Menyalurkan Kasih Allah

Percik Firman: Menyalurkan Kasih Allah
Minggu, 7 Juni 2020
HR Tritunggal Mahakudus
Bacaan Injil: Yoh 3:16-18

“Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal…supaya beroleh hidup yang kekal ” (Yoh 3:16)

Sdri/a yang terkasih,
Berapa kali Anda membuat tanda salib dalam sehari dari bangun tidur sampai sebelum tidur malam? Dalam satu hari, pasti lebih dari empat kali, kita membuat tanda salib. Setiap membuat tanda salib, kita mengucapkan rumus kata-kata, “Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, Amin”.

Pada hari ini Gereja merayakan Hari Raya Tritunggal yang Mahakudus. Dalam kehidupan sehari-hari, iman akan Allah Tritunggal ini sebenarnya selalu kita hayati dan kita ungkapkan, kendati kita tanpa memikirkannya. Setiap kali kita membuat tanda salib dan mendaraskan doa Kemuliaan, kita sudah mengungkapkan iman akan Allah Tritunggal tersebut.

Barangkali tidak mudah bagi kita untuk memahami dan menjelaskan iman akan Allah Tritunggal. Memang, Tritunggal Mahakudus itu, bukan pertama-tama untuk dimengerti, dipahami dan dijelaskan, tetapi untuk diimani. Baru setelah kita mengimani, kita berusaha untuk memahaminya, sebagaimana dinyatakan oleh Santo Anselmus: “Credo ut intelligam” (aku percaya supaya mengerti).

Kita menyadari bahwa misteri tentang Allah tidak dapat dijelaskan dan dipahami sampai tuntas. Santo Agustinus, seorang yang sangat cerdas pun, akhirnya menyadari bahwa akal budinya tidak mampu untuk memahami seluruh misteri Allah Tritunggal. Ia sadar akan keterbatasannya ini melalui pengalaman yang sangat sederhana.

Pada suatu hari, ia berjalan-jalan di pantai dan melihat seorang anak kecil sedang membuat lubang di pasir. Ketika ditanya, anak itu mengatakan bahwa ia ingin memindahkan seluruh air laut ke dalam lubang kecil itu. Suatu hal yang sangat mustahil.

Agustinus pun sadar bahwa anak kecil itu merupakan gambaran dirinya yang ingin memasukkan seluruh misteri Allah Tritunggal yang mahabesar dan mahaluas ke dalam otaknya yang amat kecil dan terbatas.

Merayakan Tritunggal Mahakudus berarti merayakan dan mengalami misteri kasih Allah yang Esa demi keselamatan kita. Karya keselamatan itu, direncanakan dan dikehendaki oleh Allah Bapa, dilaksanakan oleh Allah Putera, dan diteruskan serta dijamin untuk selama-lamanya oleh Allah Roh Kudus (bdk. Rm 5:1-5).

Demikianlah, ketiga pribadi Tritunggal mewahyukan Diri masing-masing dalam tugas yang dapat dibedakan, namun tidak dapat dipisahkan karena ketiganya merupakan satu-kesatuan yang sempurna. Kesatuan antara ketiga pribadi itu sedemikian mendalam sehingga keesaan Allah tidak berubah. Bapa, Putra dan Roh Kudus ialah tiga pribadi dari Allah yang satu.

Berhadapan dengan misteri Allah yang tak terselami ini, ada dua hal yang baik untuk kita hayati.

Pertama, kita diajak untuk mengambil sikap iman yang terbuka pada bimbingan Roh Kudus. Dialah Roh Kebenaran yang akan memimpin kita pada seluruh kebenaran. Secara konkret, setiap kali membuat tanda salib, marilah kita lebih menghayatinya. Dengan mengucapkan kata-kata ini, kita menyerahkan hidup kita, pekerjaan kita dan semua yang akan kita alami ke dalam perlindungan dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus.

Kedua, marilah kita sungguh menyadari betapa besar kasih Allah kepada kita. Kita orang berdosa yang seharusnya dihukum dan mengalami maut (kematian) untuk selama-lamanya, tetapi kita diselamatkan dan dianugerahi hidup kekal. Seraya menyadari kasih Allah itu, kita diundang untuk menghadirkan dan menyalurkan kasih Allah kepada sesama, supaya semakin banyak orang mengalami kasih dan karya penyelamatan-Nya.

Pertanyaan refleksinya, apakah Anda menyadari iman akan Allah Tritunggal setiap kali membuat tanda salib? Bersediakah Anda menyalurkan kasih Allah dalam hidup sehari-hari? Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bumi Mertoyudan.

# Y. Gunawan, Pr

Similar Posts

  • Waspada terhadap Ketamakan

    Percik Firman : Waspada terhadap KetamakanSenin, 19 Oktober 2020Bacaan Injil : Lukas 12:13-21 “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu”(Luk 12:15) Saudari/a ku ytk.,Ada seminaris yang bersyukur bahwa selama masa pandemi Covid 19 ini, dia bisa menghemat uang saku. Dengan tidak ada ambulasi hari…

  • “Betesda” Masa Kini

    Percik Firman: Menjadi “Betesda” Masa KiniSelasa, 12 Maret 2024Bacaan Injil : Yoh 5:1-16 Saudari/a ku ytk.,Pertolongan Tuhan tepat pada waktunya. Merenungkan bacaan Injil hari ini, saya teringatkan akan pengalaman seorang pasutri yang lama berdoa dan mengharapkan belaskasih Tuhan. Mereka tidak pernah menyerah. Mereka tidak putus asa. Mereka percaya bahwa pertolongan dan belaskasih Tuhan pasti datang….

  • Doa bagaikan Nafas

    Percik Firman: Doa bagaikan NafasJumat, 28 Mei 2021Bacaan Injil: Mrk. 11:11-26 Sdri/a yang terkasih,Apakah Anda sudah berdoa hari ini? Seberapa sering Anda berdoa dalam sehari? Berdoa sangat penting bagi hidup kita. Berdoa itu bagaikan nafas bagi orang beriman. Kalau nafas kita tidak bisa berjalan normal, hidup dan kegiatan kita akan tersendat dan terhambat. Paus Fransiskus…

  • Percaya pada Tuhan

    Percik Firman: Percaya pada TuhanSabtu Imam, 3 Juli 2021Pesta Santo Tomas, RasulBacaan Injil: Yoh. 20:24-29 “Yesus berkata kepada Tomas: ‘Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah’” (Yoh 20:27) Saudari/a ku ytk.,Ada seorang imam yang tidak percaya atau meragukan roti anggur…

  • Mengusahakan Hati yang Baik

    Percik Firman: Mengusahakan Hati yang BaikRabu, 27 Januari 2021Bacaan Injil : Mrk 4:1-20 “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” (Mrk 4:9) Saudari/a ku ytk.,Mendengarkan adalah kemampuan yang penting dalam menumbuhkan kebijaksanaan dalam hidup sehari-hari. Orang yang bijaksana biasanya mempunyai kemampuan mendengarkan yang baik. Mendengarkan apa? Mendengarkan masukan dari teman-temannya, rekan kerjanya, dsb. Juga…

  • Hati yang Tulus

    Percik Firman: Hati yang TulusSelasa, 29 Desember 2020Bacaan Injil: Luk. 2:22-35 “Mereka mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati” (Luk 2:24) Saudari/a ku ytk.,Saat saya berkarya di salah satu paroki, ada seorang bapak yang setiap saat membawakan beberapa iris ketela goreng ke pastoran….