Panggilan yang Mengubah

Percik Firman : Panggilan yang Mengubah
Jumat, 28 Agustus 2020
PW Santo Agustinus, Uskup dan Pujangga Gereja
Bacaan Injil: Mat 25:1-13

“Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya” (Mat 25:13)

Saudari/a ku ytk.,
Seminggu yang lalu ada audensi Rama Provinsial SJ dengan keluarga besar Seminari Menengah Mertoyudan. Salah satu poin yang disampaikan Romo Benedictus Hari Juliawan SJ adalah indikasi orang terpanggil adalah panggilan itu mengubah seseorang menjadi lebih baik.

Tuhan selalu memberikan waktu dan kesempatan seseorang untuk tumbuh berkembang ke arah yang lebih baik. Perlu ada relasi dan kerja sama yang baik antara Allah dengan manusia.

Seminari dikenal sebagai salah satu tempat formatio (pembinaan) yang bisa mengembangkan dan mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik. Dibutuhkan keterbukaan hati dari seminaris untuk mau dididik dan dibimbing.

Pengalaman perubahan ke arah yang lebih baik ini juga pernah dialami oleh Santo Agustinus (354-430) yang kita peringati hari ini. Dia menyadari dan menyesali kesalahannya, dan akhirnya membangun niat untuk hidup lebih baik.

Anda tentu sudah tahu bagaimana pergulatan dan pertobatan Agustinus, dari anak yang ‘nakal’ dan hidupnya tidak bermoral berubah menjadi orang kudus (uskup dan pujangga Gereja). Pertobatannya itu berkat ketekunan doa dari sang ibunya (Santa Monika), inspirasi dari Bapa Uskup Santo Ambrosius, dan keterbukaan hatinya disentuh oleh Tuhan.

Sejak awal ibunya tak bosan-bosannya menyarankan kepada Agustinus untuk membaca Kitab Suci, dimana dapat ditemukan lebih banyak kebijaksanaan dan kebenaran. Tetapi, Agustinus meremehkan nasehat ibunya. Kitab Suci dianggapnya terlalu sederhana dan tidak akan menambah pengetahuannya sedikitpun.

Pada usia 31 tahun Agustinus mulai tergerak hatinya untuk kembali kepada Tuhan. Dia mendengar tentang dua orang yang serta-merta bertobat setelah membaca riwayat hidup Santo Antonius Pertapa. Lalu Agustinus merasa malu.

Ia berteriak kepada Alypius, temannya, “Apa ini yang kita lakukan? Orang-orang yang tak terpelajar memilih surga dengan berani. Tetapi kita, dengan segala ilmu pengetahuan kita, demikian pengecut sehingga terus hidup bergelimang dosa!”

Dengan hati yang sedih, Agustinus pergi ke taman dan berdoa, “Berapa lama lagi, ya Tuhan? Mengapa aku tidak mengakhiri perbuatan dosaku sekarang?” Tiba-tiba ia mendengar seorang anak berkata, “Ambillah dan bacalah!”

Agustinus mengambil Kitab Suci dan membukanya tepat pada ayat ini: “Marilah kita hidup dengan sopan seperti pada siang hari… kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya ”(Roma 13:13-14). Sejak saat itu, Agustinus memulai hidup baru.

Bacaan injil pada hari ini mengisahkan perumpamaan 5 gadis bijaksana dan 5 gadis bodoh. Secara umum kita memahami bahwa perumpamaan ini menggambarkan keberadaan kita sebagai umat yang menantikan kedatangan Tuhan. Namun secara lebih luas, kita juga sadari bahwa setiap saat dalam hidup kita ini adalah misteri, apa saja bisa terjadi di luar dugaan.

Dari perumpamaan ini Tuhan Yesus menggambarkan tentang bagaimana sikap sebagai anak-anak Tuhan dalam menghadapi berbagai keadaan yang misteri itu. Kita diajak untuk selalu bijaksana (siap sedia) karena punya andalan yaitu iman dan percaya kepada Yesus Kristus.

Iman itu harus diwujudkan dalam perbuatan yang baik kepada sesama dan selalu belajar memahami kehendak Tuhan (maneges kersa Dalem Gusti). Dan hal itu akan membuat kita siap menghadapi apapun yang terjadi dalam hidup ini, bahkan yang terburuk sekalipun. Karena setiap orang yang selalu bersandar kepada Tuhan akan diberi kekuatan dan kesiapan oleh Tuhan.

Pertanyaan refleksinya, apakah panggilan hidup Anda telah mengubah hidup Anda menjadi lebih baik? Apakah Anda siap sedia membuka hati untuk disentuh dan dituntun Tuhan untuk menjadi pribadi yang semakin baik dan menjadi berkat bagi sesama?

Proficiat dan selamat berpesta bagi Anda, lingkungan, sekolah, dan paroki Anda yang berada dalam lindungan Santo Agustinus. Berkah Dalem dan Salam Teplok dari bumi Mertoyudan.

# Y. Gunawan, Pr

Similar Posts

  • Santapan Jiwa

    Jumat, 28 April 2023 : Yoh. 6: 52-59 Saudari/a ku ytk.,Pada hari Minggu Kunjungan Keluarga sebelum pandemi Covid-19, ada seorang seminaris yang tidak tega melihat seorang kakek jatuh dari sepedanya. Saat ia berjalan bersama dengan orangtua kembali ke Seminari, dia melihat kakek itu jatuh dari sepedanya dengan membawa banyak kardus bekas. Kakek itu terluka karena…

  • Mengandalkan Tuhan

    Percik Firman : Mengandalkan TuhanRabu, 27 September 2023PW Santo Vinsensius A Paolo, ImamBacaan : Luk 9:1-6 Saudari/a ku ytk.,Memanjakan anak itu tidak mendidik. Anak perlu dilatih dan dibiasakan untuk hidup mandiri. Adanya masalah dalam kehidupan ini dapat membentuk seseorang menjadi pribadi yang tangguh. Ketidaknyamanan dapat menempa kita menjadi pribadi yang tahan banting. Keadaan yang sulit…

  • Menyelamatkan Buah Hati

    Rabu, 28 Desember 2022Pesta Kanak-kanak Suci, MartirBacaan Injil: Mat. 2: 13-18 Saudari/a ku ytk.,Hari ini adalah tiga hari setelah kita merayakan Hari Raya Natal, kelahiran Yesus Sang Raja Damai. Gereja merayakan pesta kanak-kanak suci, dimana bayi-bayi berumur 2 tahun ke bawah dibunuh oleh Raja Herodes yang kejam. Raja Herodes merasa terganggu dan terancam karena kelahiran…

  • Maria yang Hebat

    Percik Firman: Maria yang HebatSabtu, 10 Oktober 2020Bacaan Injil : Lukas 11:27-28 “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau” (Luk 11:27) Saudari/a ku ytk.,Merenungkan bacaan Injil hari ini saya teringat akan sebuah syair tentang ibu, yang pernah ditulis oleh Kahlil Gibran (1883-1931), seorang penyair terkenal dari Lebanon. Berikut ini sepenggal…

  • Jumat Agung – Salib Suci

    Bagi orang Yahudi, salib adalah penghinaan. Mengapa disebut penghinaan? Karena salib bagi mereka adalah tempat penyiksaan bagi orang-orang berdosa, orang jahat, dan yang pantas mendapat hukuman mati. Sedangkan bagi orang Yunani, salib adalah kebodohan. Mengapa disebut kebodohan? Karena mereka berpikir, “Masak sich seorang Raja kok mati di kayu salib.” Bagi sekelompok tertentu, Salib itu menakutkan….

  • Menyalurkan Kasih Allah

    Percik Firman: Menyalurkan Kasih AllahMinggu, 7 Juni 2020HR Tritunggal MahakudusBacaan Injil: Yoh 3:16-18 “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal…supaya beroleh hidup yang kekal ” (Yoh 3:16) Sdri/a yang terkasih,Berapa kali Anda membuat tanda salib dalam sehari dari bangun tidur sampai sebelum tidur malam? Dalam satu hari, pasti…