Di Dekat Salib dan Kematian Tuhan

Kita bisa membayangkan dan setuju bahwa Maria mengikuti Yesus dalam kegiatan publik dengan ketidakhadirannya. Ada disebut oleh Lukas perempuan-perempuan yang mengikuti Yesus (Lukas 8) tetapi  Maria tidak ada di sana. Kalau itu berkenaan dengan derita dan sengsara Yesus Putera-nya, kita yakini adanya  suatu peran pasif dan rasa bakti akan kehendak Allah. Bahwa Maria sendiri menderita adalah pasti dan Maria didewasakan oleh Puteranya yang makin hancur (di dalam surat Ibrani tertulis “dalam penderitaan ia belajar ketaatan – Ibrani 5:8).  Dari perspektif dinamika seorang manusia beriman, Maria taat sejak awal tetapi dalam perjalanan lanjut mesti masih belajar taat. Ada pahit dan sakit di dalam menyerahkan semuana kepada Allah. Di dalam tulisan St. Lukas, Maria dihadirkan berbeda dengan Petrus. Maria diam; tetapi dlaam diamnya dengan jelas Lukas melihat peranan Maria di dalam Gereja. Inilah momen puncak dari pendirian komunitas Gereja di sana Maria hadir bersama para rasul (Kisah 1:12-14).

Sementara itu, St. Yohanes melukiskan dengan baik kehadiran Maria di salib Tuhan (Yohanes 19:25-27). Kehadirannya yang singkat memberi nilai definitif dan lestari: Maria menerima Puteranya yang meninggal, Maria menerima kemanusiaan Puteranya yang hancur. Maria menerima yang lain. Maria menerima Yohanes dan membuka hatinya untuk menerima putera-puteri Gereja dan menjadi bunda kita. Kita yang berdevosi kepada Maria telah banyak mengalami kebenaran kehadiran Maria. Di sini Fiat Maria terjadi lagi. Kisah Yohanes mengembalikan Maria kepada Putera. Memasukkan Maria ke saat Yesus diangkat dan dimuliakan di salib. Dengan begitu Maria membuat persembahan definitif dirinya dan total dengan menyambut Yesus yang wafat. Itulah mengapa orang sering menyebut Maria sebagai  “The Mother of saying Yes”.

Dari Maria kita belajar bahwa jalan kerohanian yang makin dewasa itu adalah adalah meniti pematang salib panggilan dan kehidupan. Ada saat-saat kita berada di dalam antusiasme, tetapi tidak bisa dihindari bahwa suatu ketika mesti memasuki saat-saat gelap dan memuncak menjadi pada momen salib, di sana kita menyambut Tuhan yang wafat sebagai sebentuk pemberian diri dan juga bersedia untuk mati. Dari Maria kita belajar menyambut salib Tuhan supaya untuk selanjutnya sanggup menyambut salib-salib kita sendiri. Ketika kita berkata FIAT seperti Maria, sejatinya kita sedang menyatukan diri dengan jalan Tuhan. Ketika kita mengatakan “memanggul salib” sejatinya kita ambil bagian dari salib Tuhan karena Tuhan sendiri yang sudah secara sempurna memanggul dan wafat di salib.

***

Dengan dan dalam wafat-Nya terlaksana secara penuh kebenaran Kitab Suci dan karya Tuhan. Tetapi apa arti sejatinya kematian Tuhan tersebut?

Sebagai sebuah peristiwa historis pada dirinya kematian merupakan sesuatu peristiwa yang sederhana dan jelas. Sabat mendekat, mereka yang tersalib tidak bisa dibiarkan tergantung di salib. Menurut kebiasaan, kaki diremukkan. Tetapi baru pertama kali dalam sejarah, dari arkeologi ditemukan tulang-tulang seorang tersalib bisa direkonstruksi posisi kakinya. Mengagumkan. Dan kaki Yesus tidak diremukkan itu. Lambungnya saja ditombak. Dari sana – interpretasi medis – mengalir darah dan yang mirip air. Itu peristiwa yang terjadi di seputar kematian Tuhan.

Dan St. Yohanes dari kenyataan tersebut memikirkan anak domba paskah. Catatan St. Yohanes mengundang kita untuk di salib mengkontemplasikan korban sejati. Dengan korban tersebut dipenuhi secara sempurna harapan bait Allah. Bait Allah yang hancur dan dibangun kembali adalah Yesus sendiri yang menjadi korban sempurna.

Air yang kita pandang dari lambung dalam kotemplasi kita tentang kematian Tuhan adalah air hidup, anugerah Roh kudus. Daman Injil Yohanes kita ingat bahwa sejak Yohanes bab 3 dan selanjutnya air tersebut adalah rahmat pembaptisan (disatukan dengan hidup dan kematian Tuhan). Sementara darah yang ditumpahkan dalam kematian adalah darah yang dikatakan Yesus yang membuahkan hidup kekal: “Yang meminum darahku akan memiliki hidup kekal” (Yohanes 6:54).

Untuk memetik buah rohani bagi kehidupan bakti sehari-hari, makna pertama kematian Tuhan adalah dilahirkannya hidup sakramental, baptis dan ekaristi. Yesus dengan dan dalam kematian-Nya benar-benar menjadi Bait Allah yang dihancurkan dan kemudian dibangun kembali. Begitu korban sempurna Tuhan dengan buahnya dilaksanakan. Dalam semua itu kehidupan Gereja diletakkan dasarnya.

Kematian Tuhan mengundang kita mendekati dengan adorasi dan  dengan keterbukaan hati supaya hidup ini diresapi oleh kebenaran-kebenaran salib hingga di puncak kematian. Dan kematian Tuhan itu berbuah berkah dan keselamatan. Kematian Tuhan itu memuat misteri yang paradoks dan sulit dimasuki oleh kodrat kemanusiawian kita. Kita diundang mendekat dengan mata hati, rasa dan seluruh kekuatan afektif sambil mencecap pelbagai misteri kehidupan Tuhan dan proyek besarnya: keselamatan kita, keselamatan setiap manusia. Kita melibatkan diri dalam semua itu, baik dalam arti membiarkan dan membuka diri untuk diselamatkan oleh salib dan wafat Tuhan maupun menjadi alat mengantar sesama sampai kepada keselamatan dan Sang Penyelamat . Semoga!

Seminari Menengah St. Petrus Canisius Mertoyudan
7 April 2020

L. A. Sardi S. J.

Bahan

Carlo Maria Martini, los Relatos de la Pasión, Madrid: San Pablo, 1994, hlm. 130-132, 153-156

Similar Posts

  • Bermurah Hati

    Percik Firman : Bermurah HatiRabu, 19 Agustus 2020Bacaan Injil: Mat 20:1-16a “Iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” (Mat 20:15) Saudari/a ku ytk.,Iri hati adalah salah satu dari 7 dosa pokok. Dosa pokok adalah dosa yang dapat menyebabkan dosa-dosa yang lain dan kebiasaan-kebiasaan buruk yang lain. Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) no. 1866, Santo Yohanes…

  • Menjual Tuhan

    Percik Firman : Menjual TuhanRabu, 31 Maret 2021Bacaan Injil: Mat 26:14-25 “Yudas berkata: ‘Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” (Mat 26:15) Saudari/a ku ytk.,Ada orang yang berpindah agama demi mendapat promosi jabatan. Ada pula yang demi karier berpindah agama. Ada orang yang berkomentar, “Tuhan ditukar dengan sepiring nasi”. Atau…

  • Menjadi Viral

    Percik Firman : Menjadi ViralRabu, 13 Januari 2021Bacaan Injil: Mrk 1:29-39 “Waktu menemukan Dia, mereka berkata: ‘Semua orang mencari Engkau” (Mrk 1:37) Saudari/a ku ytk.,Sesuatu yang menarik perhatian banyak orang akan ‘viral’ dengan cepat. Dalam hitungan detik berita itu akan cepat menyebar dan diterima banyak orang di berbagai penjuru tempat. Apalagi sekarang dengan kecanggihan dan…

  • Refleksi

    Mensyukuri Kelahiran Pada bulan September Gereja merayakan Pesta Kelahiran Bunda Maria. Pesta ini dirayakan setiap tanggal 8 September. Saat merefleksikan Pesta Kelahiran Bunda Maria ini, saya teringat akan sebuah keluarga yang selalu memberikan nama ‘Maria’ kepada semua anaknya, baik laki-laki maupun perempuan. Keluarga itu adalah keluarga pasutri Hubertus Soekarto Pudjosumarto dan Agnes Soekarti Pudjosumarto. Pasutri…

  • Bersinar di Tempat yang Tepat

    Percik Firman: Bersinar di Tempat yang TepatKamis, 28 Januari 2021PW Santo Thomas AquinasBacaan Injil : Mrk 4:21-25 “Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian” (Mrk 4:21) Saudari/a ku ytk.,Kita pernah mendengar ada ungkapan: “The right man in the right place”. Orang…

  • Perjumpaan yang Mengubah Hidup

    Percik Firman : Perjumpaan yang Mengubah HidupSenin, 7 Februari 2022Bacaan Injil: Mrk. 6: 53-56 Saudari/a ku ytk.,Setiap perjumpaan dengan Tuhan bisa membawa perubahan hidup manusia, baik secara lahir maupun batin. Perjumpaan dengan Yesus yang sungguh-sungguh terjadi dalam iman. Ekaristi adalah wujud nyata perjumpaan kita dengan Yesus. Bahkan kita bisa menyentuh dan bersatu dengan Kristus lewat…