Konsekwensi Ikut Yesus

Percik Firman : Konsekwensi Ikut Yesus
Sabtu, 16 Mei 2020
Bacaan Injil: Yoh 15:18-21

“Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu” (Yoh 15:20)

Saudari/a ku ytk.,
Apakah Anda pernah dianiaya sebagai murid Kristus pada zaman ini? Atau disingkiri oleh rekan sekantor karena iman Katolik? Atau hak-hak Anda dicabut dan tidak diberikan karena Anda orang Katolik? Kenaikan jabatan Anda dipersulit?

Menjadi murid Yesus tidak selalu mudah. Ada konsekwensi dan risiko yang harus dihadapi. Sejak awal Gereja Perdana, para pengikut Kristus mengalami penganiayaan, pengejaran dan penderitaan.

Bahkan kematian menjadi bukti nyata. Terjadi kemartiran di mana-mana. Ada orang tidak suka dengan iman Katolik, lalu berusaha menyingkirkan.

Sabda Tuhan hari ini menegaskan hal itu. Dalam amanat perpisahan-Nya, Yesus mengungkapkan dengan tegas, “Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu”. Sejak awal Yesus sudah mengingatkan kita semua akan hal ini.

Banyak orang Katolik dianiaya dan rela berkorban demi imannya pada Kristus. Mereka meninggal sebagai martir.

Dalam salah satu audiensi dengan para peziarah di Roma tahun 2019, Paus Fransiskus pernah mengungkapkan, “Kemartiran adalah suasana kehidupan seorang kristiani. Martir akan selalu ada di antara kita. Inilah tanda bahwa kita berada di jalan Yesus, inilah berkat Tuhan. Di antara umat Allah ada beberapa orang yang bersaksi dengan kemartiran”.

Salah satu contoh pribadi yang wani nggetih, punya komitmen dan siap menanggung konsekwensi mengikuti Yesus adalah Santo Stefanus. Dia adalah orang pertama yang mengikuti jejak langkah Yesus Sang Guru dengan menjadi martir. Dia wafat seperti Yesus mempercayakan hidup-Nya kepada Allah dan mengampuni para penganiaya-Nya.

Ada dua sikapnya yang utama yakni: ia mempercayakan hidupnya kepada Allah dan mengampuni. Sikap Stefanus itu adalah undangan yang ditujukan kepada kita masing-masing untuk menyambut segala sesuatu dengan iman.

Keberadaan kita ditandai tidak hanya dengan suasana yang membahagiakan, tetapi juga dengan saat-saat kesulitan dan kehilangan. Percaya kepada Allah membantu kita untuk menerima saat-saat sulit serta menjalaninya sebagai sebuah kesempatan untuk bertumbuh dalam iman dan membangun hubungan baru dengan saudara-saudara kita.

Percaya kepada Allah berkenaan dengan menyerahkan diri kita di tangan Tuhan, yang kita ketahui sebagai seorang Bapa yang kaya akan kebaikan terhadap anak-anak-Nya.

Dari sosok Santo Stefanus kita juga dapat belajar untuk mengampuni. Mengampuni orang yang telah melukai, menganiaya, bahkan membunuh. Hal ini tidak mudah dilakukan. Paus Fransiskus berpesan, “Pengampunan melapangkan hati, membangkitkan keikutsertaan, memberi ketenangan dan kedamaian”.

Stefanus sang martir pertama menunjukkan kepada kita pada zaman ini bagaimana berkomitmen mengikuti Yesus sampai akhir hayat. Nalar pengampunan dan belas kasihan selalu menang dan dapat membuka cakrawala harapan.

Stefanus dapat mengampuni para pembunuhnya karena dia berdoa, sehingga dipenuhi dengan Roh Kudus.

Dari doa, muncul kekuatan untuk menderita sebagai pengikut Kristus. Kita harus tekun berdoa kepada Allah agar mencurahkan Roh Kudus ke atas diri kita untuk dapat menghadapi tantangan dan kesulitan, pengalaman suka duka, jatuh bangun dalam mengikuti Yesus saat ini.

Mari kita mohon kekuatan agar siap menghadapi apa pun konsekwensi atas pilihan kita ikut Yesus. Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bumi Mertoyudan.

# Y. Gunawan, Pr

Similar Posts

  • Pergulatan Batin

    Percik Firman : Pergulatan BatinKamis, 28 September 2023Bacaan Injil : Luk. 9: 7-9 Saudari/a ku ytk.,Setiap orang tentu pernah mengalami pergulatan batin. Ada aneka bentuk pergulatan batin. Tak jarang pergulatan batin itu diikuti dengan perasaan cemas, takut, gelisah, ragu-ragu, bingung, dsb. Tidak ada hanya orang kecil yang mengalami pergulatan batin, seorang pemimpin atau raja pun…

  • Sikap Hormat

    Selasa, 27 Desember 2022Pesta St Yohanes RasulBacaan Injil : Yoh. 20: 2-8 “Yohanes menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam” (Yoh 20:5) Saudari/a ku ytk.,Pada hari ini Gereja merayakan Pesta St. Yohanes, Rasul dan Penulis Injil.  Yohanes (bahasa Yunani Ιωάννης – Ioannes; berarti Tuhan maha…

  • Pelita yang Menyala

    Percik Firman : Pelita yang MenyalaKamis, 14 Maret 2024Bacaan Injil : Yoh 5:31-47 “Yohanes adalah pelita yang menyala dan yang bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja cahayanya itu” (Yoh 5:35) Saudari/a ku ytk.,Ada sebuah pepatah bijak yang mengatakan, “Lebih baik menyalakan sebuah lilin kecil di tengah kegelapan daripada mengutuki kegelapan”. Nasihat itu mengingatkan…

  • Menjadi Pribadi Bijaksana

    Percik Firman : Menjadi Pribadi BijaksanaJumat, 27 Agustus 2021Peringatan Wajib Santa MonikaBacaan Injil: Mat 25:1-13 Saudari/a ku ytk.,Konon katanya, orang pandai belum tentu bijaksana. Orang yang bijaksana biasanya pandai. Yang namanya kebijaksanaan itu tidak bisa dibeli di manapun. Tidak ada supermarket, pasar atau toko online yang menjualnya. Kebijaksanaan juga tidak muncul secara instan. Tetapi kebijaksanaan…

  • Bukan Umur Panjang

    Percik Firman: Bukan Umur PanjangKamis, 29 April 2021PW Santa Katarina dari SienaBacaan Injil: Yoh 13: 16-20 Saudari/a ku ytk.,Sebelum menerimakan Tubuh Kristus, seorang imam akan mengangkat Tubuh Kristus dan piala berisi Darah Kristus sambil berseru. Salah satu seruannya demikian, “Kecaplah dan lihat, betapa baiknya Tuhan. Dialah santapan jiwa, daya ilahi melawan doa. Berbahagialah kita yang…