Peka akan Mimpi

Percik Firman: Peka akan Mimpi
Rabu, 19 Maret 2025
HR Santo Yusuf, Suami SP Maria
Bacaan Injil: Mat 1:16.18-21.24a

Sdri/a yang terkasih,
Dalam Doa Litani Santo Yusuf, Yusuf dilukiskan sebagai pelindung bagi para buruh / karyawan, keluarga, para perawan, orang – orang sakit dan orang – orang yang telah meninggal. Ia juga dihormati sebagai tokoh doa dan kehidupan rohani, pelindung para fakir miskin, para penguasa, bapa – bapa keluarga, imam – imam dan kaum religius serta pelindung para penziarah.

Pada tanggal 19 Maret ini kita merayakan Hari Raya Santo Yusuf, suami Santa Perawan Maria. Sejak abad ke-8, Gereja menetapkan tanggal 19 Maret sebagai hari raya utama Santo Yusuf. Santo Yusuf adalah tokoh teladan dalam beriman di tengah masa krisis, sekaligus pribadi yang peka memahami kehendak Allah (maneges kersa Dalem Gusti) lewat mimpi.

Mimpi bisa menjadi cara Tuhan untuk memberikan pesan penting kepada umat-Nya. Ada seorang mistikus modern dari Amerika Serikat, Edgar Cayce (1877-1945) yang berpendapat bahwa mimpi yang diterima dan dipahami akan mengubah sikap dan perilaku manusia. Dia menyebut bahwa mimpi sebagai “bahasa sandi Tuhan” yang hendak mengubah kita menjadi pribadi yang semakin baik, semakin agung, dan mulia.

Dalam bacaan Injil hari ini dikisahkan, “Malaikat Tuhan nampak kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: ‘Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu!’” (Mat. 1:20). Ternyata saat tidur, Yusuf bermimpi. Dan Tuhan menyatakan kehendak-Nya lewat mimpi. Dalam mimpinya, Yusuf menemukan jawaban dari masalah yang sedang dihadapi.

Pada waktu itu Yusuf sedang mempertimbangkan maksudnya yang ingin diam-diam menceraikan Maria tunangannya yang hamil. Kata “mempertimbangkan” sangat mendalam maknanya. Kata ini menunjukkan bahwa keputusan Yusuf yang mau meninggalkan Maria dengan diam-diam bukanlah sebuah keputusan yang spontan, asal-asalan, penuh emosi dan amarah. Tetapi telah dipikirkan dengan matang.

Dia ingin menjaga nama baik Maria di muka umum. Dia tahu betul Maria tidak bersalah. Pergi secara diam-diam (tidak menuntut apa yang menjadi haknya) adalah jalan keluar yang terbaik. Kenapa? Dia ingin melindungi Maria. Dia siap dipersalahkan oleh orang banyak sebagai laki-laki yang tidak bertanggungjawab, asal Maria tidak dihukum dengan dirajam (dilempari batu sampai mati).

Santo Yusuf sungguh bertanggungjawab atas situasi Maria setelah Maria menerima kabar dari Malaikat Gabriel. Karena kasihnya kepada Maria, Yusuf mendengarkan dan melaksanakan kehendak Tuhan. Ia berusaha maneges kersa Dalem Gusti yang ia terima melalui mimpinya, yaitu “mengambil Maria menjadi isterinya” (Mat 1:20).

Paus Yohanes Paulus II pernah mengungkapkan bahwa Santo Yusuf ini sebagai orang kudus dengan aura keheningan (aura of silence). Keutamaan dan kedalaman hidup Yusuf tampak dari ketersembunyian hidupnya. Dalam sikapnya yang banyak diam dan hening, Yusuf berusaha memahami dan mencerna kehendak Tuhan. Maka, tepatlah jika ungkapan “in silentio et in spe erit fortitude vestra” (dalam diam dan percaya, di situlah terletak kekuatanmu) dikenakan kepada pribadi Santo Yusuf ini.

Jika Anda tertarik untuk lebih mendalami makna mimpi, spiritualitas dan inspirasi Santo Yusuf untuk zaman sekarang, Anda bisa membaca buku “Memaknai Mimpi Bersama Santo Yusuf”, Kanisius, 2021.

Pertanyaan refleksinya, apakah selama ini Anda peka akan kehendak Allah dalam pergulatan hidup ini? Bagaimana sikap Anda dalam menghadapi situasi yang sulit: terburu-buru (grusa-grusu) atau mempertimbangkan dengan matang? Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang). # Y. Gunawan, Pr

Similar Posts

  • Ketulusan Hati

    Percik Firman: Ketulusan HatiJumat, 29 Desember 2023Bacaan Injil: Luk. 2:22-35 “Mereka mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati” (Luk 2:24) Saudari/a ku ytk.,Kata kunci permenungan yang saya tawarkan hari ini adalah ketulusan hati. Saat merenungkan sabda Tuhan hari ini, memori saya tertuju pada…

  • Perjumpaan yang Meneguhkan

    Percik Firman: Perjumpaan yang MeneguhkanSenin, 21 Desember 2020Bacaan Injil: Luk 1:39-45 “Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus” (Luk 1:41) Saudari/a ku ytk.,Kalau ada dua wanita yang sedang hamil bertemu, kira-kira apa yang dibicarakan ya? Saya pernah membuat penelitian kecil menanyai mereka. Ada aneka jawaban,…

  • Bersatu dan Bangkit

    Percik Firman : Bersatu dan BangkitRabu, 28 Oktober 2020Pesta St. Simon Zelot dan St. Yudas Tadeus (Rasul)Bacaan Injil: Lukas 6:12-19 “Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah” (Luk 6:12) Saudari/a ku ytk,.Bersamaan dengan Pesta dua rasul Santo Simon Zelot dan Santo Yudas Tadeus pada hari ini, bangsa…

  • Pernahkah Tuhan Mencobaimu?

    Percik Firman : Pernahkah Tuhan Mencobaimu?Minggu Biasa XVII, 25 Juli 2021Bacaan Injil: Yoh. 6:1-15 ”Hal itu dikatakan Yesus untuk mencobai Filipus, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya” (Yoh 6:6) Saudari/a ku ytk.,Pada hari Minggu Kunjungan Keluarga sebelum pandemi Covid-19, ada seorang seminaris yang tidak tega melihat seorang kakek jatuh dari sepedanya. Saat ia berjalan bersama…

  • Kepo atau Ndableg?

    Percik Firman: Kepo atau Ndableg?Selasa, 5 Mei 2020Bacaan Injil: Yoh. 10:22-30 “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami.” (Yoh 10: 24) Saudari/a ku ytk.,Pada suatu hari saya menengok saudara. Ada kesempatan untuk berekreasi di Kebun Raya. Saat menemani keponakan rekreasi di Kebun Raya, sepanjang perjalanan…

  • Perlu Introspeksi Diri

    Percik Firman: Perlu Introspeksi DiriSenin, 22 Juni 2020Bacaan Injil: Mat 7:1-5 “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” (Mat 7:3) Saudari/a ku ytk.,Dalam pembinaan calon imam di Seminari Mertoyudan ada kegiatan yang diberi nama “corectio fraterna”. Kegiatan ini adalah kesempatan bagi setiap seminaris untuk saling memberikan pujian…