LECTIO BREVIS TAHUN SANITAS 2026/2027
“Aku sehat siap berkembang”
Tidak ada satu pun di antara kita yang ingin sakit. Setiap dari kita maunya sehat. Sebagai pribadi di tengah kehidupan bersama di asrama Seminari Menengah Mertoyudan (SMM) perlu memikirkan bahwa hal kesehatan bukan hanya urusan pribadi melainkan menjadi urusan bersama. Maka selain mengupayakan kesehatan pribadi kita juga harus membuat agar setiap anggota di komunitas SMM ini sehat semua.
Mengapa kita perlu mengupayakan kesehatan pribadi dan bersama? Tubuh kita ini adalah harta pertama dan utama yang kita miliki, sebelum memiliki harta yang lain. Yang ditunggu seorang ibu ketika melahirkan anaknya adalah tangisan pertama bayi yang baru dilahirkannya. Tangisan itu seolah menjadi tanda kondisi tubuh bayi yang sehat. Jeritan itu adalah pemakluman diri bahwa aku lahir sehat, dan siap untuk tumbuh dan berkembang secara penuh. Merawat diri, menjaga kesehatan badan adalah investasi jangka banjang supaya sebagai pribadi bisa berbuat sesuatu atau berkarya sesuai dengan karisma dan panggilan kita. Maka kesehatan menjadi modal penting untuk bisa memberikan diri dalam aneka bentuk pelayanan dan karya.
Saya bisa mengatakan bahwa prasarat pertama untuk bisa tumbuh dan berkembang dengan maksimal adalah kalau setiap pribadi memiliki kesehatan yang baik. Kesehatan itu bukan hanya urusan tubuh melainkan juga urusan kesehatan mental, kesehatan jiwa, kesehatan sosial, kesehatan emosi, kesehatan akal-budi, kesehatan rohani dan lain-lain. Maka tahun kesehatan bagi SMM menjadi saat penting untuk menjaga kesehatan holistik untuk pertumbuhan pribadi dan panggilan kita.
Dipanggil dengan sehat
Seminari menengah adalah tahap awal mempersiapkan para seminaris untuk siap memasuki formasi lanjut di Tahun Orientasi Rohani (TOR), Novisiat atau tahap formasi lanjut lainnya. Untuk bisa masuk ke tahap formasi lebih tinggi, kita lihat apa yang ditulis dalam Kitab Hukum Kanonik Gereja Katolik.
“Hanya mereka yang dianggap mampu untuk membaktikan diri bagi pelayanan rohani untuk selama-lamanya, dengan memperhatikan bakat-bakat manusiawi, kesusilaan dan intelektual, kesehatan jasmani dan psikis, dan juga maksud jujur, boleh diterima oleh Uskup di seminari tinggi.” (KHK No. 241.1)
Berdasarkan kanon itu kita mengerti bahwa kesehatan jasmani dan psikis menjadi salah satu syarat diterima masuk TOR atau Lembaga Hidup Bakti (LHB) lain. Kita mengerti tentang ungkapan ini: “Mens sana in corpore sano” yang bisa kita pahami: “Jiwa yang sehat berada dalam tubuh yang sehat”. Ungkapan lengkapnya adalah “Orandum est ut sit mens sana in corpore sano” yang artinya hendaknya engkau berdoa agar ada jiwa yang sehat di dalam badan yang sehat. Penting diingat akan kata-kata “orandum est”, jangan ditinggalkan atau dilupakan. Kesehatan merupakan rahmat yang selalu pantas untuk kita mohon dan pada saat yang sama kita upayakan.
Saya tegaskan lagi, kesehatan menjadi salah satu unsur pokok diterima dan tidaknya seminaris oleh Bapak Uskup. Dengan itu hal kesehatan menjadi sangat penting untuk kita semua, dan perlu mendapat perhatian serius dalam seluruh proses pendidikan para seminaris. Sesuai dengan kanon itu, maka tepat bahwa kita menerapkan test kebugaran dan cek kesehatan sebagai salah satu syarat diterima tidaknya kandidat.
Menjaga kesehatan
Suster Veronika S. CB memberikan data dalam bentuk angka tentang jumlah seminaris yang sakit dan yang masuk valet. Perhitungan angka sakit dan istirahat di Valet dan istirahat di dormit pada periode Januari – Juni 2025 dan periode Januari – Juni 2026 menyajikan data yang menarik. Perbandingannya adalah:
| Jan-Jun 2025 | Jan-Jun 2026 | Catatan | |
| Sakit di Valet | 76 | 17 | Ada kecenderungan kenaikan sakit di dormit.Ada apa dengan seminaris? |
| Sakit di Dormit | 16 | 101 | |
| Juli – Des 2025 | |||
| Sakit di Valet | 46 | ||
| Sakit di Dormit | 104 |
SMM mengatur agar kita memiliki istirahat cukup. Apakah siesta (tidur siang) saya pakai dengan semestinya? Siesta adalah kesempatan yang tidak dimiliki oleh kebanyakan pelajar, apakah kita memanfaatkanya dengan baik. Di balik itu adalah disiplin menggunakan waktu di tengah banyak tugas dan kepadatan kegiatan. Sungguh pun demikian, saya secara umum bisa mengatakan bahwa kesehatan seminaris baik. Dengan memliki badan yang sehat kita akan semakin produktif, dan kemungkinan untuk maju dan berkembang lebih besar dibandingkan kalau tubuh kita sakit-sakitan.
Saya terkesan dengan mantra yang dimiliki oleh Jendral Eisenhouwer, yang menyatakan bahwa baginya kebebasan adalah “kesempatan untuk disiplin diri.” Berpangkal dari mantra itu saya menduga bahwa problem kesehatan dan hidup sehat di SMM adalah bukan saja soal jadwal yang tersedia dan kepadatan kegiatan tetapi bagaimana aku bisa menggunakan waktu pribadiku dengan disiplin. Tanpa itu kesehatan jiwa, kesehatan raga dan kesehatan intelektual tidak mungkin terjaga. Saya berpendapat bahwa seminaris yang memiliki disiplin diri akan terus maju dan berkembang.
Godaan selalu ada, ajakan selalu muncul, provokasi bisa sewaktu-waktu datang pada waktu yang tidak terduga. Bisakah aku mengendalikan hasratku untuk teguh memegang kendali atas kehendakku sendiri bukan kehendak pihak lain. Disiplin itu akan kelihatan dalam cara bertindakku seperti: mampu berkata tidak, mau bekerja keras, mempraktekkan kebiasaan baik, melatih diri dengan tekun, mengabaikan godaaan dan ajakan negatif, menjaga emosi dengan baik dan mampu bertahan dalam kesulitan yang harus kuhadapi.
Disiplin diri adalah memberikan segala sesuatu yang kupunya untuk pertumbuhan pribadi dan komunitas. Kita yang mencoba menanggapi panggilan Tuhan ini, mencoba melatih diri untuk pertumbuhanku tetapi juga berlatih memberikan diri kepada kehidupan bersama di SMM. Dengan demikian disiplin terarah juga pada pelayanan dan kesempurnaan diri.
Apa kaitannya disiplin dengan kesehatan?
Sekarang sedang berlangsung perebutan Piala Dunia sepakbola. Pemain seperti Christiano Ronaldo pada usia 41 tahun masih menjadi andalan tim nasional Portugal. Kenapa bisa demikian? Mengapa Ronaldo memiliki kebugaran begitu tinggi di usia yang tidak muda lagi sebagai pemain profesional sepakbola? Rahasianya adalah kedisiplinan menjaga kebugaran dan kesehatan tubuhnya. Saya menemukan demikian dalam telusuran ringkasan AI: “Cristiano Ronaldo berlatih secara intensif selama 3 hingga 5 jam per hari, menggabungkan latihan klub, sesi gym, latihan spesifik sepak bola, serta pemulihan. Rutinitasnya mencakup kardio (lari intensitas tinggi), plyometrics untuk kekuatan eksplosif, latihan beban, serta peregangan dan istirahat yang disiplin”.
Untuk tetap bisa kompetitif Ronaldo harus sehat, bugar dan kuat, maka cara hidupnya harus diatur, ia disiplin berlatih fisik dan teknik setiap hari melebihi yang lain dengan istirahat yang sangat cukup. Itulah yang disebut semangat magis.
Pribadi sehat, komunitas kuat
Data kesehatan yang menurut pandangan saya membaik, meski dengan catatan, memperlihatkan bahwa kita berada dalam jalur yang benar untuk hidup sehat. Untuk itu perlu dukungan bersama agar syarat-syarat untuk sehat ada dan tersedia. Ada ungkapan berikut: “Mens sana non potest vivere in corpore sicco”, artinya “Jiwa yang sehat tidak bisa hidup dalam badan yang kering”. Apa maksudnya? Kita harus cukup minum. Ketercukupan cairan tubuh harus selalu diupayakan. Kata-kata itu juga mengandung pesan bahwa setiap pribadi harus mengupayakan hidup sehat disertai dengan upaya bersama. Artinya kita semua sebagai komunitas menyediakan kemungkinan hidup sehat seperti: kecukupan nutrisi ; fasilitas kesehatan yang lebih memadai; ketersediaan waktu dan sarana olah raga yang memberi kemungkinan untuk sehat, istirahat dan relaksasi yang cukup, dan lain-lain.
Pelayan dan pemimpin rohani
Menjadi imam adalah menjadi pelayan dan pemimpin rohani, maka harus memiliki keunggulan rohani dan sehat kerohaniannya. “Perayaan Ekaristi hendaknya menjadi pusat seluruh hidup seminari, sedemikian rupa sehingga setiap hari para seminaris dengan mengambil bagian dalam kasih Kristus menimba terutama dari sumber melimpah itu kekuatan jiwa untuk karya kerasulan dan hidup rohaninya.” (KHK No. 246.1)
Kanon 241 menyebutkan tentang pelayan rohani yang menjadi tugas utama seorang imam. Bagaimana mungkin bisa pelayan rohani kalau ia sendiri tidak berdoa? Kata-kata “orandum est” dalam ungkapan Latin di atas kiranya mengingatkan kita bahwa upaya kita menjaga kesehatan ragawi perlu disertai dengan doa dan olah rohani lainnya dan yang utama adalah ikut serta dalam perayaan Ekaristi. Tujuannya adalah pertumbuhan hidup menyeluruh secara seimbang, agar semakin siap menjadi pelayan rohani yang tangguh sekarang dan kemudian hari
Kita ini pribadi unik yang di dalamnya ada kerumitan juga. Mengelola hidup supaya bisa tumbuh dan secara menyeluruh dan seimbang memerlukan kesungguhan dari setiap anggota komunitas ini. Tahun sanitas adalah kesempatan baik untuk membangun budaya BERSERI (Bersih, Sehat, Rapi, Indah), sehinga SMM menjadi tempat yang aman untuk pertumbuhan dan proses formasi kita semua. Tahun ini Seminari ini harus unggul dalam kebersihan, tempat-tempat kumuh harus kita jadikan bersih karena itu menjadi landasan untuk bisa sehat rapi dan indah. Ad Maiorem Dei Gloriam.
Mertoyudan, 13 Juli 2026
V. Istanto Pramuja SJ







