Berdoa di Gunung

Percik Firman: Berdoa di Gunung
Selasa, 6 Agustus 2024
Pesta Yesus Menampakkan Kemulian-Nya
Bacaan Injil: Mat 17:1-9

Kata Petrus kepada Yesus: “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini.” (Mat 17:4)

Saudari/a ku ytk.,
Apakah Anda pernah membuat bahagia orang lain dengan doa-doa Anda selama ini? Jika sudah, puji Tuhan.

Doa itu memberikan daya yang luar biasa dalam hidup kita. Saat doa spontan dalam laudes/ibadat pagi dan vesper/ibadat sore, kita bisa mendoakan orang lain (meninggalkan ego kita): mendoakan org sakit, yg dipenjara, korban perang, org yg butuh pekerhaan, jiwa-jiwa di api penyucian, keluarga, donatur, dll.

Pada hari ini Gereja merayakan Pesta Yesus menampakkan kemuliaan-Nya (Transfigurasi). Dalam bacaan Injil hari ini dikisahkan bagaimana Tuhan Yesus naik ke Gunung Tabor bersama dengan tiga murid inti, yakni Petrus, Yohanes dan Yakobus.

Untuk apa Yesus naik gunung yang tinggi? Dalam Kitab Suci, gunung menjadi symbol tempat perjumpaan manusia dengan Allah. Yesus naik gunung untuk berdoa. Di tengah-tengah karya pelayanan-Nya, Yesus mengkhususkan waktu untuk menyepi, masuk dalam keheningan, dan berdoa kepada Allah Bapa-Nya.

Teladan Yesus ini semakin menegaskan kepada kita mengenai pentingnya doa dalam kehidupan kita. Di tengah kesibukan, pekerjaan, dan kegiatan-kegiatan kita sehari-hari, yang seringkali menyita banyak waktu dan tenaga, kita harus berani mengkhususkan waktu untuk masuk dalam keheningan dan berdoa.

Doa yang kita lakukan dengan tekun dan sungguh-sungguh, akan menghasilkan buah dalam kehidupan kita sebagaimana dialami Yesus. Wajah Yesus berubah dan bercahaya seperti matahari, dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.

Doa ternyata dapat memancarkan aura kasih. Dalam aura kasih itu, ada kemuliaan dan kesucian. Maka, kita seringkali menjumpai bahwa orang-orang yang tekun berdoa itu memancarkan kesucian hidup.

Doa juga menjernihkan arah dan tujuan misi Yesus ke Yerusalem. Dalam doa-Nya, Yesus berjumpa dengan Musa dan Elia. Mereka adalah dua tokoh besar dalam Perjanjian Lama terkait dengan karya keselamatan Allah. Musa simbol sang tokoh pembebas dan Elia simbol para nabi utusan Allah dalam menyampaikan sabda Allah.

Doa dapat menjadikan kita bisa memancarkan kebahagiaan bagi orang lain. Setelah Yesus berdoa, Petrus dan teman-temannya merasakan kebahagiaan, sehingga berkata, “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini.” Artinya, doa itu membuahkan kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup kita dan sesama.

Kalau kita menghayati hidup doa kita, kehadiran kita di mana pun akan membawa kebahagiaan bagi sesama. Wajah kita menampakkan keteduhan. Senyuman kita membawa kegembiraan. Kata-kata kita menghibur dan mencerahkan. Tindakan kita membawa berkat. Orang lain merasa nyaman berada di dekat kita.

Di mana tempat favoritmu berdoa? Bagaimana kehidupan doamu akhir-akhir ini? Berkah Dalem dan salam teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).# Y. Gunawan, Pr

Similar Posts

  • Populi Vox Dei

    Percik Firman: Vox Populi Vox DeiSenin, 7 Desember 2020PW St. Ambrosius,UskupBacaan Injil: Luk 5: 17-26 “Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia: ‘Hai saudara, dosamu sudah diampuni” (Luk 5:20) Sdri/a ku ytk.,Dengan kaki yang dimiliki kita dapat pergi kemana-mana dengan leluasa. Kita bisa berjalan, berlari, bergowes ria, naik gunung, memanjat pohon, dsb. Dengan kaki kita…

  • Komitmen Cinta

    Percik Firman: Komitmen CintaJumat, 12 Juni 2020Bacaan Injil: Mat 5: 27-32 “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (Mat 5:28) Saudari/a ku ytk.,Dalam sebuah kesempatan penyelidikan kanonik calon manten beda agama, terucap sharing pengalaman yang menarik. Pihak yang non Katolik mengungkapkan bahwa dia mau menikah dengan orang Katolik…

  • Panggilan Itu Unik

    Rabu, 30 November 2022Pesta St. Andreas, RasulBacaan Injil: Mat. 4:18-22 “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Mat 4:19) Sdri/a ku ytk.,Panggilan Tuhan itu unik. Tuhan seringkali memilih dan memanggil seseorang melalui peristiwa sederhana, pengalaman hidup sehari-hari. Bukan melalui peristiwa yang spektakuler dan gegap gempita. Bahkan tak jarang Tuhan memilih kakak beradik menjadi…

  • Kekuataan Pujian

    Percik Firman : Kekuataan PujianSabtu/Minggu, 15-16 Agustus 2020Hari Raya Maria Diangkat ke SurgaBacaan Injil: Lukas 1:39-56 “Elisabet berseru dengan suara nyaring: ‘Diberkatilah engkau di antara semua wanita dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:42) Saudari/a ku ytk.,Merenungkan bacaan Injil “Perjumpaan Maria dan Elisabeth yang sedang hamil” pada Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga (Maria…

  • Terpesona dengan Yesus

    Percik Firman: Terpesona dengan YesusJumat Pertama, 5 Juni 2020PW St. Bonifasius (Uskup dan Martir)Bacaan Injil: Mrk 12: 35-37 “Orang banyak yang besar jumlahnya mendengarkan Dia dengan penuh minat.” (Mrk 12:37) Sdri/a yang terkasih,Para ahli spiritual mengungkapkan bahwa orang beriman Kristiani itu mempunyai dinamika dalam relasi dengan Yesus. Dinamika itu digambarkan dengan tiga kata, yaitu melihat,…

  • Konsisten Perkataan dan Perbuatan

    Percik Firman : Konsisten Perkataan dan PerbuatanSelasa, 27 Feb 2024Bacaan Injil: Mat 23:1-12 Saudari/a ku ytk.,Ada sebuah pepatah Jawa yang berbunyi, “Gajah diblangkoni, isoh kojah ora isoh nglakoni”. Artinya, bisa berbicara tetapi tidak bisa menjalani. Terjadi ketidak-konsistenan antara perkataan dan perbuatan. Dalam bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus menegaskan pentingnya kesesuaian antara perkataan dan perbuatan,…