Rm. Y. Alis Windu Prasetya SJ – Direktur

Ketika saya akan menuliskan lectio brevis ini, ada dua peristiwa yang saya ingat. Pertama, acara forum diskusi Komisi Pendidikan dan MPK Keuskupan Agung Semarang di Muntilan tanggal 23 Maret 2019. Kedua, workshop di Kampus Magister Managemen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, tanggal 24 Mei 2019 yang lalu. Ada dua ide dari dua orang yang bagi saya menarik untuk saya kembangkan dalam tulisan saya ini. Ide pertama adalah dari Benny Hari Juliawan SJ yang menulis artikel untuk forum itu berjudul “Mencari Manusia Pembelajar di Zaman Kompetisi dan Algoritma”. Ide kedua adalah dari Bp. Johanes Eka Priyatma yang memaparkan idenya dalam power point ketika memberi pengantar workshop. Judul yang dia pakai adalah “Menggagas Orientasi Magister Manajemen Pendidikan”.

Saya akan berangkat dari ide pertama dulu yaitu bagaimana kita yang hidup di zaman digital ini mencari sosok dan karakter pembelajar. Benny Juliawan SJ pada waktu itu menjelaskan kepada kita yang hadir adalah bahwa sekolah-sekolah di Indonesia ini selalu akan terkait dengan sistem pendidikan nasional. Ada kecenderungan bahwa sekolah yang dipilih dan diorientasikan oleh banyak orang adalah sekolah-sekolah yang mempunyai daya kompetitif yang kuat. Contoh: sekolah menjadi favorit kalau bisa juara olimpiade sains nasional atau internasional. Dalam tulisannya itu sebenarnya dia mau menelusuri sebenarnya gambaran siswa atau gambaran manusia yang diciptakan oleh sistem yang sedang berlangsung yaitu: orangtua memasukkan anak ke sekolah terbaik namun terjangkau kemampuan; orangtua sebenarnya sedang menyediakan masa depan terbaik untuk anak-anaknya; sekolah bermutu berarti selangkah menuju tahap pendidikan berikutnya juga bermutu dan ini adalah investasi untuk pekerjaan yang berkualitas di masa depan; pendidikan adalah persiapan untuk memasuki dunia kerja yang kompetitif. Di benak setiap orangtua dan anak-anak tertanam keyakinan bahwa kesuksesan di masa depan akan sangat bergantung pada prestasi di sekolah sekarang. Ini bukan hanya menyangkut prestasi pribadi namun juga bangsa. Hal inilah yang juga membuat pusing para pemimpin negeri ini. Dan kalau ditilik lebih jauh, hasrat naluri kompetitif ini sudah ada tertanam dalam diri specieshomo sapiens. Itulah mengapa homo sapiens bertahan sampai sekarang. (ada bagian dalam artikel itu yang sudah diterbitkan di Majalah Basis no.7-8, 2015).

Ide kedua yang datang dari Bp. J. Eka Priyatma saya ambil bagian tantangan yang ditengarai sebagai keprihatinan yang perlu kita sikapi. Disebutkan di sana beberapa tantangan dunia pendidikan, yaitu tantangan filosofis, sosial, managerial (leadership), dan teknologikal. Dari beberapa tantangan itu, yang saya amati adalah tantangan managerial yaitu ketatnya regulasi dan model administrasi pemerintah, dominannya orientasi kapitalistik sekolah lewat berbagai instrumen kerja seperti akreditasi, UN, peringkat, dll, lemahnya kompetensi kepemimpinan dan guru, serta kurang jelasnya metrik ideal keberhasilan sekolah (swasta). Namun demikian Bp Eka masih mempunyai keyakinan bahwa pendidikan tetap menjadi kebutuhan dasar segala jaman. Keterbukaan seluruh komponen sekolah masih menjadi kunci keberhasilan kemajuan sekolah. Oleh karena itu, salah satu strategi yang ditawarkan beliau adalah menyusun riset dan melaksanakan riset itu antara guru dan murid. Riset bukan melulu riset yang besar namun bermula dari riset pustaka dan melatih habitus membaca (literasi) dalam diri semua komponen sekolah.

Dari strategi ini, saya sempat berpendapat dalam forum itu, riset ilmiah dalam arti pustaka sudah ada di dalam komunitas kita. Salah satunya adalah pembuatan karya tulis. Sedangkan bagi guru dan  karyawan ada book report. Namun alangkah baiknya jika sebuah kebiasaan (habit) itu ditingkatkan kadar atau bobot eksplorasi dan kegunaannya sehingga menjadi lebih menantang dan lebih serius. Misalnya, bagaimana karya tulis juga diujikan oleh dua guru dan dipresentasikan dalam forum yang lebih luas sehingga karya tulis tidak sekedar dinilai oleh satu pembimbing saja. Hal ini juga bukan sekedar menantang seminaris atau siswa yang menulis namun juga penguji dituntut lebih mempersiapkan dan menguasai apa yang ditulis oleh yang didampingi. Untuk acara book report juga perlu ditingkatkan gairahnya pada sebuah tujuan tertentu dengan stimulus tertentu sehingga tidak sekedar melaporkan dari apa yang dibaca. Namanya bukan sekedar book report namun eksplorasi pustaka, misalnya. Ketika membaca buku hanya sekedar membaca maka kurang menarik, namun membaca buku karena aku sedang mengadakan riset tentang kemacetan di jalan saat libur panjang, atau meneliti soal kepadatan penduduk di pulau Jawa, maka membaca buku itu lebih akan bermakna luas dan dalam daripada sekedar melaporkan.

Saya menyadari bahwa ketika kita sendiri hanya sekedar membaca buku tanpa ada tujuannya maka membosankan. Namun membaca buku demi sebuah tugas, lomba, ada karya tulis, dan tujuan lain yang melandasinya maka gairah membaca itu akan terasa. Oleh karena itu, tulisan saya untuk lectio brevis ini mau mengajak kita semua bahwa memulai sebuah riset itu tidak langsung dari hal-hal yang besar, namun justru lewat hal-hal yang kecil. Riset pustakan bisa menggugah kita untuk mendalami apapun yang kita hadapi. Setiap kali berkotbah pun seorang pastor tidak asal omong kalau kotbahnya mau menarik, inspiratif dan mendalam. Pastor tersebut juga perlu menyiapkannya dengan membaca beberapa referensi.  Seorang guru akan menjadi guru yang inspiratif kalau dalam dirinya mempunyai daya kreatif dan eksploratif dengan kekayaan bahan bacaan sehingga ketika mengajar belajar di kelas maupun di luar kelas, gairah menimba ilmu itu dirasakan oleh seluruh siswa yang didampinginya.

Keluhan pribadi maupun komunitas dalam hal belajar formal di sekolah formal adalah bahwa guru hanya menjadi tukang administrasi. Kedalaman bisa menjadi tantangan tersendiri jika tidak diimbangi dengan eksplorasi dan habitus membaca. Kita terlalu takut dengan tuntutan pemerintah yang sering mematikan eksplorasi dan gairah belajar itu sendiri. Kita terlalu tunduk pada ikatan formal pemerintah yang memang dalam arti tertentu memberi dukungan lewat reward yang sudah dirasakan selama ini. Namun ketika itu mencekik diri kita lantas kita mengorbankan hakekat pendidikan yang mengubah daya hidup dari potensi ke pribadi yang berkembang.

Di tahun Scientiadi Seminari kita ini, kita perlu lebih mengarahkan hati dan budi pada sebuah daya cipta, karya dan karsa untuk memperluas dan memperdalam semangat belajar demi cita-cita luhur sebagai imam-imam masa depan. Sebagai guru, formator, dan karyawan pun tidak lepas dari keterlibatan kita mengarahkan diri ke tujuan yang sama. Oleh karena itu, usul dalam arti pemikiran ini masih harus diwujudkan dalam kegiatan yang lebih konkrit seperti tradisi pembuatan karya tulisyang lebih diperdalam dan kegiatan book report yang mungkin lebih diarahkan ke riset sederhana sehingga tidak sekedar minimalis. Dari sanalah mulainya kesadaran akan arti pentingnya belajar, memperdalam intelektualitas dan eksplorasi ilmu itu demi sebuah tujuan yang lebih mulia. Salah satu hal yang tidak dipunyai mesin dalam hal perkembangan teknologi 4.0 adalah bahwa mesin tidak bisa memiliki keluasan ilmu yang interdisipliner. Ketika pemerintah sibuk dengan linearitas dalam hal pendidikan para guru maupun dosen, dunia kita tengah berlomba supaya manusia makin interdisipliner yang tidak mempertentangkan pendekatan ilmu sosial dan ilmu alam. Dalam dunia yang makin dikuasai oleh algoritma, ilmu sosial menawarkan kepekaan dan pendekatan kritis yang kerapkali diabaikan dalam ilmu alam yang dianggap teknis belaka. Interdisiplinaritas akan membuka wawasan siswa akan keluasan sekaligus kedalaman ilmu pengetahuan. (Benny Hari Juliawan SJ, “Mencari Manusia Pembelajar di Zaman Kompetisi dan Algoritma”.)

Untuk memotivasi kita semua, saya ingin mengutip dua ungkapan ini: “Aku membaca maka aku berguna” dan “all great leaders are readers”. Oleh karena itu, kita yang belajar di sini untuk menjadi calon-calon pemimpin, mari kita giat membaca agar mempunyai wawasan luas dan mendalam sehingga berguna bagi dunia dan makin mampu menemukan cara membangun dunia. Bagi para guru dan formator, kiranya andil kita adalah nyata yaitu mendampingi pribadi-pribadi muda di mana mereka tengah membentuk keputusan fundamental dan awal membangun mimpi. Namun kaum muda zaman ini menghadapi tantangan raksasa: ketidakjelasan relasi di era digital, berkurangnya kesempatan kerja, meningkatnya kekerasan politik, dikriminasi, dan kerusakan lingkungan. Semua ini menimbulkan kesulitan bagi mereka untuk membangun relasi pribadi dan keluarga yang mendukung. (diambil dari Preferensi Kerasulan Universal Serikat Jesus, dalam bagian “Penjelajahan Bersama Orang Muda”).