Seminari Mertoyudan dan Jakob Oetama

SEMINARI merupakan sekolah calon pastor (gembala), tingkat menengah (SMP dan SMA) dan tingkat tinggi (perguruan tinggi). Saat ini hampir seluruh keuskupan memiliki seminari tingkat menengah atau kecil, bagian dari formatio awal calon pastur.

Seminari Menengah St. Petrus Kanisius di Mertoyudan, Magelang, seminari tertua di Indonesia, tahun 2011 menginjak usia 100 tahun. Angka itu dihitung dari sejak ada keinginan dua lulusan Kweekschool di Muntilan tahun 1911. Petrus Darmaseputro dan Fransiskus Xaverius Satiman, yang menyatakan niatnya menjadi pastor kepada Pastor Van Lith. tahun 1911. Setahun kemudian, 30 Mei 1912, keluarlah izin dari Vatikan untuk memulai lembaga pendidikan calon imam di Indonesia, dimulai dari kursus-kursus dan seminari kecil di Yogyakarta, kemudian bergabung menempati asrama Seminari Mertoyudan mulai Januari 1941. F.X. Satiman SJ adalah pastor ]esuit pertama Indonesia.

Masa remaja ]akob Oetama tidak lepas dari Seminari Mertoyudan, Magelang. Pembentukan dasar kehidupan intelektual, pengembangan karakternya dimulai dari seminari selama lebih dari enam tahun (1945-1952), dengan salah satu kekhususannya tinggal di asrama bersama sejumlah seminaris (siswa seminari) yang lain; sesuatu yang sudah dia jalani sejak tinggal di asrama Panti Asuhan Boro, di masa kanak-kanaknya.

Asrama Seminari Mertoyudan yang berdiri di atas tanah seluas 6 hektar, terletak di sebelah kanan 5 kilometer sebelum Magelang dari Yogyakarta yang sudah ditempati sejak Januari 1941, terpaksa ditinggalkan sejak Maret 1942 karena diduduki Jepang. Tempat ini pernah dipakai sebagai asrama Tentara Keamanan Rakyat tahun 1945 dan tempat pendidikan Polri. Pada ]anuari 1949-1952 dibumihanguskan selama masa perjuangan, tahun 1952 dibangun kembali, dan pada tahun 1953 dipakai kembali sebagai Asrama Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang, sampai sekarang.

Selama bulan April 1942-Desember 1952, pendidikan siswa-siswa seminari diselenggarakan di sejumlah tempat, dalam masa diaspora. Di dalam keluarga-keluarga, di pastoran-pastoran seperti di Yogyakarta, Ganjuran, Muntilan, Ambarawa, Solo, dan sejumlah kota lain.

Jakob Oetama masuk seminari di Yogyakarta, bersama empat teman, tinggal di keluarga Razak Lantas berpindah-pindah ke Ambarawa, Ganjuran, Muntilan, dan terakhir di Yogyakarta, tidak lagi tinggal dalam keluarga, tetapi di asrama sebelah belakang Kolese St. Ignatius, Kotabaru (sekarang Sekolah Tinggi Kateketik Pradnya Widya)-yang kemudian menjadi asrama Seminari Tinggi untuk para romo muda atau frater = saudara. Begitu lulus seminari menengah, Jakob tinggal selama tiga bulan di sana sebagai calon pastor diosesan Keuskupan Agung Semarang, yang kemudian dia tinggalkan.#

Sumber tulisan : St. Sularto, Syukur Tiada Akhir, Penerbit Buku Kompas, 2015 (cetakan ke-6), hlm. 373-375.
@ditulis ulang oleh Pak Koekoeh Hadi