Dalam menggambarkan dan merangkum perjalanan formasinya di Seminari, teman-teman seminaris angkatan 105 (2016/2017) menentukan nama “Satriyaning Buwana”. Memperhatikan sebutan tersebut sambil membayangkan kebersamaan keseharian dengan mereka di Seminari, antara lain  muncul diri mereka sebagai anak-anak jaman; datang dari dunia dan lingkungannya; mengikuti dan menindaklanjuti apa yang dirasakan dan diyakini sebagai panggilan. Teman-teman adalah anak muda dari dunia masa kini yang mendengarkan dan mengikuti suara yang memanggil di kedalaman hati  (the voice that calls within).  Karena itu, pergulatan dalam menempa diri selama di Seminari juga diwarnai oleh dunia dari sana mereka datang, sekaligus nantinya, dunia ke sana mereka akan diutus sebagai imam. Dalam arti ini, betapa perjalanan teman-teman ini merupakan perjalanan anak-anak muda masa kini dengan arah orientasi menjadi imam-imam Gereja di tengah dunia. Poin “di tengah dunia” yang tidak hanya menunjuk keterangan tempat tetapi juga habitat, menginspirasi sebuah catatan kritis pada diri sendiri, yaitu bahwa sebelum menjadi imam mereka adalah anak-anak muda yang  mesti akrab dengan persoalan-persoalan dunia itu. Seminaris memang adalah calon imam, tetapi terlalu cepat merasa istimewa karena imam, bukan tidak mungkin akan mengikis pergulatan dan perkembangan normalitas anak-anak muda masa kini, yang pada gilirannya, kekurangan dalam hal ini melahirkan sosok-sosok imam-imam yang tidak komunikatif, peka serta tanggap terhadap persoalan-persoalan dunia.  Penggambaran diri sebagai “Satriyaning Buwana” saya harap membantu memelihara kedekatan dengan dunia. 

Dunia sebagai habitat masa kini telah menjadi, dalam ukuran tertentu, keberasalan teman-teman serta terus menyertai perjalanan dalam meniti pematang Seminarium. Dunia yang terus bergerak tetapi sekaligus menarik teman-teman untuk menggambar diri dalam hubungannya dengan dunia tersebut, mendorong saya mencatat dua amatan  penting. Amatan ini untuk menggarisbawahi pentingnya hidup dengan kesadaran sebagai calon imam “Satriyaning Buwana”. Pertama, dinamika perubahan jumlah. Bahwa mereka ketika masuk di Medan Pratama (2016/2017) berjumlah 80 dan di bulan solisitasi Februari 2020 menjadi 36 serta teman-teman KPA ketika masuk (2019/2020) berjumlah 16 dan bulan solitasi Februari 2020 menjadi 13 adalah petunjuk nyata bahwa seminaris anak-anak muda ini selalu berusaha jujur menegaskan diri. Berkenaan dengan itu, 49 seminaris menjalani solisitasi merupakan petunjuk kesungguhan dan kemantapan. Amatan kedua adalah berkenaan dengan situasi dunia yang kena dampak Covid-19. Dunia masa kini yang ditandai oleh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (Information and Communications Technology) dengan cirinya pelbagai macam menjadi seperti virus, viral dan diviralkan (viral berasal dari kata “virus”) terkena oleh Corona Virus Desease-19. Covid-19 ini telah membawa kurban dan mengancam. Semua orang, segala aspek terkena dampaknya. Semua bergerak, mesti tidak semua dalam tingkat disiplin dan kepedulian yang sama. Covid-19 membuka mata kesadaran bahwa kemanusiaan itu satu dan betapa pentingnya kondisi bebas diskriminasi serta perlunya kolaborasi. Kita juga disadarkan bahwa sebelum pandemi Covid-19 sudah ada virus ketidakadilan di dunia ini (Arturo Sosa, “A Message from Fr. General Arturo Sosa, S. J. on Covid-19”, March 23, 2020) sehingga ada sebagian dari masyarakat dunia ini yang terkena dampak ganda. Seminari memilih melindungi warga komunitasnya dengan mengambil jarak dan menetapkan pelbagai batasan. Masing-masing maupun komunitas bisa hening mengukur diri seberapa kuat bela rasa dan bagaimana diungkapkan. Pada saat yang sama Covid-19 yang mengubah aktitas Seminari menjadi  peluang untuk  menguji dan mengenali kesejatian formasi selama ini. Apakah buah-buah formasi selama ini solid dan membantu menentukan pilihan sikap sehingga saat-saat berada di Seminari dengan longgarnya aktivitas menjadi saat kreatif dan produktif? Apa pun refleksi dan jawabannya Covid-19 menjadi bagian dari dari saat-saat terakhir berproses di Seminari. 

Akrab dengan Persoalan Dunia

Ketika dua di antara angkatan ini, Putra dan Deo beberapa kali bercakap-cakap tentang nama yang akan dipilih untuk membahasakan proses perjalanan formasi di Seminari sekaligus menunjukan dinamika perjalanannya saya terkesan dan senang dengan dua kata yang telah dipilih, yaitu “Satriya”  dan “Buwana”. “Satriya” adalah sosok pribadi yang bisa diandalkan di dalam perjuangan dengan karakter yang menandainya: ketulusan dan totalitas pemberian diri untuk memperjuangkan hal-hal luhur dari jujungannya yang dalam hal ini adalah Kristus sendiri, Sang Raja Abadi (bdk. Latihan Rohani St. Ignatius 91-98). “Dunia” sendiri menunjuk medan tempat seorang “Satriya” hidup dan berjuang. Sebagai sebuah arena dan medan perjuangan, dunia ini berwajah ganda, dalam arti memiliki keutamaan-keutamaannya sekaligus perilaku buruknya. Oleh karena itu, selain membekali diri dengan kesucian (Sanctitas), sehat (Sanitas) dan berilmu (Scientia), “Satriya” yang mau membumi di arena ini perlu memiliki kualitas manusiawi dan wawasan luas berkenaan dengan persoalan-persoalan dunia itu sendiri. Bersyukurlah bahwa dalam mengakrabi persoalan-persoalan dunia, Gereja, dalam hal ini Paus Fransiskus, telah menyediakan obor sehingga seorang satria tidak berperang dalam gelap, berperang tanpa strategi,  memuluk tanpa sasaran serta membuang-buang energi. Saya membayangkan “Satriyaning Buwana” ini bertindak dengan diskresi dalam terang obor exhortasi apostolis Paus Fransiskus Evangelii Gaudium (2013) dan Gaudete et Exultate (2018). Dua dokumen Paus Fransikus tersebut bisa memandu seorang satria dalam menghayati hidup panggilannya serta melaksanakan perutusannya. Evangelii Gaudium (EG) merupakan ekshortasi apostolis untuk mewartakan suka cita Injil di dunia jaman sekarang. Gaudete et Exultate  (2018) adalah ekshortasi apostolis tentang panggilan kekudusan di dunia dewasa ini. Dalam terang dua exhortasi tersebut, “Satriyaning Buwana”, di dunia ini dan untuk dunia ini, adalah seorang pribadi pewarta suka cita Injil kepada dunia dan seorang pribadi yang terus mengolah diri, membangun serta memperjuangkan kekudusan di dunia ini. Dengan dua formatif membangun kekudusan serta jejak rasuli mewartakan suka cita Injil itulah para  seminaris angkatan 105 meninggalkan Seminari St. Petrus Canisius Mertoyudan almaternya; juga dalam bayang-bayang dampak Covid-19 ini. 

Demikian menjadi jelas dan konkret bahwa lulusan Seminari 2020 yang tersebar ke dalam delapan tarekat (OMI, SCJ, SX, OSC, MSF, OP, OFM, SJ) dan enam keuskupan (Bandung, Bogor, Malang, Purwokerto, Jakarta dan Semarang) serta menjadi awam sebagai “Satriyaning Buwana” dipanggil untuk melibatkan diri dalam persoalan dunia nyata masa kini dan panggilan ini akan secara efektif dijalani ketika kualitas pribadinya   ditopang oleh kualitas pribadi akrab dengan persoalan-persoalan dunia. Paus Fransiskus dalam EG menggarisbawahi dunia aktual sebagai locus pewartaan Kabar Gembira: Evangelii Gaudium: Warta Injil di Dunia Aktual Sekarang”. Dunia yang dimaksud pun menunjuk planet bumi ini dengan segala realitas, pribadi dan peristiwa-peristiwa yang membentuk dunia sebagai realitas yang kompleks. Pertama-tama EG menyebut dunia sekrang ini ada dalam bahaya besar oleh karena berlimpah tawaran konsumtif. Tawaran ini mengena siapa saja dan  menggerakkan orang untuk melakukan perburuan yang tidak sehat kesenangan-kesenangan dangkal yang mengasingkan nurani manusia (EG 2).  Di hadapan realitas dunia macam ini, pada saat yang sama, Paus Fransiskus, mengajak memulihkan dan mengembangkan gairah suka cita penghiburan mewartakan Injil, juga kalau warta Injil disebar di antara air mata dengan harapan dunia sekarang menerima warta Injil dan mengalami suka cita Kristus (EG 10). Demikian, “dunia” yang dilanda tawaran konsumtif tetap diharapkan memiliki keterbukaan terhadap suka cita Kristus dan warta Injil. Bahkan Paus menebarkan optimisme dengan mengatakan bahwa setiap kali kita kembali ke sumber dan mengembalikan kesegaran sejati Injil, muncul jalan baru, metode kreatif untuk pewartaan kepada dunia sekarang ini (EG 11). Artinya, wajah buruk dan menantang dunia untuk pewartaan ini dihadapi dihadapi dengan kesegaran sejati Injil. 

Di satu sisi dunia sekarang diwarnai oleh kesenangan-kesenangan dangkal buah dari tawaran semangat konsumtif dan pada saat yang sama ada jalan-jalan baru serta cara-cara kreatif sejauh orang dalam memasukkan diri ke dalam  tetap menghubungkan diri dengan suka cita Kristus sebagai sumber kesegaran sejati Injil. Kenyataan dunia ini mengkondisikan seorang yang mau menegaskan identitasnya sebagai satria dunia selalu menyatu erat dengan Kristus sekaligus membenamkan diri ke dalam dunia dengan segala realitasnya. Dalam khasanah rohani, yang pertama seperti biasa bisa disebut “familiaritas cum Deo” (kekraban dengan Tuhan) dan yang kedua, adalah memeluk dunia.

Memperhatikan wajah dan realitas dunia seperti itu Paus mengajak supaya kita semua tidak perlu menunggu ajaran dari Paus dalam kata definitif atau lengkapnya (EG 16). Justru menrut Paus Fransiskus, semua perlu secara kreatif mengusahakan tanggapan. Bergerak dalam dua pendulum, kembali ke kesejatian suka cita Kristus dan ke pembenaman diri di dalam persoalan dunia. Gerak demikian ini akan menelurkan cara-cara bertindak serta pembelajaran berharga. Karena itulah dimungkinan untuk pewartaan Injil kebiasaan, gaya hidup, jadwal dan bahasa serta struktur Gerejawi berubah menjadi lebih efektif dan komunikatif lebih daripada dengan sendirinya melindungi diri (EG 27). Dalam terang inspirasi ini, alumni Seminari semestinya tidak hanya isi dan peristiwa-peristiwa formati yang dijlani selama di Seminari tetapi lebih daripda itu merawat dan mengembangkan sikap-sikap formatif yang telah terbentuk dan dibiasakan melalui tiga pilar formasinya Sanctitas, Sanitas dan Scientia.

Selain wajah dunia yang kompleks dengan realitas persoalannya serta menantang untuk pewartaan suka cita Injil, dalam Gaudete et Exultate (GE) Paus Fransiskus menunjukkan bahwa di dunia yang sama tersedia jalan kekudusan yang dekat  dan sehari-hari sehingga orang-orang kudus dan kekudusan itu ada di sekitar kita. GE menyebutnya “Para Kudus dari pintu sebelah kita” (GE 6-9). Ketika Paus Fransiskus berbicara mengenai beberapa aspek panggilan ke kekudusan yang diharapkan terus bergema dalam hidup kita (GE 110) yang ditunjuk adalah kualitas hidup yang menyertai pergulatan seorang manusia di dunia nyata ini. Aspek tersebut merupakan lima ungkapan penting kasih kepada Allah dan kepada sesama yang penting untuk  berhadapan dengan bahaya dan keterbatasan budaya masa kini, yaitu kecemasan, hal-hal negatif dan kesedihan, rasa puas diri yang dilahirkan oleh konsumerisme, individualisme dan banyak bentuk spiritualitas palsu karena tidak ada hubungannya dengan Tuhan dan itu mendominasi pasa keagamaan saat ini (GE 111). Paus menyebut lima ciri kekudusan di dunia dewasa ini. Pertama, ketekunan, kesabaran dan kelemahlembutan (GE 112-121). Kedua, suka cita dan rasa humor (GE 122-128). Ketiga, keberanian dan gairah (GE 129-139). Keempat, hidup dalam komunitas (GE 140-147). Kelima, berada dalam doa yang terus menerus (GE 147-157). Yang kelima, berada dalam doa terus menerus ini menggarisbawahi sikap rohani di tengah dunia dalam kesadaran Allah terus hadir dan bekerja di dunia ini (Bdk. GE 153, Latihan Rohani St. Ignatius Loyola 235-236). Seorang satria terus berdoa untuk menyatukan gerak dirinya dengan gerak Tuhan yang terus hadir dan bekerja di dunia.

Satriyaning Buwana

Yang muncul dalam ingatan dan pikiran saya ketika mengetahui bahwa seminaris yang lulus tahun 2020 ini merumuskan dirinya sebagai “Satriyaning Buwana” pertama adalah bahwa mereka adalah anak-anak muda dri dunia masa kini sekaligus kedua, anak-anak muda yang sadar di dunia ini tidak hanya ada, tetapi diutus,  “diutus ke dunia”. Ketiga, hal ini secara teologi mendasar, buwana atau dunia ini adalah dunia yang dipilih Tuhan untuk karya keselamatannya dengan Inkarnasi. Karena itu, di sana, ada realitas beragam, dosa dan rahmat, kebencian dan kasih, merusak dan membangun. Dunia ini adalah dunia yang telah dipeluk Tuhan untuk diselamatkan. Gereja sebagai karya rahmat Tuhan hadir di dunia mcam ini. Konsili Vatikan II menegaskan kesadaran kehadirannya dalam Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes, “Kegembiran dan harapan, duka dan kecdemasan orang-orang jaman ini, terutama kaum miski dan siapa saja yang menderita, meruakan kegembriaan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus”  (GE 1). Selanjutnya ungkapan “Satriyaning Buwana” juga meneguhkan apa yang secara pribadi sebagai rektor pahami dan wujudkan visi misi Seminari  membentuk imam-imam Gereja yang akrab dengan persoalan dunia. Dalam sebuah slogan saya rumuskan Canisii Seminarium Mertoiudanense membentuk imam-imam Gereja yang akrab dengan persoalan dunia, memiliki kedalaman batin, berwawasan luas serta memasyarakat. Rasanya begitulah sosok dan kualitas pribadi “Satriyaning Buwana”. Artinya, selama di Seminari seorang seminaris merasa dibentuk dan selanjutnya terus membentuk diri satria dunia.  Karena itu,  pun kalau belum sungguh-sungguh menjadi satria, setidaknya hal itu menjadi mimpi bersama untuk diwujudkan ketika tersebar setelah lulus meninggal almamater Seminari 

Dari inspirasi Evangelii Gaudium, bercermin pada satria yang sudah mewarnai dunia ini, yaitu St. Fransiskus Asisi dan St. Teresa Calcuta, “Satrianing Buwana” mengingatkan betapa iman yang dibawa ke dunia dihayati tidak secara individualistis dan tertahan dalam rasa nyaman, tetapi dihayati dalam semangat dan kerinduan untuk mengubah dunia, meninggalkan di belakang jejak-jejak yang lebih baik di bumi ini (EG 183). Dalam arti ini, ditunjukkan oleh Paus bahwa semua orang Kristiani dipanggil untuk peduli dan tergerak untuk membangun dunia ini menjadi lebih baik (EG 183). Hal ini meneguhkan semangat yang hendak dibiarkan hidup melalui nama “Satriyaning Buwana”. Mengenai hal ini pula, menurut Paus, bukan saatnya untuk mengembangkan pertanyaan-pertanyaan sosial berat yang mempengaruhi dunia sekarang, tetapi untuk terlibat dan mengambil pilihan (EG 184). 

Wajah lain dari dunia tempat seorang satria hidup dan berjuang adalah dunia yang terluka. Dunia terluka oleh perang dan kekerasan, terluka karena tersebarnya kekuatan individualisme yang membelah manusia dan menjadikan manusia yang satu dan yang lain saling bertentangan demi kesejahteraan pribadi (EG 99). Berhadapan dengan individualisme yang merusak dunia dan membelah serta mempertentangkan manusia, Paus meminta kepada semua orang kristiani dari semua komunitas di dunia ini untuk memberi kesaksian tentang kesatuan persaudaraan yang menjadikan komunitas Kristiani itu menarik dan memancar (EG 99). Pokok ini bisa dirasakan memperkuat nama “Satriyaning Buwana” sebagai ikatan komunitas yang mewartakan nilai luhur hidup bersama di tengah dunia yang indivialistis dan egoistis. 

Penutup

Telah menempuh perjalanan berharga dengan ikatan persahabatan dan identitas kolektif  “Satriyaning Buwana” menyajikan optimisme seorang satria, yaitu hidup, berjuang dan menang di tengah dunia. Bertindak dalam kesadaran lahir dan hidup di dunia, mengandaikan wawasan yang luas dan akrab dengan persoalan-persoalan dunia. Kebiasaan memandang dan mengontemplasikan  persoalan-persoalan dunia berbekal buah-buah formasi dari Seminari akan melahirkan energi dan kreativitas untuk membangun kekudusan di engah jaman dan hidup sehari-sehari seperti disampaikan dalam Exhortasi Apotsolis Gaudete et Exultate (2018). Kontemplasi terhadap persoalan-persoalan dunia sendiri perlu ditopang oleh kedalaman rohani serta wawasan ilmu dalam komitmen dan kesungguhan seseorang untuk melibatkan di dunia ini. Tanpa itu semua, hidup di dunia ini tidak lebih menjadi bagian dari orang-orang dunia dengan kedangkalan dan lemah diskresi moralnya (Evangelii Gaudium 64).

Memperhatikan dunia yang kompleks dengan tantangan serta persoalan yang beragam, kiranya semangat yang mesti menjiwai “Satriyaning Buwana” adalah garam dan terang dunia (Mateus 5:13-16). Semangat ini bisa diterjemahkan sebagai memberi semangat positif kepada sesama.  Itulah karakter “Satriyaning Buwana”. Menghayati hidup seperti ini mengandaikan corak hidup dinamis yang terbangun antara sikap formatif membangun diri sendiri serta sikap rasuli melayani. 

Seminari Menengah St. Petrus Canisius Mertoyudan
Senin, 6 April 2020
Leo Agung Sardi S.J.

Dimuat di dalam Lelampahaning Para Satriya (Kaleidoskop Refleksi Angkatan Medan Utama 105, Seminari Mertoyudan, 2020, hlm. 116-121)