Berani Memikul Salib

Percik Firman : Berani Memikul Salib
Minggu Biasa XIII, 28 Juni 2020
Bacaan Injil : Mat 10:37-42

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:38)

Saudari/a ku ytk.,
Gereja menghormati Salib sebab Kristus ditinggikan di salib. Yesus menderita dan wafat di salib demi keselamatan semua manusia. Dengan salib-Nya Ia mengalahkan dosa dan maut. Sebab itu, salib bukan lagi tanda penghinaan, melainkan tanda kemenangan.

Sabda Tuhan pada hari ini mengingatkan kita semua akan panggilan kemuridan untuk mengikuti Kristus yang tersalib. “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku”, begitu pesan Sang Guru dalam Injil hari ini.

Salib adalah “pohon keselamatan, kehidupan dan kebangkitan” kita. Salib bukan “pohon pengetahuan” yang membinasakan kita. Salib akan bersinar di langit pada saat Kristus kembali dalam kemuliaan-Nya. Kita menandai diri dengan Tanda Salib seraya berharap agar kelak diperkenankan mengambil bagian dalam kemuliaan Kristus. Apakah Anda menghayatinya setiap membuat tanda salib?

Dalam homili pada Pesta Salib Suci 2013, Paus Fransiskus mengungkapkan bahwa dalam misteri Salib itulah kita temukan kisah manusia dan kisah Allah, dengan membandingkan antara pohon pengetahuan baik dan jahat di Firdaus dengan pohon Salib.

Diungkapkan Sri Paus demikian, “Pohon yang satu telah menghasilkan begitu banyak kejahatan, sedangkan pohon lainnya telah membawa kita kepada keselamatan. Pohon Salib menyelamatkan kita dari konsekuensi-konsekuensi dosa pohon lainnya itu, saat kita dikuasai rasa terlalu percaya diri, kesombongan, kebanggaan diri, egoisme yang menilai segala sesuatu menurut sudut pandang kita sendiri”.

Lebih lanjut ditegaskan, “Norma, sudut pandang dan asumsi kita sendirilah yang kita anggap sebagai satu-satunya yang ada dan dijadikan norma untuk bertindak. Manusia menjadikan dirinya sebagai pusat kehidupan. Ini adalah kisah kejahatan dan kesombongan manusia yang diperoleh dari pohon pengetahuan yang baik dan yang buruk di Firdaus”.

Pada Salib ada “kisah kasih Allah”. Allah memilih untuk masuk dalam sejarah hidup kita dan melakukan perjalanan bersama kita. Allah mengutus Putera-Nya ke dunia bukan untuk menghakimi, melainkan agar dunia bisa diselamatkan melalui Sang Panebus yang memberikan seluruh hidup-Nya.

Dengan rela Dia menjadi seorang hamba yang taat bahkan sampai mati di kayu salib. Pada salib itu ada cinta. Misteri ini begitu besar, dan kita tidak dapat memahami sepenuhnya tetapi bisa merasakannya. Misteri Salib hanya dapat dirasakan bila dengan rendah hati berlutut di hadapan-Nya, dalam doa, dengan air mata yang tulus sebagai ungkapan rasa sesal dan tobat.

Sebagai orang yang sudah dibaptis secara Katolik, kita dipanggil untuk setia memikul salib kita dan mengikuti jejak langkah Sang Guru yang telah lebih dahulu memikul SalibNya menuju Golgota.

Pertanyaan refleksinya, apa saja yang menjadi salib Anda akhir-akhir ini? Seberapa bangga Anda menjadi murid Kristus yang tersalib? Berkah Dalem dan Salam Teplok dari bumi Mertoyudan.

# Y. Gunawan, Pr

Similar Posts

  • Refleksi

    Mensyukuri Kelahiran Pada bulan September Gereja merayakan Pesta Kelahiran Bunda Maria. Pesta ini dirayakan setiap tanggal 8 September. Saat merefleksikan Pesta Kelahiran Bunda Maria ini, saya teringat akan sebuah keluarga yang selalu memberikan nama ‘Maria’ kepada semua anaknya, baik laki-laki maupun perempuan. Keluarga itu adalah keluarga pasutri Hubertus Soekarto Pudjosumarto dan Agnes Soekarti Pudjosumarto. Pasutri…

  • Bersatu dan Bangkit

    Percik Firman : Bersatu dan BangkitRabu, 28 Oktober 2020Pesta St. Simon Zelot dan St. Yudas Tadeus (Rasul)Bacaan Injil: Lukas 6:12-19 “Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah” (Luk 6:12) Saudari/a ku ytk,.Bersamaan dengan Pesta dua rasul Santo Simon Zelot dan Santo Yudas Tadeus pada hari ini, bangsa…

  • Lembut dan Tegas

    Rabu, 9 November 2022Pesta Pemberkatan Gereja Basilika LateranBacaan: Yoh 2:13-22 Saudari/a ku ytk.,Pada hari ini Gereja merayakan Pesta Pemberkatan Gereja Basilika Lateran. Basilika Yohanes Lateran ini didirikan oleh kaisar Konstantinus Agung, putera Santa Helena, tahun 324. Basilika agung pertama ini melambangkan kemerdekaan dan perdamaian. Basilika ini menjadi gereja katedral untuk Uskup Agung Roma sekaligus Sri…

  • La Bocca della Verità

    Percik Firman : La Bocca della VeritàSabtu, 12 September 2020Bacaan Injil : Luk 6:43-49 “Yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya” (Luk 6:45) Saudari/a ku ytk.,Di kota Roma ada salah satu gereja yang banyak dikunjungi peziarah. Nama gereja itu adalah gereja Santa Maria in Cosmedin. Di teras gereja itu ada patung La Bocca della Verità, yang…

  • Pertobatan Hati

    Percik Firman : Pertobatan HatiMinggu Biasa XXII, 29 Agustus 2021Bacaan Injil: Mrk. 7:1-8.14-15.21-23 Saudari/a ku ytk.,Dalam salah satu sarasehan yang membahas seputar iman Katolik, ada seorang OMK yang bertanya pada saya: “Romo, saya ditanya teman muslim. Kenapa kamu orang katolik makan B2 dan B1? Bukankah itu makanan haram? Mohon penjelasan, Romo.” Soal haram dan halal…

  • Perlu Ketegasan

    Percik Firman: Perlu KetegasanMinggu Biasa IV, 31 Januari 2021Bacaan Injil : Mrk 1:21-28 “Yesus menghardiknya, kata-Nya: ‘Diam, keluarlah dari padanya!’” (Mrk 1:25) Saudari/a ku ytk.,Santo Antonius Abas (250-356) pernah memberikan kesaksian: “Setan takut pada kita ketika kita berdoa dan bermatiraga. Setan juga takut ketika kita rendah hati dan lemah lembut. Terutama setan takut pada kita…