Wabah atau pandemi Covid-19 terjadi di banyak negara di dunia ini. Bermula dari kota Wuhan, Cina. Lalu menyebar ke banyak negara. Termasuk di Indonesia. Virus ini menyerang siapa pun tanpa pilih-pilih, baik orang kaya atau miskin, pria atau wanita, imam atau umat, anak kecil atau orang tua, orang beragama atau tak beragama. Korban yang sakit dan yang meninggal pun banyak. Pasien yang sembuh pun juga makin banyak.
Menurut data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di website https://covid19.go.id per tanggal 14 Mei 2020, ada 216 negara yang mengalami dampak Covid-19 ini. Korban yang meninggal dunia sebanyak 294.190 orang. Sedangkan di negara Indonesia, ada 1.043 orang meninggal dunia, 3.518 orang sembuh, dan 16.006 orang positif.

Pembinaan Integral
Menyikapi adanya Covid-19 tersebut, komunitas Seminari Menengah Mertoyudan melakukan berbagai kebijakan. Demi mencegah dan mengurangi menyebarnya wabah Covid-19, Staf Seminari memutuskan bahwa para seminaris tidak libur ke rumah. Menurut Rama Leo Agung Sardi SJ, rektor Seminari Mertoyudan, kebijakan ini dibuat demi pembinaan (formation) yang integral dalam tiga bidang, yakni Sanctitas (kesucian atau kerohanian), Scientia (pengetahuan atau hidup studi), dan Sanitas (kesehatan).
Mereka tetap menjalani pembinaan atau formatio di seminari secara integral. Proses belajar mengajar ditempuh dengan beberapa metode, seperti: bapak/ibu guru memberi tugas, model pembelajaran daring atau online dengan google classroom, para staf seminari tetap mengadakan tatap muka di kelas, dan kehadiran guru dibatasi mengikuti protokol yang dibuat.

Seminari Peduli
Meski para seminaris sudah sekitar 2 bulan tidak bisa keluar kompleks seminari dan melihat situasi masyarakat secara langsung,  mereka masih tetap punya inisiatif untuk peduli membantu korban Covid dengan cara sederhana. Untuk menunjukkan kepedulian dan solidaritas dengan tim medis dan para korban Covid-19, seminari mengadakan beberapa gerakan.
Ada beberapa video yang dibuat para seminaris untuk memberikan dukungan moral bagi para dokter dan tim medis. Video-video itu sudah diposting di youtube. Selain itu, juga setiap hari mendoakan Doa Mohon Perlindungan dari Wabah Virus Corona dari Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang.
Mereka juga mengumpulkan pakaian pantas pakai untuk disumbangkan, mengumpulkan dana APP untuk korban Covid-19, membuat tote bag atau tas seminari dengan sistem pre order, lalu pemesanan dan pengiriman secara online. Gerakan Bersama Seminari Membeli untuk Berbagi ini di bawah koordinasi Pamong Umum bekerja sama dengan OSIS Seminari. Kontak person pemesanan dengan Fr. Y. Kristi Andayanto (sekretaris kepamongan umum). Pembayaran ditangani oleh Fr. Sonny Sutanto. Tanggapan umat sangat luar biasa.
Pemesanan tote bag dengan sistem pre order. Harganya 75 ribu. Tote bag yang dipesan ada 1.774 pcs. Padahal prediksi kami hanya 300-an tote bag, tutur Fr. Kristi.
Pengiriman pemesanan dilakukan sampai tiga tahap. Hal ini terkait dengan proses produksi dan packing yang membutuhkan waktu yang cukup lama. Seluruh keuntungan dari kegiatan disumbangkan ke KARINA KAS untuk membantu para korban covid.
Dari penjualan tas atau totebag seminari beberapa waktu yang lalu, terkumpul dana yang disumbangkan sebesar Rp 108.682.552,-. Dana tersebut sudah disalurkan melalui Karina KAS pada tanggal 12 Mei 2020. Tanda bukti terima diserahkan oleh Rama Martinus Sutomo Pr (Direktur Karina KAS) kepada Rama Leo Agung Sardi SJ (Rektor Seminari Mertoyudan) di Seminari Mertoyudan. Terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung gerakan seminari peduli korban covid ini.

# Y. Gunawan, Pr