Hati yang Bersyukur

Percik Firman : Hati yang Bersyukur
Rabu, 14 Juli 2021
Bacaan Injil: Mat 11:25-27

”Aku bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi!” (Mat. 11: 25)

Saudari/a ku ytk.,
Saat masih menjadi ketua UNIO Keuskupan Agung Semarang (KAS), paguyuban para Imam Diosesan KAS, Bapak Kardinal Ignatius Suharyo Pr pernah menegaskan pada tahun 1991 demikian, ”Bersyukur itu membahagiakan, membebaskan dan menyelamatkan. Sebaliknya orang tidak tahu bersyukur, segala sesuatu adalah kewajiban, beban, paksaan atau nasib”.

Demikian pula dalam Surat kepada Para Imam Praja di KAS pada tanggal 3 April 1980, Bapak Kardinal Darmojuwono Pr mengungkapkan, ”Orang yang dapat berterimakasih (bersyukur) secara ikhlas dan jujur adalah orang yang bahagia. Sebaliknya, orang yang sukar melihat karunia Tuhan dan mudah melihat kekurangan saja akan merasakan suatu tekanan”.

Orang yang bersyukur adalah orang yang beriman. Bersyukur menjadi tanda bahwa seseorang itu beriman. Bersyukur bisa membuat orang bahagia. Kita bersyukur, maka kita bahagia. Rasa syukur itu membahagiakan.

Dalam bacaan Injil hari ini, kita mendapat teladan pribadi yang bersyukur, yaitu Yesus sendiri. Dalam doa kepada BapaNya, Yesus pertama-tama mengucap syukur. Dikatakan, ”Aku bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi!”

Rasa syukur itu didasarkan pada kenyataan bahwa Allah menyatakan banyak hal kepada orang kecil, bukan kepada orang yang cerdik pandai. Orang kecil mempunyai keutamaan sikap rendah hati untuk dibimbing Tuhan dan mengandalkan Tuhan.

Marilah kita kembangkan hati yang penuh syukur meskipun pandemi belum berakhir. Semoga kita makin diberkati Tuhan dan makin menjadi pribadi yang bersyukur dalam aneka situasi, baik suka maupun duka, sehat maupun sakit, gagal maupun berhasil. Berkah Dalem dan Salam Teplok dari MeSRA (Merto Spiritual Rest Area). # Y. Gunawan, Pr

Similar Posts

  • Dosa Ƙetamakan

    Jumat, 10 Maret 2023Bacaan Injil: Mat 21:33-43.45-46 Saudari/a ku ytk.,Barangkali Anda pernah mendengar berita bahwa ada seseorang yang tega membunuh saudara-saudarinya agar mendapatkan jatah warisan yang lebih banyak. Ia tidak mau hanya mendapat bagian warisan yang cuma sedikit. Demi ambisinya untuk tamak atau serakah, dia menghalalkan segala cara, termasuk membunuh saudara kandungnya sendiri. Misalnya, saudaranya…

  • Hati yang Berbelaskasih

    Percik Firman : Hati yang BerbelaskasihMinggu Biasa XVIII, 2 Agustus 2020Bacaan : Mat 14:13-21 “Tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan kepada mereka, dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit” (Mat 14:44) Saudari/a ku ytk.,Orangtua yang baik tentu tidak tega melihat anak-anaknya kelaparan. Berbagai cara dilakukan agar anaknya bisa makan. Mereka akan bekerja sebaik mungkin agar dapur bisa…

  • Menyuarakan Kebenaran

    Percik Firman : Menyuarakan KebenaranRabu, 9 September 2020Bacaan Injil : Luk 6:20-26 “Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat” (Luk 6:22) Saudari/a ku ytk.,Ada orang Katolik yang berkualitas dan jujur di lembaga pendidikan negeri dihambat naik jabatan atau…

  • Betapa Berharganya Kita

    Percik Firman: Betapa Berharganya KitaMinggu, 21 Juni 2020Minggu Biasa XIIBacaan Injil: Mat 10:26-33 “Janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit” (Mat 10:31) Saudari/a ku ytk.,Merenungkan sabda Tuhan pada Minggu Biasa ke-12 hari ini, saya ingat akan sebuah lagu yang dinyanyikan Maria Shandi. Judulnya “Kasih Setia-Mu”. Berikut ini liriknya: Kasih setia-Mu yang…

  • Kesetiaan Merawat

    Percik Firman: Kesetiaan MerawatJumat, 13 Agustus 2021Bacaan Injil: Mat 19: 3-12 Saudari/a ku ytk.,Merenungkan sabda Tuhan hari ini, saya ingat beberapa pasutri katolik yang sudah menikah sekian tahun, belum diberi anak oleh Tuhan. Mereka tetap rukun, kompak, dan setia. Anak memang anugerah Tuhan. Anak tidak menjadi alasan untuk berkonflik, apalagi bercerai. Mereka sadar betul bahwa…