Konsekwensi Ikut Yesus

Percik Firman: Konsekwensi Ikut Yesus
Sabtu Imam, 4 Mei 2024
Bacaan Injil: Yoh 15:18-21

“Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu” (Yoh 15:20)

Saudari/a ku ytk.,
Apakah Anda pernah dianiaya sebagai murid Kristus pada zaman ini? Atau disingkiri oleh rekan sekantor karena iman katolik? Apa hak-hak Anda dicabut dan tidak diberikan karena Anda orang Katolik? Kenaikan jabatan dipersulit?

Menjadi murid Yesus tidak selalu mudah. Ada konsekwensi dan risiko yang harus dihadapi. Sejak awal Gereja Perdana, para pengikut Kristus mengalami penganiayaan, pengejaran dan penderitaan. Bahkan kematian menjadi bukti nyata. Terjadi kemartiran di mana-mana. Ada orang tidak suka dengan iman Katolik, lalu berusaha menyingkirkan.

Sabda Tuhan hari ini menegaskan hal itu. Dalam amanat perpisahan-Nya, Yesus mengungkapkan dengan tegas, “Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu”. Sejak awal Yesus sudah mengingatkan kita semua akan hal ini.

Banyak orang Katolik dianiaya dan rela berkorban demi imannya pada Kristus. Mereka meninggal sebagai martir.

Dalam salah satu audiensi dengan para peziarah di Roma tahun 2019, Paus Fransiskus pernah mengungkapkan, “Kemartiran adalah suasana kehidupan seorang kristiani. Martir akan selalu ada di antara kita. Inilah tanda bahwa kita berada di jalan Yesus, inilah berkat Tuhan. Di antara umat Allah ada beberapa orang yang bersaksi dengan kemartiran”.

Salah satu contoh pribadi yang wani nggetih, punya komitmen dan siap menanggung mengikuti Yesus adalah Santo Stefanus. Dia adalah orang pertama yang mengikuti jejak langkah Yesus Sang Guru dengan menjadi martir. Dia wafat seperti Yesus mempercayakan hidup-Nya kepada Allah dan mengampuni para penganiaya-Nya.

Ada dua sikapnya yang utama yakni: ia mempercayakan hidupnya kepada Allah dan mengampuni. Sikap Stefanus itu adalah undangan yang ditujukan kepada kita masing-masing untuk menyambut segala sesuatu dengan iman.

Keberadaan kita ditandai tidak hanya dengan suasana yang membahagiakan, tetapi juga dengan saat-saat kesulitan dan kehilangan. Percaya kepada Allah membantu kita untuk menerima saat-saat sulit serta menjalaninya sebagai sebuah kesempatan untuk bertumbuh dalam iman dan membangun hubungan baru dengan saudara-saudara kita.

Dari sosok Santo Stefanus kita juga dapat belajar untuk mengampuni. Mengampuni orang yang telah melukai, menganiaya, bahkan membunuh. Hal ini tidak mudah dilakukan. Paus Fransiskus berpesan, “Pengampunan melapangkan hati, membangkitkan keikutsertaan, memberi ketenangan dan kedamaian”.

Stefanus dapat mengampuni para pembunuhnya karena dia berdoa, sehingga dipenuhi dengan Roh Kudus. Dari doa, muncul kekuatan untuk menderita sebagai pengikut Kristus.

Kita harus tekun berdoa kepada Allah agar mencurahkan Roh Kudus ke atas diri kita untuk dapat menghadapi tantangan dan kesulitan, pengalaman suka duka, jatuh bangun dalam mengikuti Yesus saat ini.

Siapkah kita menghadapi konsekwensi atas pilihan kita ikut Yesus pada masa sekarang ini? Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).# Y. Gunawan, Pr

Similar Posts

  • Betulkah Tuhan Tidak Peduli?

    Percik Firman: Betulkah Tuhan Tidak Peduli?Sabtu, 30 Januari 2021Bacaan Injil : Mrk 4:35-41 “Murid-murid-Nya membangunkan Yesus dan berkata kepada-Nya: ‘Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?’” (Mrk 4:38) Saudari/a ku ytk.,Situasi pandemi Covid-19 saat ini bisa memunculkan rasa protes dan marah dalam diri kita kepada Tuhan. Sudah banyak orang yang meninggal dunia, baik imam atau…

  • Siapakah Yesus bagiku?

    Percik Firman : Siapakah Yesus bagiku?Selasa, 29 Juni 2021HR Santo Petrus dan Paulus, RasulBacaan Injil: Mat. 16:13-19 Saudari/a ku ytk.,Setiap orang biasanya mempunyai barang kekhasan yang dimiliki. Barang itu bisa menjadi ciri khas orang tersebut. Jika melihat barang itu, kita langsung kenal atau ingat pribadi yang bersangkutan. Misal, Santo Yusuf dengan peralatan tukangnya, Santo Paulus…

  • Duabelas

    Duabelas (Mt. 10:1-7) Pada awal 2023, Seminari menanam duabelas pohon Norfolk. Itu atas usulan benefaktor yang menyumbang. Mengapa duabelas? Katanya, “Itu melambangkan duabelas rasul, fondasi Gereja”. Sangat masuk akal. Lalu disetujui bahwa duabelas pohon Norfolk itu ditanam di taman Domus Patrum. Harapannya, formasi di Seminari sungguh menggambarkan formasi iman yang kokoh. Angka duabelas dalam Alkitab…

  • Memaknai Hidup

    Percik Firman: Memaknai HidupRabu, 6 Mei 2020Bacaan Injil: Yoh 12:44-50 “Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya” (Yoh 12:47) Saudari/a ku ytk.,Merenungkan sabda Tuhan hari ini saya teringatkan akan sosok Didi Kempot atau Dionisius Prasetyo, penyanyi dan pencipta lagu campur sari. Dia diberi sebutan oleh para penggembarnya sobat Ambyar sebagai Godfather of Broken…

  • Berprasangka Buruk

    Percik Firman : Berprasangka BurukSenin, 24 Agustus 2020Pesta Santo Bartolomeus, RasulBacaan Injil: Yoh 1:45-51 “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara” (Yoh 1:48) Saudari/a ku ytk.,Tak jarang kita menjumpai orang-orang yang mudah berprasangka buruk kepada orang lain dalam hidup sehari-hari. Mereka kadang cenderung menyebarkan informasi yang tidak benar atau hoaks….