INPUT PETCA 2020

SPIRITUALITAS SANTO PETRUS CANISIUS: SANG PERINTIS DAN INSPIRATOR

Y. Gunawan, Pr

Tema rangkaian acara Petrus Canisius (Petca) perayaan pelindung Seminari Santo Petrus Canisius Mertoyudan, Magelang, pada tahun 2020 ini adalah “Mimpi Kita, Aksi Kita”. Pertanyaannya, apa mimpi kita? Apa aksi kita? Bagaimana cara mewujudkannya? Ada banyak cara. Salah satunya dengan berdoa dan bekerja keras. Santo Petrus Canisius pernah memberikan nasihat demikian, “Cara terbaik memperjuangkan iman ialah bukan dengan kekerasan, tetapi dengan berdoa dan bekerja keras”.

Tema Petca tersebut muncul dari refleksi panitia atas situasi seminaris akhir-akhir ini. Salah satu keprihatinan yang muncul akhir-akhir ini adalah seminaris yang sulit untuk hening. Hal ini terjadi secara kolektif. Kecenderungan ini membuat pembentukan kesadaran seseorang dan pribadi di sekitarnya terhambat. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah kesadaran. Sadar merupakan kunci pertama yang harus dimiliki sebelum membuka jalan-jalan yang lain.

Bermula dari Kesadaran akan Keheningan

Keheningan atau silentium menjadi mimpi kita bersama. Sebagai seorang yang hidup reflektif, diajak untuk peka atau peduli dengan adanya kesadaran. Untuk memulai kesadaran yang besar, diperlukan langkah kecil yang akan terus bertumbuh besar. Bunda Tereda dari Kalkuta mengungkapkan, “Buah keheningan adalah doa; Buah dari doa adalah iman; Buah dari iman adalah kasih; Buah dari kasih adalah pelayanan; dan Buah dari pelayanan adalah damai”.

Tema Petca tersebut dilengkapi dengan logo Petca 2020. Logo ini menunjukan seekor anjing sedang menyalak. Anjing ini adalah representasi dari “kita”; para seminaris, dan salaknya itu adalah aksi nyata dari “kita”. Ketika menyalak, seekor anjing menunjukkan penyadaran dirinya akan suatu yang terjadi. Sama halnya dengan seminaris, diperlukan penyadaran untuk melakukan suatu aksi. Rantai yang terdapat dalam bundaran ialah simbol daripada pembelenggu, yaitu ketika “kita” hanya bermimpi semata, maka rantai itu adalah tembok atau dinding yang seakan membelenggu “kita” dengan mimpi-mimpi kita, maka salak itu mendobrak dinding belenggu itu. Sehingga senada dengan tema “Mimpi Kita, Aksi Kita”, anjing yang adalah “kita” mendobrak dan melakukan aksi dengan menggonggong untuk mewujudkan mimpi “kita” tersebut.

Dalam rapat staf tanggal 11 Februari 2020, Rama Leo Agung Sardi SJ selaku rektor Seminari menunjuk dan ‘ndhawuhi’ saya untuk menyampaikan Input pertama dalam rangkaian acara Petca kali ini terkait dengan Spiritualitas Santo Petrus Canisius. Terimakasih atas kepercayaan yang ‘mulia dan sangat berharga’ ini. Pada kesempatan Input kali ini saya ingin menyampaikan tentang Spiritualitas Santo Petrus Canisius: Sang Perintis dan Inspirator. Di balik dua kata “perintis” dan “inspirator” itu, ada dua keutamaan dan spiritualitas yang dihidupi Santo Petrus Canisius, yaitu disponibilitas (kesiapsediaan diutus) dan semangat berbagi  (memberi inspirasi) kepada orang lain.

Penyegaran : Sejarah dan Makna Lambang Seminari

Lambang Seminari Menengah Santo Petrus Canisius Mertoyudan mulai digagas pada tahun 1957. Pada waktu itu desainnya diperlombakan di antara para seminaris. Pemenangnya adalah Gerardus Majella Widodo, seorang seminaris Kelas Gramatica atau kelas 3. Dialah adalah alumnus tahun 1954 – 1961. Setelah lulus dari Seminari Mertoyudan, Gerardus solisitasi atau melamar masuk ke Tarekat Misionaris Hati Kudus (MSC). Setelah tahbisan menjadi imam, dia dikenal dengan nama Rama Gerardus Widyosuwondo, MSC.

Mengapa perlu ada Lambang Seminari? Saat Rama Yohanes Ari Purnomo Pr mewawancarai Rama Gerardus Widyosuwondo, MSC di Provinsialat MSC di Jakarta pada tanggal 27 April 2011, diuraikan bahwa pada waktu itu lambang seminari muncul karena beberapa SMA di sekitar Magelang juga memiliki lambang sekolah masing-masing. Kemudian digagas perlunya seminari juga mempunyai lambang. Desain dilombakan. Desain lambang yang juara itu dibawa ke Belanda dan dibuat semacam emblem yang amat bagus.

Lambang adalah gambar atau lukisan yang menyatakan maksud tertentu (cita-cita, visi lembaga, nilai-nilai yang terus diperjuangkan). Lalu apa makna lambang Seminari? Berikut ini uraian makna di balik lambang Seminari:

  1. Gambar “Perisai” : Perjuangan
  2. Huruf “CS” : Canisii Seminarium (Persemaian Canisius)
  3. Gambar “Batu Karang” berbentuk huruf “M” : Santo Petrus sebagai batu karang, pondasi Gereja. Menurut penjelasan Rama Gerardus Widyosuwondo, aslinya huruf “M” itu dimaksudkan sebagai gambar “Benteng” yang terbalik, yang juga mewakili keluarga Petrus Canisius dan “M” dimakudkan sebagai Mertoyudan.
  4. Gambar “Anjing” : menunjuk nama diri “Canisius” (canis = anjing), sekaligus kesetiaan pada majikan (kesetiaan seminaris pada Tuhan Yesus)
  5. Huruf “SSS” : Sanctitas, Sanitas, dan Scientia (tiga bidang pembinaan seminari: Kesucian, Kesehatan, dan Pengetahuan).

Menurut Rama Gerardus Widyosuwondo, pada waktu itu rumusan visi-misi seminari belum tersusun dengan baik seperti sekarang, tetapi sudah menjadi tujuan umum para Jesuit dan umat Katolik (Gereja) pada umumnya.

  • Warna dasar kuning emas melambangkan kemuliaan.
  • Warna hijau pada tulisan SSS melambangkan harapan untuk bertumbuh dan keadilan.
  • Warna merah pada karang melambangkan kegairahan, kegembiraan, semangat, dan keberanian membela yang benar.
  • Warna hitam pada anjing melambangkan kesungguhan, keseriusan, dan ketegasan dalam menentukan sikap.
  • Warna putih pada latarbelakang karang dan anjing melambangkan kesucian.

Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan demikian: berdasarkan teladan dan semangat Santo Petrus Canisius, seminaris dengan penuh kegembiraan dan kesungguhan didasari oleh niat suci berjuang menjadi pribadi-pribadi yang SUCI, SEHAT, dan BERPENGETAHUAN menuju cita-cita imamat mulia dalam rangka pelayanan kepada Ibu Gereja.

Sosok Santo Petrus Canisius

Dari berbagai sumber buku dan dokumen yang saya pelajari, sosok Santo Petrus Canisius (1521-1597), pelindung seminari kita ini, dapat saya rumuskan sebagai berikut ini: Imam Gereja Katolik Roma, Pujangga (Doktor) Gereja, Rasul kedua di Jerman setelah Santo Bonifacius, “Sastrawan” pertama dari anggota Serikat Yesus, Pengkhotbah yang dikagumi, Penulis buku dan katekismus, Editor buku, Pelindung Penulis Katolik, serta Rasul pena dan kata. Santo Petrus Canisius juga dipilih oleh Paus Pius V untuk menyampaikan hasil Konsili Trente kepada seluruh Uskup di Eropa. Tentu hal ini merupakan tanggung jawab dan kepercayaan yang luar biasa yang diterimanya.

Terkait dengan sekilas profil  Santo Petrus Canisius, dia lahir di Nijmegen (Belanda) pada tanggal 8 Mei 1521. Dia adalah anak sulung dari keluarga Bangsawan yang saleh. Ayahnya adalah Yakobus Canisius, seorang Walikota yang dikagumi di Nijmegen. Sedangkan ibunya     adalah Egidia Honwingen. Petrus Canisius hidup dalam konteks zaman awal Reformasi Gereja dan menyaksikan pergolakan hebat dalam Gereja.

Dia menerima tahbisan Imam pada tanggal 12 Juni 1546. Dialah orang Belanda pertama yang masuk Jesuit. Dia menempuh studi berbagai bidang ilmu, antara lain Hukum, Filsafat dan Teologi. Dia wafat di Swiss pada tanggal 27 Desember 1597. Kemudian dia dibeatifikasi oleh Paus Pius IX pada tanggal 20 November 1864. Akhirnya, dia dikanonisasi oleh Paus Pius XI pada tanggal 21 Mei 1925. Selain diangkat menjadi santo, dia juga diberi gelar sebagai Pujangga atau Doktor Gereja. Biasanya Gereja merayakan peringatannya setiap tangal 27 April.

Pertobatan : Perjumpaan yang Mengubah

Pada masa anak-remaja, Petrus Canisius dikenal sebagai anak yang nakal, suka bermain di halaman gereja saat misa, sombong, angkuh, dan bersikap kasar-kurang hormat pada pembantunya dan teman-temannya. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, dia menekuni tradisi visitasi di depan Sakramen Mahakudus di gereja dekat sekolahnya, suka gambar orang kudus, suka perayaan Ekaristi, dan rajin belajar. Dan pada umur 19 tahun dia sudah mendapat gelar Master.

Pada suatu hari dia mengalami perjumpaan yang istimewa. Dia berjumpa dengan dua orang pribadi yang dapat mengubah hidupnya, yaitu Petrus Faber dan Ignatius Loyola. Kesucian dan kariernya sangat kuat dipengaruhi oleh Petrus Faber dan Ignasius Loyola. Ia bertemu dengan Petrus Faber dalam sebuah retret. Sedangkan pengaruh dari Ignasius Loyola didapatnya karena selama enam bulan di Roma, dia tinggal bersama Ignasius. Bahkan dalam riwayat hidupnya, tercatat bahwa dia pernah ditunjuk sebagai Uskup sebanyak 3 kali, tetapi ia menolaknya.

Karya Pelayanan

Sebagai seorang pribadi yang cerdas dan multi talent, Petrus Canisius sering mendapat berbagai tanggung jawab dan kepercayaan dari pimpinannya. Karya pelayanannya sebagian besar berupa merintis karya pendidikan, antara lain: mendirikan 18 kolese (Cologne, Vienna, Prague, Ingolstadt, Strasburg, Freiburg, Zabern, Dillingen, Munich, Wrzburg, Aula di Tyrol, Speyer, Innsbruck, Landshut, Landsberg dan Molsheim di Alsace), mendirikan seminari di Wina, merintis Biara Yesuit pertama di Jerman, menjadi pemimpin pertama dari Provinsi Serikat Jesus di Jerman (1556), dan merintis pembaruan universitas di Ingolstadt, Bavaria.

Petrus Canisius juga mengajar di beberapa Universitas seperti Ingolstadt, Jerman, lalu ke Austria dan Swiss. Sebagai seorang penulis, dia telah menulis 37 buku. Yang terkenal adalah Buku Katekismus “Summarium Doctrinae Christianae” (Ringkasan Doktrin Kristen). Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam 15 bahasa. Disharingkan bahwa sebelum menulis buku katekismus, Petrus Canisius berdoa kepada yesus terlebih dahulu: “Yesus, biarlah Katekismus itu menjadi senjata yang melemahkan musuh-Mu. Sebaliknya biarlah Katekismus itu menjadi perisai sakti bagi mereka yang percaya pada-Mu.”

Buku katekismus (Ringkasan Doktrin Kristen) tersebut ditulis di Wina pada tahun 1555 dalam bahasa Jerman dan Latin. Ada tiga jenis katekismus yang dia tulis, yaitu:

  1. Katekismus yang besar: untuk rohaniwan dan cendekiawan, dan berisi 213 pertanyaan dan jawaban. Katekismus yang ditulis pada tahun 1555 ini berisi:
  2. Vol 1: Iman, harapan, kasih, dll
  3. Vol 2: Sakramen-Sakramen
  4. Vol 3: Pembenaran Kristiani, Tindakan Amal Kasih, Keutamaan Pokok, Buah-buah Roh Kudus, Delapan Sabda Bahagia, Nasihat Injili, dll
  5. Katekismus yang kecil: untuk anak-anak, ditulis tahun 1556 dan berisi 59 pertanyaan yang lebih pendek  tentang ringkasan dari doktrin Gereja Katolik
  6. Katekismus yang sedang: untuk pengajaran agama di sekolah-sekolah, ditulis tahun 1558 dan berisi 124 pertanyaan. Katekismus inilah yang mendapat penyebaran amat luas. Diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, banyak umat kembali ke dalam pangkuan Gereja setelah membacanya.

Terkait dengan Katekismus ini, ada sebuah testimoni – kesaksian yang menarik dari Drews, Sejarawan Kristen Protestan, “Tidak ada buku lain selain Katekismus ini. Distribusinya sungguh luar biasa hebat. Selama 130 tahun peredarannya sejak terbit, buku ini sudah mengalami cetak ulang sampai hampir 400 kali. Keseluruhan perencanaan penulisan dan tata letak buku ini mendapatkan sentuhan ketrampilan tingkat tinggi, dan di antara buku-buku Katolik Katekismus ini tidak ada bandingnya”.  

Pada Peringatan 400 tahun kematian Santo Petrus Canisius pada tahun 1997, Paus Yohanes Paulus II memberikan penghormatan kepada semangat karya pastoralnya, khususnya di kalangan kaum muda. Bapa Suci juga berbicara tentang ‘ketaatan heroik Canisius’ dalam ‘pelayanan kebenaran’.

Inspirasi Hidup Santo Petrus Canisius

Pada kesempatan Input kali ini ada beberapa inspirasi hidup dari Santo Petrus Canisius yang dapat kita gali dan renungkan bersama:

  1. Memperjuangkan iman: “Cara terbaik memperjuangkan iman ialah bukan dengan kekerasan, tetapi dengan berdoa dan bekerja keras”.
  2. Pewartaan Injil: “Membela Gereja di tanah sendiri sama penting dengan melebarkan Gereja di tanah misi”.
  3. Hidup Doa-Olah Rohani di masa muda: “Tuhan, tunjukkan jalanku, ajarlah aku berjalan di jalan itu; Engkaulah Allah dan penyelamatku”.
  4. Hidup Doa-Olah Rohani Retret Electio: “Tunjukkanlah Allah, jalan bagi hidupku yang melaluinya aku dapat berjalan dengan tenang dan sampai kepada-Mu”
  5. Mengikuti kristus (Imitatio Christi): “Dalam perang adalah penting bahwa para tentara memiliki KAPTEN yang bijak dan berpengalaman, terutama pada saat harus berperang melawan pemimpin yang besar, licik dan kuat. Juga sangat penting bahwa para tentara taat kepada pimpinannya dan mengikutinya. Kita belajar dari kapten kita untuk berperang dengan berani dan mengalahkan setan dengan senjata rohani, terdorong oleh sabda dan teladannya.”
  6. Kebaikan – Kasih Tuhan tak terbatas: “Tuhan Allah yang Mahakuasa, melalui segenap ciptaan, Engkau telah mencurahkan pancaran keindahan dan kebaikan-Mu yang tanpa batas. Engkau, ya Tuhan, menjadikan manusia gambar  dan citra-Mu; sedemikian luhur dan agung Engkau menciptakan kami, ya Tuhan”.

Penutup

Jika kau memiliki terlalu banyak hal untuk dilakukan, dengan bantuan Tuhan kau akan mendapatkan waktu untuk mengerjakannya”. Kalimat sederhana dari Santo Petrus Canisius ini merupakan salah satu refleksi dari perjalanan panjang hidupnya. Melalui berbagai tugas yang diserahkan kepadanya, dia sadar bahwa Tuhan yang mengutus dia akan membantunya untuk menyelesaikannya. Orang Jawa bilang, Gusti mesthi paring dalan (Tuhan pasti memberi jalan).

Selamat menyongsong pesta pelindung seminari. Teruslah bermimpi, dan wujudkan dalam aksi nyata. # (diolah dari berbagai sumber)Yohanes Gunawan, Pr


[1] Materi ini disampaikan dalam acara Input pertama dalam rangkaian acara Petca, Selasa, 24 Maret 2020.