Betapa Bahagianya

Percik Firman: Betapa Bahagianya
Kamis, 6 Agustus 2020
Pesta Yesus Menampakkan Kemulian-Nya
Bacaan Injil: Mat 17:1-9

Kata Petrus kepada Yesus: “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini.” (Mat 17:4)

Saudari/a ku ytk.,
Apakah Anda pernah membuat bahagia orang lain dengan doa-doa Anda selama ini? Jika sudah, puji Tuhan. Doa itu memberikan daya yang luar biasa dalam hidup kita.

Pada hari ini Gereja merayakan Pesta Yesus menampakkan kemuliaan-Nya (Transfigurasi). Dalam bacaan Injil hari ini dikisahkan bagaimana Tuhan Yesus naik ke Gunung Tabor bersama dengan tiga murid inti, yakni Petrus, Yohanes dan Yakobus.

Untuk apa Yesus naik gunung yang tinggi? Dalam Kitab Suci, gunung menjadi symbol tempat perjumpaan manusia dengan Allah. Yesus naik gunung untuk berdoa. Di tengah-tengah karya pelayanan-Nya, Yesus mengkhususkan waktu untuk menyepi, masuk dalam keheningan, dan berdoa kepada Allah Bapa-Nya.

Teladan Yesus ini semakin menegaskan kepada kita mengenai pentingnya doa dalam kehidupan kita. Di tengah kesibukan, pekerjaan, dan kegiatan-kegiatan kita sehari-hari, yang seringkali menyita banyak waktu dan tenaga, kita harus berani mengkhususkan waktu untuk masuk dalam keheningan dan berdoa.

Doa yang kita lakukan dengan tekun dan sungguh-sungguh, akan menghasilkan buah dalam kehidupan kita sebagaimana dialami Yesus. Wajah Yesus berubah dan bercahaya seperti matahari, dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.

Doa ternyata dapat memancarkan aura kasih. Dalam aura kasih itu, ada kemuliaan dan kesucian. Maka, kita seringkali menjumpai bahwa orang-orang yang tekun berdoa itu memancarkan kesucian hidup.

Doa juga menjernihkan arah dan tujuan misi Yesus ke Yerusalem. Dalam doa-Nya, Yesus berjumpa dengan Musa dan Elia. Mereka adalah dua tokoh besar dalam Perjanjian Lama terkait dengan karya keselamatan Allah. Musa simbol sang tokoh pembebas dan Elia simbol para nabi utusan Allah dalam menyampaikan sabda Allah.

Doa dapat menjadikan kita bisa memancarkan kebahagiaan bagi orang lain. Setelah Yesus berdoa, Petrus dan teman-temannya merasakan kebahagiaan, sehingga berkata, “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini.” Artinya, doa itu membuahkan kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup kita dan sesama.

Kalau kita menghayati hidup doa kita, kehadiran kita di mana pun akan membawa kebahagiaan bagi sesama. Wajah kita menampakkan keteduhan. Senyuman kita membawa kegembiraan. Kata-kata kita menghibur dan mencerahkan. Tindakan kita membawa berkat. Orang lain merasa nyaman berada di dekat kita.

Sebagai seorang formator di Seminari Mertoyudan, saya berharap agar para seminaris juga dapat berkata seperti Santo Petrus, “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini”. Semoga mereka bahagia tinggal dan dididik di Seminari tertua di Indonesia yang luasnya 5,6 hektar dengan kebun yang rindang, udara sejuk, fasilitas memadai, dan staf formator yang baik.

Pada tahun ajaran 2020-2021 ada 238 seminaris. Situasi saat ini tidak mudah terkait dengan wabah Covid-19 di berbagai tempat. Terjadi suasana transisi atau peralihan dalam model pembelajaran di kelas, dari model belajar tatap muka dengan bapak/ibu guru menjadi pembelajaran online.

Pertanyaan refleksinya, adakah tempat favorit Anda untuk berdoa? Bagaimana hidup doa Anda akhir-akhir ini? Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bumi Mertoyudan.

# Y. Gunawan, Pr

Similar Posts

  • Mutiara yang Berharga

    Percik Firman : Mutiara yang BerhargaMinggu Biasa XVII, 26 Juli 2020Bacaan Injil: Mat 13:44-52 “Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu” (Mat 13:46) Saudari/a ku ytk.,Pada tahun ini ada beberapa seminaris Mertoyudan yang merupakan anak tunggal. Sejauh saya tahu, orangtuanya pun mendukung anaknya masuk seminari untuk…

  • Panggilan Kekudusan

    Percik Firman : Panggilan KekudusanRabu, 1 November 2023HR Semua Orang KudusBacaan Injil: Mat 6:1-12a “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat 5:9) Saudari/a ku ytk,.Merenungkan bacaan Injil pada Hari Raya Semua Orang Kudus hari ini, saya teringat Tanya Jawab seorang wartawan kepada Sri Paus. Ketika Yohanes Paulus II menjadi Paus…

  • Providentia Dei

    Percik Firman: Providentia DeiSelasa, 5 April 2022Bacaan Injil: Yoh 8:21-30 Saudari/a ku ytk.,Saat merenungkan sabda Tuhan hari ini saya teringat akan sebuah kisah inspirarif. Saya yakin Anda sudah familiar dengan kisah ini. Bagi yang sudah tahu semoga kisah ini bisa menyegarkan kembali spirit Anda, dan yg belum tahu semoga bisa menginspirasi. Seorang pemain akrobatik menunjukkan…

  • Mengandalkan Tuhan

    Percik Firman: Mengandalkan TuhanSelasa, 11 Agustus 2020PW Santa Klara dari Assisi, PerawanBacaan Injil: Mat 18: 1-5.10,12-14 “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Mat 18:3) Saudari/a ku ytk.,Bacaan Injil pada peringatan wajib Santa Klara hari ini mengingatkan kita untuk membangun…

  • Ludah dan Lidah

    Ludah dan Lidah Baca: Mrk. 8:22-26 Meludah dalam kebanyakan masyarakat dianggap tindakan yang tidak pantas, apalagi di hadapan orang lain. Meludahi orang itu sebuah tindakan penghinaan. Yesus sendiri mengalami penghinaan itu ketika orang Yahudi meludahi Dia. (Mrk.15:19) Mengapa Yesus meludah untuk menyembuhkan orang yang sakit? Dalam kebanyakan tradisi, ternyata ludah itu dianggap juga berkhasiat untuk…