Refleksi

Mensyukuri Kelahiran

Pada bulan September Gereja merayakan Pesta Kelahiran Bunda Maria. Pesta ini dirayakan setiap tanggal 8 September.

Saat merefleksikan Pesta Kelahiran Bunda Maria ini, saya teringat akan sebuah keluarga yang selalu memberikan nama ‘Maria’ kepada semua anaknya, baik laki-laki maupun perempuan. Keluarga itu adalah keluarga pasutri Hubertus Soekarto Pudjosumarto dan Agnes Soekarti Pudjosumarto.

Pasutri tersebut memang selalu menyisipkan nama ‘Maria’ pada nama anak-anak mereka. Untuk anak laki-laki nama ‘Maria’ ditulis sesudah nama permandiannya. Sedangkan untuk anak perempuan, nama ‘Maria’ ditulis sebelum nama permandian.

Dari perkawinan Bapak Hubertus Soekarto Pudjosumarto dan Ibu Agnes Soekarti Pudjosumarto ini, lahirlah 9 anak sebagai buah cinta mereka (3 laki-laki dan 6 perempuan).

Inilah kesembilan anak mereka: Ignatius Maria Ismartono (pastor Serikat Yesus), Maria Bernadetta Retno Martani, Johannes Maria Trilaksyanta (Uskup Agung Semarang 2010-2015), Maria Theresia Dyah Widiarti, Maria Immaculatta Dewi Sri Lestari, Maria Agustina Sri Partini, Maria Caecilia Sri Harini, Johannes Berchmans Maria Bagus Nugroho, dan Maria Chatarina Isti Maretretty.

Pertanyaannya, mengapa pasutri tersebut memberikan nama Maria kepada kesembilan anaknya? Pemberian nama ‘Maria’ ini tentu bukan tanpa penyebab. Dalam buku “Menghidupi Teologi Berkah bersama Mgr. J. Pujasumarta” (Kanisius, 2018), diuraikan bahwa pasutri tersebut adalah pengagum fanatik Bunda Maria. Selain itu, sosok Maria menjadi perekat kuat hubungan mereka berdua.

Pada waktu itu, dikisahkan Soekarto mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama ketika memandang Soekarti yang bekerja sebagai perawat di Rumah sakit Boro, Kulonprogo, Yogyakarta. Soekarto berhasil merebut hati Soekarti setelah berdoa novena tiga kali Salam Maria selama sembilan kali di Gua Maria Sendang Sono, Promasan, Yogyakarta.

Dengan kata lain, dengan perantaraan Bunda Maria-lah, Tuhan menyatukan pemuda Soekarto dan pemudi Soekarti yang kebetulan bernama nyaris serupa ini. Untuk itulah, nama Maria sebagai pemersatu keduanya selalu ingin mereka abadikan dalam buah cinta mereka.

Makna Pesta Kelahiran
Peristiwa kelahiran adalah peristiwa syukur dan sukacita. Kitab Suci selalu mewartakan bahwa orang beriman selalu menyambut kelahiran dengan sukacita dan penuh pengharapan. Sebut saja misalnya kisah kelahiran Samuel, kelahiran Yohanes Pembaptis, kelahiran Yesus, dsb.

Kita memang tidak mempunyai informasi biblis dan historis tentang kapan dan di mana Bunda Maria dilahirkan. Penyebutan nama Santo Yoakim dan Santa Ana sebagai orangtuanya pun berdasarkan Tradisi dan Injil Apokrif.

Informasi tentang kelahiran Bunda Maria ditemukan dalam kitab Proto-Injil Yakobus, sebuah Kitab Apokrif yang telah ada antara tahun 100 hingga 200 M. Mulai bab V dalam Kitab Apokrif tersebut disampaikan informasi detil mengenai kelahiran Bunda Maria.

Tradisi Pesta Kelahiran Bunda Maria diperkirakan berasal dari Yerusalem sekitar abad VI. Tetapi sejak sekitar abad V sudah terdapat bukti adanya sebuah gereja yang didedikasikan kepada Santa Ana, sebelah utara Bait Suci di Yerusalem. Sophronius, seorang Patriarkh (Beatrik) Yerusalem, menyatakan pada tahun 602, bahwa gereja itu didirikan di atas tempat kelahiran Bunda Maria.

Pesta kelahiran Bunda Maria yang berawal dari tradisi Gereja Timur ini mulai berkembang di Gereja Barat menjelang abad VII. Paus Santo Sergius I menyusun sebuah doa litani dan prosesi yang menjadi bagian dari perayaan liturgi pada hari pesta ini.

Paschasius Radbertus menulis bahwa pesta ini disebarluaskan ke Gereja di seluruh dunia dan menjadi sebuah pesta di Gereja Latin pada tahun 1007.

Pesta ini ingin menunjukkan betapa besar Gereja Katolik mengasihi dan menghormati Bunda Maria sebagai perempuan yang mempunyai peranan besar di dalam karya keselamatan Allah.

Kelahiran Bunda Maria merupakan sebuah sukacita yang besar, karena menjadi “fajar keselamatan”, sebagaimana yang diajarkan Paus Paulus VI dalam Anjuran Apostolik Marialis Cultus tentang devosi kepada Bunda Maria dan pengembangannya, 2 Februari 1974.

Pesta Kelahiran Bunda Maria ini juga mau menyampaikan pesan bahwa dunia telah lama berada dalam kegelapan dosa dan dengan kedatangannya muncullah seberkas terang. Terang yang muncul pada kelahiran Santa Perawan Maria ini mengawali kedatangan Kristus, Sang Terang Dunia. Kelahiran Bunda Maria menjadi awal dari dunia yang lebih baik (Origo mundi meliorism).

Kehadiran Bunda Maria di dunia ini tidak terpisahkan dari Yesus Kristus. Bunda Maria menerima panggilan luhur dan peran yang unik dalam karya keselamatan Allah bagi manusia. Kelahiran Bunda Maria menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah keselamatan manusia. Kelahirannya menjadi kabar sukacita bagi umat manusia.

Kehadiran Bunda Maria merupakan salah satu ‘cetak biru’ Allah untuk menyelamatkan umat manusia setelah jatuh ke dalam dosa. Maka, Gereja Katolik memberikan tempat yang istimewa bagi Bunda Maria. Salah satunya adalah dengan merayakan hari kelahirannya.

# Y. Gunawan, Pr

Sumber : Majalah PRABA, Edisi September 2019.

Similar Posts

  • Sambutan yang Ramah

    Percik Firman: Sambutan yang RamahRabu, 29 Juli 2020PW Santa MartaBacaan : Lukas 10:38-42 “Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan ke Yerusalem, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya” (Luk 10:38) Saudari/a ku ytk.,Pada suatu hari kami para rama yang berkarya di Paroki Banyumanik meluangkan waktu pergi berziarah ke…

  • Tidak Mustahil

    Percik Firman : Tidak MustahilSenin, 28 Februari 2021Bacaan Injil: Mrk. 10: 17-27 Saudari/a ku ytk.,Sabda Tuhan Yesus hari ini sangat inspiratif dan menguatkan hidup peziarahan kita di masa yang sulit. Dia bersabda, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.” Sabda ini disampaikan saat ada…

  • Gerakan 7 M Yesus

    Senin, 28 November 2022Bacaan Injil: Mat. 8: 5-11 Saudari/a ku ytk.,Untuk memutus penyebaran virus korona selama masa pandemi Covid-19, digencarkan adanya ajakan dan gerakan 7 M dari berbagai pihak, baik dari pemerintah, tim satgas, tokoh agama, pemimpin lembaga, dan kita semua. Gerakan 7 M itu, yaitu Memakai masker, Mencuci tangan, Menjaga jarak, Membatasi mobilitas, Menjauhi…

  • Bersinar di Tempat yang Tepat

    Percik Firman: Bersinar di Tempat yang TepatKamis, 28 Januari 2021PW Santo Thomas AquinasBacaan Injil : Mrk 4:21-25 “Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian” (Mrk 4:21) Saudari/a ku ytk.,Kita pernah mendengar ada ungkapan: “The right man in the right place”. Orang…

  • Dasar yang Kokoh

    Percik Firman: Dasar yang KokohKamis, 25 Juni 2020Bacaan Injil: Mat 7:21-29 “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu” (Mat 7:24) Saudari/a ku ytk.,Kita semua diharapkan tidak hanya menjadi pembaca dan pendengar sabda Tuhan, tetapi juga menjadi pelaksana sabda Tuhan. Dalam bacaan Injil hari…

  • Bangga dengan Salib

    Percik Firman : Bangga dengan SalibSenin, 14 September 2020Pesta Salib SuciBacaan Injil: Yoh 3:13-17 “Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yoh 3:17) Saudari/a ku ytk.,Beberapa waktu yang lalu di tengah masyarakat kita ada semacam “ketakutan” dari sekelompok orang. Mereka takut akan gambar atau benda yang berbentuk…