Santo Petrus Canisius adalah seorang tokoh penting di dalam gerakan Gereja menghadapi reformasi kaum protestan pada jamannya, khususnya di Jerman. Dia adalah seorang jesuit pertama Jerman kelahiran Belanda. Hidupnya dicurahkan sepenuhnya bagi kerasulan di dunia berbahasa Jerman[1]. Sebagai provinsial Jerman Petrus Kanisius berjasa dalam mendirikan kolese-kolese untuk mendukung reformasi katolik[2]. Dalam hal ini, gagasan bahwa anak-anak muda menjadi andalan masa depan dalam menghadapi persoalan Gereja sudah dihayati dan diperjuangkan oleh St. Petrus Canisius.

Sejarah panggilan St. Petrus Canisius pun memperlihatkan jalan dan pencarian tipikal seorang muda dengan kerinduan mencari dan menemukan identitas serta panggilannya. Dalam hal ini Petrus Canisius menemukan Serikat Jesus sebagai jawaban sejati atas pencariannya. Dengan setia dan penuh pemberian diri Petrus Canisius memeluk dan menghayati panggilannya sebagai putera Serikat dan putera Gereja. Proses pencarian dan penemuan identitas dirinya tersebut sebagai pengalaman rohani yang mendalam dan transformatif terjadi di dalam Latihan Rohani sebulan atau dalam bahasa kita dikenal dengan Retret Agung. Dalam Latihan Rohani Petrus Canisius mengalami formasi kualitas-kualitas manusiawi, formasi kejesuitan serta formasi sebagai seorang rasul yang mempertahankan iman katolik di hadapan kaum protestan. Tentang Latihan Rohani dan Petrus Canisius, Otto Braunsberger[3] berpendapat bahwa, untuk Petrus Canisius, Latihan Rohani memberi dasar-dasar kokoh kesucian dan melaluinya dasar-dasar kesucian yang rasuli tersebut terpaterikan di dalam jiwa Petrus Canisius.

Tentang sejarah panggilannya, kota Mainz menjadi tempat istimewa bagi Petrus Canisius karena di sana día bertemu dengan St. Petrus Faber. Pertemuan tersebut membangkitkan panggilan di dalam dirinya. Pada waktu itu Petrus Canisius tinggal di rumah seorang imam Conrado, seorang pastor paroki St. Kristobal. Pada mulanya tujuan Petrus Canisius pergi ke Mainz, tempat Petrus Faber tinggal ketika berada di Jerman, adalah hanya untuk berkunjung[4], tetapi pada akhirnya dan yang sejatinya terjadi adalah bahwa Petrus Canisius langsung tinggal di sana dan menjalani Latihan Rohani[5]. Bahkan, di dalam pengalaman Latihan Rohani tersebut Petrus Canisius mengambil keputusan yang berani[6]: menarik diri dari rencana dijodohkan dengan seorang perempuan kaya pilihan orang tua; selain itu Petrus Canisius meninggalkan jabatan-jabatan gerejawi  dengan penghasilannya yang ditawarkan kepadanya. Keputusan dan pilihan yang dibuat pada saat melakukan Latihan Rohani tersebut dibuat dengan tujuan  mau masuk ke suatu tarekat religius[7].

Memperhatikan dan mempertimbangkan bagaimana Petrus Canisius menghayati panggilan dan melaksanakan tugas-tugasnya di tengah situasi Gereja waktu itu, Gereja mengangkat Petrus Canisius sebagai doktor Gereja. Penetapan ini didasarkan pada kiprah kerasulan dan tulisan-tulisannya. Karya pewartaan dan tulisannya menjadikan Petrus Canisius mendapat nama sebagai seorang rasul pena dan kata. Katekismus yang dia tulis, Summa doctrinae christianae[8] menjadi karya yang menandai kebesaran kerasulannya. Seperti didaftar oleh Benigno Fernández Montes, kelompok tulisan-tulisan Petrus Canisius meliputi: tradisi patristik (Bapa-bapa Gereja), kateketis, eksegetis, apologetis, liturgi – asketis, hagiografi dan historis[9].  Yang menjadi keprihatinan dan kepedulian utamanya adalah pengajaran kristiani kepada anak-anak dan orang sederhana. Publikasi dan kotbah yang dibuat Petrus Canisius merupakan buah kontak langsung dengan hamparan luas kehidupan Gereja pada jamannya. Dalam kelompok anggota Serikat Jesus, adalah benar bahwa Canisius bukanlah teolog dengan kekuatan spekulatif seperti Diego Lainez atau Alonso Salmeron; dia juga bukan seorang historis kritis model Robertus Bellarminus. Yang khas, penting dan istimewa dari Petrus Canisius adalah kemampuannya untuk menangkap dan merasakan sesuatu yang terjadi dalam kehidupan nyata Gereja dan pada saatnya hal tersebut diolah untuk memajukan hidup rohani umat Allah[10]. Dari Petrus Canisius, sebagai jesuit dengan tugas-tugasnya di dalam Serikat Jesus, kita juga miliki tulisan-tulisan tentang spiritualitas dan formasi Serikat; misalnya, tulisan yang disiapkan untuk para novis tentang kharisma Serikat dan formasi seorang rasul.

Sosok penting dalam jaman reformasi ini pada usia 77 tahun, di Fribourg, Swiss (Switzerland) menyerahkan hidupnya kepada Tuhan dengan wajah suka cita. Itu terjadi pada tahun 1597[11].

Pribadi Petrus Canisius

Kepribadian Petrus Canisius diwarnai oleh suasana rohani keluarga. Ditandai oleh persahabatan seorang anak muda bersama dengan kawan-kawannya. Ibunya adalah seorang perempuan saleh dan religius yang meninggal ketika Petrus Canisius masih kanak-kanak. Sebagai seorang anak, kepergian sang ibu merupakan sebuah pukulan bagi Petrus Canisius. Puji Tuhan bahwa kemudian dia memiliki ibu sambung yang demikian baik. Tetapi dalam perjalanan wktu selanjut, Petrus Canisius mengalami hal yang berat lagi, yaitu kematian ayahnya. Itu terjadi ketika dia di Novisiat.

Petrus Canisius lahir di Nijmegen pada tanggal 8 Mei 1521. Dari tempat kelahirnya dia pergi ke Koln untuk studi Humaniora[12].  Selesai studi di Koln, dia meneruskan studi hukum sipil dan hukum Gereja di Louvain, Belgia [13].

Petrus Canisius lahir dari seorang keluarga bangsawan kaya, Yakobus Canisius dan Egidia Honwingen. Kedua orang tuanya memberi teladan dan mewriskan iman serta kesalehan. Setelah ibunya meninggal, Canisius hidup dengan ibu sambung, yang adalah tantenya sendiri[14]. Masa kelahiran Canisius adalah masa perkembangan protestantisme, tetapi keluarga Petrus Canisius hidup dalam iklim rohani yang dibentuk oleh kesetiaan terhadap iman katolik. Ada peristiwa mengesan di seputar hal ini, yaitu ketika isterinya meninggal, dari dekat, Yakobus Canisius memandangi jenasah isterinya dan bersumpah bahwa akan memelihara kesetiaan kepada Gereja katolik apa pun resiko dan hal yang harus dipertaruhkan[15].

Dari sisi bentukan hidup rohaninya, Petrus Canisius diberi hidup oleh kerohanian “air susu ibunya”. Demikian, dia mengalami suka cita besar dalam hal-hal rohani. Petrus Canisius kecil menyukai gambar-gambar para kudus dan perayaan-perayaan liturgis. Dengan senang hati anak yang kemudian menjadi tokoh besar Gereja ini membantu imam dalam melayani Ekaristi dan rumahnya pun Petrus Cansius dibuatkan altar kecil. Dia suka menirukan apa yang dibuat imam dalam perayaan ekaristi[16]. Genap berusia 15 tahun ayahnya berketetapan mengirim Petrus Canisius ke pendidikan di tingkat Universitas. Pada akhir tahun 1535 Petrus Canisius masuk ke Koln dan pada tanggal 18 Januari 1536 mendaftarkan diri di Universitas[17].          

Tentang masa remajanya, seperti yang terjadi pada setiap anak muda kebanyakan, Petrus Canisius melakukan juga hal-hal yang kurang baik, terutama menyangkut relasi dan penampilan-penampilan lahir. Bentuk perilaku buruknya antara lain adalah, di jalan dia suka merasa diri sebagai anak bupati yang kaya, di sekolah bangga karena mengungguli kawan-kawan-nya; kadang memperlihatkan diri yang keras dan kurang hormat terhadap para pembantu, kawan dan orang tuanya[18]. “Mereka, kawan-kawan saya mengajarkan kepada saya dosa. Bukan karena saya menyalahkan mereka, tetapi karena saya juga membuatnya”[19]. Pada waktu selanjutnya Kanisius memandang relasinya dengan kawan-kawan sebagai cela: “Di sini saya datang bersama kawan atau pelayan yang dengan kata-kata dan teladannya mengajari  saya dan menambah berani berdosa, karena mereka berpikir, berbicara, dan mengagungkan ketidakmurnian[20]. Meskipun lingkungan kawan demikian, pengaruh dari kelompok anak-anak baik yang lebih kuat mengena Petrus Canisius ampai pada akhirnya dia memutuskan mengikuti jalan panggilan hidup religius. Ketika berada di Koln Canisius ditemani oleh Andreas Herll, bahkan dia bergabung dengan kelompok Andreas Herll. Di tengah situasi rusak jamannya, kelompok Andreas Herll, tempat Petrus Canisius bergabung dirasakan sebagai oasis yang dari sana bisa menimba kesegaran. Kawan senegara dari Geldrense, seorang imam bernama Nicholas van Esch juga menjadi anggota kelompok tersebut[21]. Kawan lain Lorenz Sauer, yang demikian terkenal, berasal dari Lübeck juga ada di kelompok tersebut. Kawan ini bertobat menjadi Katolik   di Koln berkat bantuan Kanisius dan kawan-kawan lain. Lorenz Sauer adalah sahabat dekat Petrus Canisius yang di kemudian waktu masuk Karthusian. Ajarannya menyebar di antara para Karthusian. Lorenz Sauer melayani Gereja Allah dengan setia lewat tulisan-tulisannya[22].

Mengetahui Lorenz Sauer masuk Karthusian, Petrus Canisius merasakan dorongan hati untuk measuk ke sebuah tarekat, hanya saja masih merasa bebas dan belum memiliki pilihan tarekat. Dalam keadaan demikian ini dia suka mengulang-ulang doa ini. “Tuhan, tunjukkan jalanku, ajarlah berjalan di jalan itu; Engkaulah Allah dan penyelamatku”[23]. Ungkapan doa lainnya, “Tunjukkanlah Allah, jalan bagi hidupku yang melaluinya aku dapat berjalan dengan tenang dan sampai kepada-Mu”. Doa demikian itu terus mengisi pikiran Kanisius di tahun-tahun mudanya[24]. Akhirnya pada tahun 1543, pada hari pesta peringatan Malaekat Agung Santo Mikael, Petrus Canisius menerima anugerah besar dan memandang hari itu sebagai hari kelahiran kedua dengan Petrus Faber sebagai ayah yang kedua. Hari itu Petrus Canisius mulai menjalani hidup dan panggilannya sebagai seorang Belanda, jesuit Jerman yang pertama. Petrus Canisius pun kembali ke Koln menjalani hidup sebagai novis[25], tahap pertama dan dasar dari perjalanan pembinaan untuk menjadi seorang jesuit.  

Petrus Canisius menjalani formasi Novisiat dalam bimbingan Petrus Faber. Terhitung masa Novisiat baru mulai berjalan, Petrus Canisius mengalami saat sulit menyangkut kesetiaan akan panggilannya. Ketika itu masa Natal tahun 1543. Ayahnya sakit. Mengetahui kabar demikian itu Petrus Canisius kembali ke Nijmegen. Sang ayah yang sedang sakitpun terkejut dan demikian merasa gembira atas kunjungan tak terduga dari anak sulung. Kemudian pada saat itu pula sang ayah meninggal[26].

Dari catatan lahir di dalam keluarga hingga masuk dalam keluarga baru Serikat Jesus, bisa kita ulangi catatan mengenai latar belakang keluarga dan pengaruhnya. Petrus Canisius adalah anak muda yang berasal dari keluarga bangsawan kaya dan saleh. Keluarganya memiliki tradisi hidup rohani yang kuat. Dari sisi masa depan hidupnya, Petrus Canisius memiliki peluang masa depan yang ccerah dengan kemungkinan isa meraih karier yang menjanjikan. Kalau pun dia memiliki kegelisahan batin, hal tersebut berhubungan dengan seorang muda yang mencari identitas diri dan cara hidup untuk kemudian hari. Persahabatan dan kebersamaan dengan teman-teman yang di satu sisi menggelapkan pencariannya dan menggerus keutamannya, di sisi lain juga menerangi langkahnya, terlebih ketika mengetahui Lorenz Sauer membuat keputusan masuk Karthusian. Kegelisahan batin sanak muda serta kepekaaan menangkap serta merefleksikan pengalaman-pengalaman berdasarkan nilai-nilai Katolik yang kuat diwariskan oleh keluarganya, itulah yang membukakan jalan menuju panggilan hidup religius. Dalam pengalaman Latihan Rohani yang dijalani bersama Petrus Faber panggilan itu mengemuka dengan jelas, yaitu masuk Serikat Jesus yang ketika itu  belum lama berdiri. Serikat Jesus berdiri dengan bula Paus Paus Paulus III, Regimini Militantis Ecclesiae pada tangal 27 September 1540, sememtara Petrus Canisius masuk Serikat pada bulan Mei 1543.

Tumbuh dalam Hidup Rohani

Petrus Canisius menjalani Latihan Rohani dalam bimbingan Petrus Faber, dan hal itu dilaksanakan di Mainz. Melalui Latihan Rohani itu dia dibantu oleh Petrus Faber membuat eleksi. Proses eleksi di dalam retret tersebut juga menjadi kesempatan bagi pembimbing Faber untuk mengenal lebih tajam praktek pembedaan roh. Nyata dan jelas di sini, bagi keduanya, Petrus Faber yang membimbing dan Petrus Canisius yang menjalani retret, Latihan Rohani bekerja melalui fungsinya dalam pembedaan roh, yaitu menyiapkan jiwa Canisius melakukan pemilihan masuk Serikat Jesus. Dengan begitu, pada bulan Mei 1543, Petrus Canisius berkaul (sebagai bentuk devosi) untuk masuk Serikat Jesus[27]. Tentang pengalaman istimewa di seputar tanggal tersebut dan pengalaman retretnya, pada bulan Januari 1596 kepada P. Juan Buseo S. J., Petrus Canisius menulis demikian: “Di Mainz saya mencari dan menemukan harta tersembunyi[28]. Harta tersembunyi yang dimaksud adalah kepada Petrus Faber yang membimbing retret dan menjadi ayah kedua, dan Latihan Rohani serta Serikat Jesus, di dalamnya dia memberikan diri tulus, utuh dan total untuk Gereja.

Saint Peter Canisius, in Dutch Pieter Kanijs, or Kanisius, or Kanijs, or Kanîs (Nijmegen, 8 May 1521 – Freiburg, 21 December 1597), was the first Jesuit of Germanic province. Commemoration on December 21. Colored engraving from Diodore Rahoult, Italy 1886. (Photo by Fototeca Gilardi/Getty Images).

Menjalani Latihan Rohani

Dalam surat yang ditulis dari Mainz kepada seorang kawannya yang tidak teridentifikasi siapa itu, Petrus Canisius menceritakan pengalaman retretnya. Dikatakan di dalam surat itu bahwa retret mengubah semangat, rasa-perasaan serta menerangi jiwanya dengan rahmat surgawi[29]. Dalam sebuah fragmen catatan harian rohani, Petrus Canisius menulis demikian:

Pada waktu itu, saya tinggal bersama dia dan melakukan Latihan Rohani, untuk mendiskresikan apakah kehendak baik yang dianugerahkan Tuhan dan sempurna atas diri saya. Tiba di Mainz terdorong oleh roh yang menguntungkan, menemukan orang yang sebenarnya saya cari di dalam petualangan saya, menemukan orang yang sebut saja sebagai malaekat Tuhan. Tidak pernah saya bertemu atau mendengar seorang teolog yang bijaksana dan mendalam atau orang yang keutamaannya memancar dan terwujud di dalam hidup[30].

Dari pihak Petrus Faber sebagai pembimbing, bisa kita ketahui bahwa Petrus Canisius menjalani Latihan Rohani lengkap dengan membuat eleksi status hidupnya. Lebih daripada itu, dalam memberikan Latihan Rohani kepada Petrus Canisius, Petrus Faber mengakui bahwa dirinya mengenal pembedaan roh lebih baik. Sebagai pembimbing retret dia juga mengakui bahwa sebelumnya dia tidak pernah melihat peranan pembedaan roh sepenting itu[31]. Dalam pengalaman Petrus Canisius dipahami bahwa diskresi, dalam praktek Latihan Rohani, tidak hanya membantu membangun disposisi jiwa dalam proses rohani melaksanakan eleksi status hidup, tetapi juga sebaknya. Artinya, dalam eleksi status hidup terjadi pembedaan roh. Dengan begitu seorang yang sedang menjalani retret akan sampai dan mampu mengenal roh yang satu dan yang lain[32]. Dalam retret yang dijalani olehPetrus Canisius eleksi menjadi kesempatan rohani untuk mengenali mana hal-hal yang memberi kekuatan dan melemahkan, yang menerangi dan membingungkan serta mencemari hidup rohani; singkatnya mana yang baik dan mana yang berlawanan[33].

Adalah menarik juga  memperhatikan kesaksian Petrus Faber yang merasa bahagia dan penuh minat dalam membimbing retret Petrus Canisius. Petrus Faber menulis demikian. Pada saat itu saya menikmati pengalaman menemani Petrus dan tidak punya ungkapan yang tepat untuk bisa menggambarkan suka cita dan kebahagiaan oleh karena pengalaman tersebut[34]. Menurut Faber, Petrus Canisius menjalani Latihan Rohani tanpa kesulitan. Dalam pendampingannya Petrus Faber dengan teliti mencermati bagaimana roh buruk bekerja dengan halus menghalangi Petrus Canisus supaya tidak mengabdikan diri bagi pelayanan kepada Tuhan. Petrus Canisius sendiri dengan tekun, dan cermat serta jiwa besar menjalani Latihan Rohani[35]. Buah dari semua itu adalah bahwa pada akhirnya Latihan Rohani mengubah Petrus Canisius menjadi manusia baru[36]

Dalam Latihan Rohani-nya, Petrus Canisius melakukan banyak kontem-plasi dan meditasi. Dengan itu Petrus Kanisius menemukan dan mengenali pelbagai macam roh. Dalam situasi dan pengalaman demikian itu, berkat bantuan pembimbing, Petrus Canisius sampai pada pengalaman pembedaan roh saat membuat eleksi hidup. Dalam pengalaman ini baik pembimbing, Petrus Faber, maupun retretan, Petrus Canisius, belajar mengenali secara lembut macam-macam gerakan roh: yang baik dan berlawanan dari yang baik.

***

Bahwa Petrus Canisius menjalani Latihan Rohani lengkap selama 30 hari, Otto Barunsberger menunjuk sebuah  bukti “Kontemplasi Mendapat Cinta” dari Latihan Rohani dan meditasi tentang Kenaikan Tuhan[37]. Selain itu kita juga miliki kutipan dalam satu lembaran lepas dari Petrus Canisius sendiri yang berisi catatan pengalaman retretnya di Mainz. Di dalam catatan itu, misalnya  ditemukan hal ini:

  •  Doa persiapan seperti biasa.
  • Pendahuluan pertama: Allah hadir. Tujuan mencintai Allah.
  • Pokok I: 1) berkah penciptaan; 2) berkah penebusan; 3) berkah khusus; 4) berkah kemuliaan[38].

Acuan lain yang meyakinkan kita bahwa Petrus Canisius menjalani Latihan Rohani lengkap adalah  konferensi rohani yang diberikan pada tanggal 5 Mei 1585. Pada waktu itu Petrus Kanisius memberi konferensi di Fribourg, Swiss tentang penderitaan Kristus.dan berkata, Dalam meditasi, saya akan menekankan hal wawancara, seperti ditunjukkan oleh Latihan Rohani[39].  Juga ketika berbícara tentang mengikuti Kristus dalam perang melawan setan, apa yang disajikannya memperlihatkan adanya banyak resonansi meditasi Latihan Rohani tentang “Panggilan Raja” dan dan “Dua Panji”. Misalnya Petrus Canisius berkata demikian:

Dalam perang adalah penting bahwa para tentara memiliki kapten yang bijak dan berpengalaman, terutama pada saat mesti berperang melawan pemimpin yang besar, licik dan kuat. Juga sangat penting bahwa para tentara taat kepada pimpinan dan mengikutnya.
Kita belajar dari kapten kita untuk berperang dengan berani dan mengalahkan setan dengan senjata rohani, terdorong oleh sabda dan teladannya[40]

Petrus Canisius juga mengungkapkan bahwa sementara menjalani Latihan Rohani dan memeriksa batin, dia belajar tentang doa. Bagi Petrus Canisius menjalani Latihan Rohani menjadi pengalaman mengenal diri, Allah dan kehendak-Nya. Semua ini merupakan buah berharga bagi kehidupan selanjut-nya: menjadi suci dan bahagia serta senantiasa melayani Tuhan sepenuh hati. Dalam menggambarkan keadaan dirinya menyangkut hal ini, Petrus Canisius memilih ilustrasi panggilan Mateus.

“Mendengar dengan jelas dari Tuhan seperti penagih pajak yang duduk di bangku kerjanya, saya tidak ingin menolak siapa yang memanggil saya, sebaliknya seperti Mateus itu saya bangkit dan menolak dunia yang tidak bersih: memutus hal-hal yang kuat-kuat mengikat saya pada dunia yang tidak bersih ini yang berguna bagi  para tuan yang saling berlawanan[41].

Petrus Canisius menemukan panggilannya di dalam Latihan Rohani. Sejak keluar dari pengalaman Latihan Rohani, kesibukan utama dan satu-satunya adalah mulai mengikuti Kristus Tuhan. Bagi Petrus Canisius panggilan religius merupakan anugerah Tuhan yang melebihi semua yang bisa dia terima. Dan Petrus Kanisius berpendapat bahwa sekali menerimanya, akan memandang rendah suka cita lain yang membebani, kesibukan-kesibukan duniawi serta mulai memikul dengan enak beban ringan dan lembut yang diberikan Tuhan[42].  

Petrus Canisius mengalami dibimbing Tuhan untuk mengenali dan menemukan panggilannya, dan hal itu ditindaklanjutinya dengan masuk Serikat Jesus dalam wujud mengucapkan kaul. Petrus Faber menerima kaul tersebut pada tanggal 8 Mei dalam pesta Santo Mikael tahun 1543[43].

“Dengan sungguh-sungguh saya berjanji  dan melaksanakan kaul kepada Allah Tuhanku dan di hadapan para kudus dari sekarang ini juga, dengan rahmat ilahi memeluk kemiskinan nyata, termasuk kalau pater Jenderal Serikat tidak berkenan atau sebagai gantinya guru Petrus Faber, yang sekarang kepadanya menerima saya untuk dicoba dalam Serikat[44]“.

Keutamaan dan Kerohanian

Dalam pengalaman Latihan Rohani, Petrus Canisius mengenal dan memahami Serikat Jesus. Dia merasa gembira dan menurut penemuannya, Serikat Jesus cocok baginya untuk hidup dengan baik dan pantas serta tepat untuk melayani Tuhan[45]. Dalam pengalaman Petrus Canisius, menjalani Latihan Rohani merupakan pengalaman formasi untuk membentuk diri, belajar berdoa, mengenal panggilan yang dikehendaki Tuhan yang kemudian dimasuki bila dirasa cocok dari kedua belah pihak. Dengan disposisi seperti ini, dengan sigap Petrus Canisius serta penuh minat mengikuti dan masuk Serikat. Sebagai konsekuensinya dia juga mengatakan “Selamat tinggal” kepada dunia. Dengan ketetapan tersebut Petrus Canisius merasa memutus hal-hal yang selama ini memenjarakannya[46].

Latihan Rohani bagi Petrus Canisius adalah sumber asupan rohani. Ia mengalaminya sejak awal ketika mulai mengenal Serikat hingga meneruskannya hidup sebagai jesuit dalam hidup dan tugas-tugas perutusannya. Dalam konferensi rohaninya kita mengetahui bahwa pengalaman-pengalaman Latihan Rohani memberi asupan rohani bagi hidup sendiri maupun hidup sesamanya yang dilayani, baik sesama anggota Serikat Jesus maupun orang di luar Serikat. Dalam arti ini, Latihan Rohani memberinya pengalaman formatif dasar. Selain itu pengalaman Latihan Rohani menjadi pengalaman mengenal Serikat Jesus, membuat eleksi dan diskresi. Secara pribadi pengalaman Latihan Rohani menjadi pengalaman berharga dalam membangun keutamaan kerendahan hati, ketaatan serta berjerih payah bersama Tuhan.

Rendah hati. Tentang kerendahan hati, titik referensi Petrus Canisius adalah Yesus sendiri. Menurut Petrus Canisius tidak ada yang lebih miskin, tidak ada yang lebih lemah dan tidak ada yang lebih tidak dihargai oleh dunia melebihi yang dialami Kristus Tuhan: Dia tidak hanya semata-mata menyerahkan diri dengan kehendak bebas kepada bapa dan ibu di Nasareth, tetapi juga kepada kaisar kafir dan Yusuf tukang kayu. Petrus Canisius mengatakan bahwa tahta pertama Tuhan yang adalah kandang hewan menunjukkan keakraban yang pertama dengan para gembala kampung, senang berbelas kasih kepada sesama, keras terhadap diri sendiri serta menumpakan darah bagi mereka yang salah kendati Día sendiri tidak bersalah. Petrus Canisius menambahkan bahwa Kristus Tuhan secara pribadi maupun di hadapan umum menunjukkan dirinya sebagai anak ketaatan[47].

Taat. Petrus Canisius menekankan pentingnya ketaatan[48]. Kita menemukan perhatiannya terhadap keutamaan yang satu ini ketika Petrus Canisius berbicara tentang hal-hal yang perlu bagi orang-orang yang terpanggil mengikuti Tuhan[49]. Mengenai ketaatan sempurna Petrus Canisius, dalam konferensinya, mengatakan kepada para novis bahwa menjadi benar-benar taat mesti menjalankan ketaatan dalam kehendak dan pengertian oleh karena kasih kepada Kristus[50]. Untuk meraih kesempurnaan yang menjadi ideal formasi awal Novisiat Serikat Jesus Petrus Canisius berbicara juga tentang ketaatan, kerendahan hati, kerohanian “kanak-kanak” (childlike) serta keingin-an untuk menjadi sempurna[51].

Mecum laborare  berjerih payah bersama Kristus. Petrus Canisius menghadirkan figur orang yang terpanggil untuk mengikuti Tuhan sebagai pejuang  dan dalam perjuangan tersebut yang menjadi pemimpin adalah Tuhan Yesus sendiri. Perjuangan ini melelahkan dan berat karena orang tidak dapat mengabdi dua tuan: melekat pada Kristus atau kepada setan[52].  Petrus Canisius dalam hal ini mengacu pada “Sang Raja Abadi” dan ajaran-Nya menulisnya demikian:

Betapa menderita para serdadu! Mereka mesti berjaga dalam bahaya, terluka, sering sampai mati dan tidak menerima bantuan serta penghiburan baik rohani maupun jasmani dari siapapun. Siapa yang tidak memilih jadi pasukan dengan gembira di bawah panji salib Kristus karena kasih Allah, keselamatan jiwa dan Kerajaan Allah, untuk meraja bersama Kristus?”[53].

Dengan semua itu kita bisa memahami bahwa hidup rohani Petrus Canisius yang menjadi modal merasul di tengah jamannya, yaitu reformasi,  terbentuk oleh Latihan Rohani dan dalam hidup selanjutnya Petrus Canisius juga menjadi promotor pelaksanaan retret. Tradisi menjalani retret ini lama-lama tumbuh menjadi tradisi rohani yang bermanfaat bagi pembangunan kerohanian. Lebih dari itu semua, Petrus Canisius juga dikenal sebagai promotor Latihan Rohani di antara awam[54].

Penutup

Melihat pengalaman kerohani dan cara tumbuh dalam hidup rohani Petrus Canisius, kita mendapat kesan kuat bahwa retret membantu anak muda yang memiliki kerinduan mencari dan menemukan identitas dan panggilan sejati. Petrus Canisius menemukan panggilannya di dalam retret. Ia menanggapi kerinduan terdalam hatinya akan identitas dan panggilan hidupnya dalam retret yang dibimbing oleh Petrus Faber. Retret dialami sebagai saat rohani menemukan dan menegaskan arah panggilan sekaligus belajar berdoa, belajar berdiskresi serta membina hidup rohani. Pengenalan intensif  akan diri sendiri, Allah dan kehendak-Nya serta kepekaan berdiskresi terus dilatih di dalam latihan rohani-latihan rohaninya.

Bila Petrus Canisius melalui Latihan Rohani mengalami kelahiran baru, kita bisa menimba inspirasi rohani bahwa setiap kali kita berdoa dan menjalani olah rohani, kita membiarkan diri diperbarui dan dilahirkan kembali. Sebaliknya, berhenti menjalankan olah rohani berarti juga menghentikan diri proses tumbuh secara rohani dalam mengenal, mencintai dan mengikuti Tuhan. Itulah mengapa di dalam tradisi hidup religius dan para imam dikenal kebiasaan retret tahunan.  Dalam proses rohani retret tersebut terjadi proses pembentukan kepribadian sehingga hidup rohani bergerak sejalan dan harmonis dengan kematangan pribadi orang serta unsur-unsur kualitas manusiawinya. Petrus Canisius juga mengalami hal ini. Pengalaman rohani melalui Latihan Rohani mendukung Petrus canisius melaksanakan tugas perutusan rohaninya dalam membina iman umat maupun di tengah tantangan protestentisme jamannya.

Daftar Bacaan:

  1. Begheyn, P.,  “Canisius (Kanis), Pedro,  en Diccionario Histórico de la Compañía de Jesús, I, Universidad Pontificia Comillas/Institutum Historicum S.I., Madrid /Roma, 2001, 633-635.
  2. Braunsberger, Otto “San Pedro Canisio y Los Ejercicios Espirituales”, en Manresa, 4 (1925), 327-399.
  3. Brodrick, James, Saint Peter Canisius, S.I., 1521-1597, London: Sheed and Word, 1939.
  4. Canisio, Pedro, Autobiografía y Otros Escritos, (Versión y comentarios: Benigno Hernández Montes, S.J.) Mensajero/Sal Terrae, Bilbao/Santander, 2004.
  5. Fabro, Pedro, En el Corazón de la Reforma, “Recuerdos espirituales” del Beato Pedro Fabro, S.J., (Introducción, traducción y comentarios por Antonio Alburquerque, S.J.,) Mensajero/Sal Terrae, Bilbao/Santander, 2000
  6. Garcia, Ramón, Vida del Beato Pedro Canisio, Madrid: D. Eusebio Aguado, Madrid, 1865,
  7. Metzler, Juan, S.J., San Pedro Canisio, segundo Apóstol de Alemania, traducción del alemán por Jesús Bujanda, S.J., Razón y Fe, Madrid, 1925.  
  8. Sastrapratedja, M., S. J., Pendidikan sebagai Humanisasi, Jakarta: Pusat Kajian Filsafat dan Pancasila, 2013
  9. Sola,  José S .I., “El Beato Fabro y los Ejercicios Espirituales de San Ignacio”, Manresa 70 [1947], 42-62.

Mertoyudan, 19 April 2020

  • A. Sardi S. J.
Bahan diambil dengan revisi dari L. A. Sardi S. J., Jesuit Magis, Yogyakarta: Kanisius. 2006, 137-154. Disajikan untuk rekoleksi “”Menyerap Inspirasi Hidup Rohani St. Petrus Kanisius” para seminaris Seminari Menengah St. Petrus Kanisius Mertoyudan 1-2 September 2018.  Dicermati dan direvisi lagi untuk Seminari: https://seminarimertoyudan.sch.id/

[1] Pedro Canisio, Autobiografía y Otros Escritos, (Versión y comentarios: Benigno Hernández Montes, S.J.) Mensajero/Sal Terrae, Bilbao/Santander, 2004, 13.

[2] P. Begheyn, “Canisius (Kanis), “Pedro”, dalam Diccionario Histórico de la Compañía de Jesús, I, Universidad Pontificia Comillas/Institutum Historicum S.I., Madrid /Roma, 2001, 635.

[3] Otto Braunsberger, “San Pedro Canisio y Los Ejercicios Espirituales”, Manresa, 4  [1925], 339.

[4] Sebenarnya proses perjumpaan Petrus Canisius terjadi ketika dengan rasa ingin tahu rohani mencari Petrus Faber. Saat itu justru dia bertemu dengan  Alfonso Alvaro, seorang imam Spanyol, novis Serikat. Alfonso Alvaro memberi tahu Canisius tentang Serikat dan kehadiran Faber di Maintz (Otro Braunsberger, San Pedro Canisio y Los Ejercicios Espirituales, Manresa, 4 [1925],  327.

[5] Pedro Canisio,  Autobiografía y Otros Escritos, 154.

[6] Dalam bahasa ciri-ciri kekudusan menurut Paus Fransiskus (Gaudete et Exultate): membuat keputusan dengan keberanian dan gairah; dengan parrhesía (bdk. Gaudete ex Exultate, 129-139).

[7] Otto Braunsberger, “San Pedro Canisio y Los Ejercicios Espirituales”, 327.

[8] Pedro Canisio, Autobiografía y Otros Escritos, 14.

[9] Pedro Canisio, Autobiografía y Otros Escritos, 19-21.

[10] Pedro Canisio,  Autobiografía y Otros Escritos, 26. Cf. la carta de S. Ignacio a él del día 13 agosto de 1553.

[11] Ramón Gracia, Vida del Beato Pedro Canisio, Madrid: D. Eusebio Aguado, Madrid, 1865, hlm. 21.

[12] “Model pendidikan pada jaman Romawi disebut humanitas atau sekarang disebut ’humaniora’, ‘liberal arts’, ‘humanities’ atau ‘ilmu-ilmu kemanusiaan’. Dari situ berkembang gagasan lain yang terangkum dalam istilah humanisme. Istilah itu menunjuk pada berbagai arti sesuai dengan jaman timbulnya istilah itu: humanis-me renaissance yang menekankan kebebasan manusia untuk membentuk dirinya sendiri, humanisme fajar budi yang menekankan kemampuan rasional manusia, humanisme teknologis yang memberi tempat penting bagi penguasaan ilmu dan tekonologi, humanisme eksis-tensialis yang menekankan bahwa ‘eksistensi’ menda-hului ‘esensi’ dan ada pula ‘humanisme religius’ yang menekankan pentingnya religiiositas dalam penge-mbangan diri manusia” (M. Sastrapratedja, S. J., Pendidikan sebagai Humanisasi, Jakarta: Pusat Kajian Filsafat dan Pancasila, 2013, iii-iv).

[13] Ramón Gracia, Vida del Beato Pedro Canisio, 7.

[14] Ramón García, Vida del Beato Pedro Canisio, 35-36.

[15] Juan Metzler, S.J., San Pedro Canisio, segundo Apóstol de Alemania, traducción del alemán por Jesús Bujanda, S.J., Razón y Fe, Madrid, 1925,  17. “Yang lebih penting adalah bahwa orang tuaku katolik dan dengan iman sejati hingga akhir, ketika jaman itu ajaran Luteran bagai penyakit pes menyebar ke  seluruh Jerman (Pedro Canisio,  Autobiografía y Otros Escritos, 80.)

[16] Juan Metzler, S.J., San Pedro Canisio, segundo Apóstol de Alemania, 18.

[17] Juan Metzler, S.J., San Pedro Canisio, segundo Apóstol de Alemania,  19.

[18] Juan Metzler, S.J., San Pedro Canisio, segundo Apóstol de Alemania, 18.

[19] James Brodrick, Saint Peter Canisius, S.I., 1521-1597, London: Sheed and Word, 1939, 8.

[20] Pedro Canisio, Autobiografía y Otros Escritos, 59.

[21] James Brodrick, Saint Peter Canisius, S.I., 11.

[22] Pedro Canisio, Autobiografía y Otros Escritos, 83. Juan Metzler, S.J., San Pedro Canisio, segundo Apóstol de Alemania, 21.

[23] Juan Metzler, S.J., San Pedro Canisio, segundo Apóstol de Alemania, 25-26.

[24] Juan Metzler, S.J., San Pedro Canisio, segundo Apóstol de Alemania, 26.

[25] Juan Metzler, S.J., San Pedro Canisio, segundo Apóstol de Alemania, 30.

[26] Juan Metzler, S.J., San Pedro Canisio, segundo Apóstol de Alemania, 30.

[27] José Sola, S .I., “El Beato Fabro y los Ejercicios Espirituales de San Ignacio”, Manresa 70 [1947], 55.

[28] Otro Braunsberger, “San Pedro Canisio y Los Ejercicios Espirituales”, 328.

[29] Pedro Canisio, Autobiografía y Otros Escritos, 140

[30] Pedro Canisio, Autobiografía y Otros Escritos, 91.

[31] Fabro, Pedro, En el Corazón de la Reforma, “Recuerdos espirituales” del Beato Pedro Fabro, S.J., (Introducción, traducción y comentarios por Antonio Alburquerque, S.J.,) Mensajero/Sal Terrae, Bilbao/Santander, 2000. – Memoria de Pedro Fabro (MF) 300

[32] MF 301, Otto Braunsberger, “San Pedro Canisio y Los Ejercicios Espirituales”, 328-329.

[33] MF 301-302.

[34] “I am at present enjoying the company of Master Peter and I have no word to tell yo how sweet I find it.” (James Brodrcik, Saint Peter Canisius, S.I., 37).

[35] James Brodrick, Saint Peter Canisius, S.I., 37.

[36] James Brodrick, Saint Peter Canisius, S.I., 36

[37] Otto Braunsberger, “San Pedro Canisio y Los Ejercicios Espirituales”, 329-330.

[38] Otto Braunsberger, “San Pedro Canisio y Los Ejercicios Espirituales”, 329

[39] Pedro Canisio, Autobiografía y Otros Escritos, 274

[40] Pedro Canisio, Autobiografía y Otros Escritos, 276-277.

[41] Pedro Canisio, Autobiografía y Otros Escritos, 92.

[42] Pedro Canisio, Autobiografía y Otros Escrito,s 92-93.

[43] James Brodrick, Saint Peter Canisius, S.I., 37.  Pedro Canisio, Autobiografía y Otros Escritos, 105. Kaul ini memiliki kesamaan tertentu dengan kaul devosi masa kini dan kaul sederhana para skolastik yang berkaul untuk masuk Serikat.

[44] Pedro Canisio, Autobiografía y Otros Escritos,106.

[45] Otto Braunsberger, “San Pedro Canisio y Los Ejercicios Espirituales”, 328.

[46] Otto Braunsberger, “San Pedro Canisio y Los Ejercicios Espirituales”, 328.

[47] San Pedro Canisio, Autobiografía y Otros Escritos, 211.

[48] Kita memiliki contoh kasih ketaatan dari surat Kanisius kepada Ignatius saat menanggapi perutusannya ke Messina. (San Pedro Canisio, ibid., hlm. 109-110.

[49] San Pedro Canisio, Autobiografía y Otros Escritos, 196.

[50] San Pedro Canisio, Autobiografía y Otros Escritos, 206.

[51] San Pedro Canisio, Autobiografía y Otros Escritos, 212.

[52] San Pedro Canisio, Autobiografía y Otros Escritos, 276.

[53] San Pedro Canisio, Autobiografía y Otros Escritos 276. Cf. Formula del Instituto de la Compañía de Jesús.

[54] Otto Braunsberger, “San Pedro Canisio y Los Ejercicios Espirituales”, 332.