengsaraan baginya? Mungkin ibu itu akan menjawab bahwa hal tersebut adalah pengorbanan hidup, tanggungjawab, atau sebuah panggilan hidup sebagai seorang wanita yang harus dijalani demi kebahagiaan memperoleh karunia Tuhan berupa seorang anak.

Contoh lain, seorang bapak yang bekerja keras di bawah terik matahari untuk menyejahterakan isteri dan anak-anaknya. Secara fisik dia mungkin lelah dan sampai kulitnya gosong, tetapi dia gembira melakukan pekerjaan itu karena bisa menghidupi keluarganya, menyekolahkan anak-anaknya untuk memberi bekal ilmu bagi anak-anaknya.

Atau contoh lain, kami para staf seminari setiap hari harus membaca buku refleksi harian para seminaris, lalu memberikan tanggapan, baik berupa pujian, peneguhan, teguran, catatan kritis, maupun pertanyaan yang menantang. Secara fisik lelah juga, apalagi sering sampai malam hari jam 23.00 atau kadang lebih.

Belum lagi kalau tulisan seminaris itu sulit dibaca. Butuh energy lebih. Hal itu tetap terus dilakukan agar mereka semakin terbantu merawat benih panggilannya setiap hari dan makin trampil memaknai setiap pengalamannya secara rohani.

Salib tidak identik dengan kesengsaraan. Salah kiranya kalau menjadi orang Katolik identik dengan menjadi seorang yang harus rela menderita setiap hari. Penderitaan karena memanggul salib bukanlah sembarang penderitaan. Demikian juga salib yang harus kita panggul setiap hari.

Salib bagi para pengikut Kristus adalah segala macam konsekuensi yang harus ditanggung demi keutamaan sejati yang dikejarnya. Selain itu untuk dapat memanggul salib dengan teguh, orang harus juga berani melakukan penyangkalan diri. Apakah yang harus disangkal? Demi Kristus, para pengikut Kristus harus berani menyangkal segala hal yang tidak sesuai dengan semangat cinta kasih Kristiani.

Pertanyaan refleksinya, seberapa kuat daya tahan banting Anda dalam menjadi murid Kristus selama ini? Apa saja yang perlu Anda sangkal agar dapat menjadi murid Kristus yang sejati? Berkah Dalem dan Salam Teplok dari bumi Mertoyudan.

# Y. Gunawan, Pr

Similar Posts

  • Damai Sejahtera

    Percik Firman: Damai SejahteraKamis, 8 April 2021Bacaan Injil: Luk 24:35-48 Saudari/a ku ytk.,Saat berkunjung ke rumah saudara atau umat, saya melihat ada hiasan dinding rumah yang inspiratif. Ada hiasan dinding yang bertuliskan, “Berkatilah rumah kami, Ya Tuhan”, atau “Berkatilah rumah ini, Tuhan”. Ada yang tulisannya, “Rumahku adalah rumah doa”. Ada juga tulisan, “Damai Sejahtera bagimu”….

  • Belaskasih Versus Peraturan

    Percik Firman : Belaskasih Versus PeraturanJumat, 16 Juli 2021Bacaan Injil: Mat 12:1-8 Sdri/a ku ytk.,Kita tahu bahwa Gereja Katolik tidak mengenal dan tidak mengizinkan perceraian. Karena perkawinan adalah sebuah panggilan hidup yang suci dan luhur. Apa yang sudah disatukan Allah, tidak dapat diceraikan oleh manusia dengan alasan apapun, kecuali oleh kematian yang wajar. Ketika ada…

  • Iri Hati atau Murah Hati ?

    Percik Firman : Iri Hati atau Murah Hati ?Minggu Biasa XXV, 20 September 2020Bacaan Injil: Mat 20:1-16a “Iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” (Mat 20:15) Saudari/a ku ytk.,Situasi pandemi Covid-19 beberapa bulan terakhir ini bisa menimbulkan iri hati. Apalagi saat orang merasa tidak diuntungkan, padahal sudah berjuang mati-matian. Orang yang sudah menjaga kesehatan dengan…

  • Merangkai Keakraban di Jonggrangan Sendangmulyo

    Keluarga besar Seminari Menengah Mertoyudan Magelang mengadakan kunjungan ke rumah Romo Leo Agung Sardi SJ, pada Minggu (27/10/2019) di Dusun Jonggrangan Sendangmulyo Minggir Sleman sebagai kegiatan rutin acara staf Seminari. Acara tersebut dimulai pada pukul 10:00 pagi dengan misa yang dipimpin oleh tiga pastur Seminari Romo Sardi SJ, Romo Dradjat SJ, dan Romo Yupi Pr….

  • Iblis Sungguh Ada

    Percik Firman : Iblis Sungguh AdaMinggu Prapaskah I, 21 Februari 2021Bacaan Injil : Mrk 1:12-15 “Di padang gurun itu Yesus tinggal empat puluh hari lamanya, dicobai oleh Iblis” (Mrk 1:13) Saudari/a ku ytk.,Godaan dapat dialami oleh siapa pun, kapan pun, di mana pun, dan dalam situasi apa pun. Iblis bisa menggoda siapa pun. Coba Anda…

  • Keberanian

    Kamis, 10 November 2022PW St. Leo Agung, Paus dan Pujanggga GerejaBacaan Injil: Luk 17:20-25 Saudari/a ku ytk.,Ada dua peristiwa penting hari ini, yaitu peringatan hari pahlawan dan peringatan wajib Santo Leo Agung. Kedua peristiwa ini memberikan pesan yang sama yaitu keberanian. Para pahlawan berani mengorbankan nyawanya untuk membela dan memperjuangkan kemerdekaan bangsa kita. Mereka tidak…