Keluarga memang dasar yang pertama dan utama untuk mendidik anak berkarakter. Peran dan keteladanan orang tua merupakan kunci untuk mengembangkan karakter anak secara utuh dan positif. Orang tua yang mempunyai semangat menghargai pribadi lain akan menumbuhkan semangat toleran dan menghargai dalam diri anak

Peran keluarga memang esesensial, tetapi di sisi lain peran sekolah sebagai lembaga pendidikan juga tidak kalah pentingnya. Mengingat pentingnya karkater, maka pemerintah mencanangkan program penguatan karakter anak bangsa melalui pendidikan. Lalu apa yang harus dilakukan sekolah untuk mampu mengembangkan penguatan karakter pada anak didiknya ? apakah sekolah hanya akan dijadikan sarana transfer pengetahuan dan ketrampilan saja ? Tentunya tidak, sekolah juga harus memampukan diri secara optimal untuk dapat mentransfer nilai-nilai keutamaan hidup yang menjadi dasar penguatan karakter dalam proses pembelajarannya.

Foto di Pondok Pesantren 2

Live in intereligiusitas, inilah program penguatan karakter yang dikembangkan SMA Seminari sebagai lembaga pendidikan calon imam dalam upaya penguatan karakter anak bangsa. Program ini adalah program tahunan yang dilaksanakan sekali dalam setahun. Tujuan dari program ini adalah untuk membangun karakter siswa yang menghidupi semangat menggereja dan memasyarakat, semangat untuk peduli, toleran, menghargai orang lain dan perbedaan dan memiliki kehendak kuat untuk terlibat dalam dialog antar agama dan kepercayaan.

Fokus kegiatan live in intereligius ini adalah pada usaha untuk membangun persaudaraan dan persahabatan dengan saudara-saudari yang berbeda keyakinan. Usaha tersebut ditempuh dengan menghargai nilai-nilai keutamaan dan tradisi yang baik yang ditemukan dalam komunitas yang berbeda keyakinan. Dalam konteks formasi, kegiatan ini diharapkan bisa membatu para siswa (seminaris) untuk menempa diri menjadi calon imam yang terbuka, berani srawung, dan membina persahabatan dengan umat beragama lain.