Tabur Tuai

Percik Firman : Tabur Tuai
Jumat, 24 Juli 2020
Bacaan Injil: Mat 13:18-23

“Karena itu ia berbuah, ada yang seratus, ada yang enam puluh, dan ada yang tiga puluh ganda” (Mat 13:23)

Saudari/a ku ytk.,
Kita mungkin pernah mendengar ada ungkapan, “tabur tuai”. Artinya, apa yang kita tabur, itulah yang akan kita tuai atau kita panen nantinya. Hukum tabur tuai ini biasanya ada dalam dunia pertanian.

Kalau kita menanam benih padi di tanah yang subur, kita akan bisa menuai padi yang berlipat ganda. Untuk bisa menuai panenan padi yang baik, kita perlu merawat benih padi tersebut, memupuknya, menyianginya.

Bahkan juga mengairinya dan membersihkannya dari rumput-rumput di sekelilingnya. Selain tanah yang subur, ternyata juga dibutuhkan kesetiaan dan pengorbanan atau perjuangan dalam merawatnya.

Tabur tuai ini tidak hanya berlaku di dunia pertanian saja. Tetapi juga bisa berlaku dalam kehidupan manusia, baik dalam hidup rohani maupun relasi dengan sesama. Kitab Amsal, misalnya, mengungkapkan, “Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana”.

Kalau kita menabur kebaikan, kita akan menuai kebaikan. Jika kita menabur persaudaraan, kita juga akan menuai persaudaraan. Santo Paulus sendiri pernah mengajarkan, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuainya” (Gal 6:9).

Kebenaran sabda ini saya alami. Sekedar sharing kecil, saya berelasi cukup baik dengan banyak umat. Saat saya di tugas di Seminari Mertoyudan saat ini, sumbangan untuk Seminari sering berdatangan “mbanyu mili” dari mereka, baik berupa barang sembako, uang maupun kunjungan ke seminari.

Bahkan ada sebuah keluarga yang rutin menyumbangkan 3,3 juta per bulan untuk membantu biaya 4 seminaris sampai mereka lulus nantinya. Bagi saya, ini adalah salah satu buah dari relasi yang terjalin baik selama ini.

Saya yakin Anda pun juga jauh lebih banyak punya pengalaman yang senada. Kebaikan yang Anda taburkan sekian tahun yang lalu, akhirnya berbuah.

Bacaan Injil pada hari ini mengisahkan pengajaran Tuhan Yesus kepada para murid mengenai makna perumpamaan seorang penabur. Perumpamaan ini merupakan perumpamaan fondasi atau dasar dari ajaran Yesus untuk bisa memahami ajaran-ajaran yang lain.

Benih itu jatuh di beberapa tempat yang berbeda-beda: di pinggir jalan, di tanah yang berbatu-batu, di tengah semak duri, dan di tanah yang baik atau subur.

Jika benih itu adalah firman Allah, tanah yang menerima benih itu adalah hati manusia. Hati seseorang digambarkan seperti tanah, tempat benih ditabur. Hal ini dapat dilihat di Matius 13:19 “Benih ditaburkan ke dalam hati seseorang”.

Ini berarti bahwa berbagai macam tanah yang digambarkan di dalam perumpamaan ini merupakan gambaran dari berbagai macam sikap hati: hati yang yang lembek, hati yang keras, hati yang diliputi kekhawatiran, atau hati yang terbuka (rendah hati).

Hati yang terbuka atau rendah hati akan menjadi tempat yang subur bagi tumbuhnya firman Allah itu. Juga menjadi tempat yang subur bagi tumbuhnya persaudaraan, kebaikan dan sukacita.
Kerendahanhati adalah keutamaan dasar.

Dalam bahasa Latin, rendah hati adalah humilis. Kata ini diturunkan dari kata “humus”, yakni lapisan tanah hitam yang amat subur. Semua benih bisa tumbuh kalau disebarkan di tanah humus.

Bahkan bisa berlipat ganda. “Ia berbuah, ada yang seratus, ada yang enam puluh, dan ada yang tiga puluh ganda”, tegas Tuhan Yesus. Maka, kerendahanhati adalah keutamaan dasar, di mana di atasnya keutamaan-keutamaan hidup yang lain bisa tumbuh subur.

Pertanyaan refleksinya, bagaimana situasi hati Anda akhir-akhir ini? Apa saja usaha Anda untuk menjadikan hidup Anda sebagai ‘tanah yang mengandung humus’? Berkah Dalem dan Salam Teplok dari bumi Mertoyudan.

# Y. Gunawan, Pr

Similar Posts

  • Hati yang Berbelaskasih

    Percik Firman : Hati yang BerbelaskasihSabtu, 13 Februari 2021Bacaan Injil: Mrk 8:1-10 “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini” (Mrk 8:2) Saudari/a ku ytk.,Ada seorang seminaris yang bersharing bahwa di masa pandemi Covid-19 ini dia dan keluarganya hanya bisa makan sekali sehari. Dia mensharingkan situasi itu saat kumpul Bawil (Basis Wilayah) secara online…

  • Bersukacita Melihat Tuhan

    Percik Firman : Bersukacita Melihat TuhanMinggu, 11 April 2021Hari Minggu Paskah II – Pesta Kerahiman IlahiBacaan: Yoh 20:19-31 Saudari/a ku ytk.,Yesus, Raja Kerahiman Ilahi, Engkaulah andalanku. Itulah mantra suci yang sering diucapkan berulang-ulang saat kita mendoakan doa devosi Koronka Kerahiman Ilahi. Yesus adalah andalan hidup kita. Mengapa? Dialah Sang Juru Selamat dunia yang sudah mengalahkan…

  • Panggilan Menjadi Murid Yesus

    Percik Firman : Panggilan Menjadi Murid YesusKamis, 15 Feb 2024Bacaan Injil: Luk 9:22-25 “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk 9:23) Saudari/a ku ytk.,Di dalam salah satu fokus pembinaan calon imam di Seminari, dinyatakan bahwa calon imam mendalami hidup doa dan keheningan sebagai jalan…

  • Budaya Bersyukur

    Percik Firman: Budaya BersyukurSelasa, 1 Desember 2020PW Beato Dionisius dan RedemptusBacaan Injil: Luk 10:21-24 “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” (Luk 10:21) Saudari/a ku ytk.,Bersyukur di tengah pandemi Covid-19 saat ini, masih mungkinkah? Memang situasi saat…

  • Pengorbanan Sang Ibu

    Rabu, 8 Maret 2023Bacaan Injil: Mat 20:17-28 “Datanglah ibu Zebedeus serta anak-anaknya kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu” (Mat 20:20) Saudari/a ku ytk.,Setiap orang biasanya mempunyai kenangan akan sosok ibu. Seorang ibu pasti mau berkorban demi anak-anaknya. Pengorbanannya pun tidak tanggung-tanggung. Apapun dilakukan demi kebahagiaan anak-anaknya, sampai “sikil dienggo sirah, sirah dienggo…

  • Relevansi Spiritualitas Kardinal Darmojuwono di Tengah Pandemi Covid-19 Saat Ini

    Relevansi Spiritualitas Kardinal Darmojuwono di Tengah Pandemi Covid-19 Saat Ini… @HUT ke-38 Paroki St Maria Fatima Banyumanik # solidaritas # kemandirian # keterlibatan # kritik konstruktif # sing gelem kumpul kudu wani cucul, sing ora kumpul bisa ucul # sithik ora ditampik, akeh tansaya pikoleh