MENJADI  INSAN  LITERATIF(-REFLEKTIF)

Kurikulum Merdeka menekankan pentingnya ketrampilan literasi, bahkan mungkin boleh dikatakan bahwa literasi adalah roh Kurikulum Merdeka. Memang benar bahwa ketrampilan literasi adalah ketrampilan yang sungguh penting untuk hidup dengan baik dan layak secara integral, apalagi bagi calon pemimpin umat di masa depan. Tak mungkin bisa menjadi pemimpin tanpa kemampuan literasi yang mumpuni. Leader is reader!

Kurikulum Merdeka, sejauh saya pahami, mendefiniskan literasi sebagai ketrampilan yang terdiri dari dua unsur: (1) memahami “teks”; dan (2) mengevaluasi dan merefleksikan sehingga pada gilirannya bisa memberi kontribusi secara sosial. Tulisan singkat ini terdiri dari tiga bagian: yakni mengapa dan bagaimana melatih literasi, serta penutup. Semoga tulisan ringkas ini dapat memberi roh dan arah formasi seluruh sivitas akademika Seminari Menengah Mertoyudan (SMM) ini bukan hanya untuk tahun ini tetapi juga untuk masa selanjutnya.

Mengapa Perlu Melatih Literasi?

Edukasi literasi  di SMM bukanlah hal baru. Kita sudah punya tradisi panjang melatih literasi. Ada beberapa alasan mengapa latihan literasi tetap penting dan relevan.

Pertama, literasi adalah ketrampilan esensial untuk menjalani formasi calon imam. Imam masa kini dituntut studi minimal mencapai jenjang S2. Formasi intelektual ini memerlukan kemampuan literasi yang baik. Sulit dibayangkan bisa mencapai gelar minimal S2 tanpa kemampuan memahami “teks”dan mengevaluasi dan merefleksikannya.

Kedua, seminaris adalah calon imam pemimpin jemaat. Literasi adalah ketrampilan esensial untuk kepemimpinan yang baik. Bisa dibayangkan kekacauan bahkan kehancuran lembaga/paroki yang dipimpin para pemimpin dengan literasi rendah. Akan terjadi banyak salah paham dan salah arah kebijakan yang pada gilirannya bisa merusak organisasi tersebut.       Ketiga, sebagai imam ketrampilan literasi sangat dibutuhkan untuk  berpastoral dan berkomunikasi secara bermakna dan mendalam. Tanpa kemampuan literasi yang baik mustahil terjadi proses komunikasi dan pastoral yang efektif. Bisa dibayangkan betapa frustasinya umat yang dilayani jika imamnya sering salah memahami apa yang dikatakan mereka.

Keempat, ketrampilan berliterasi semakin mendesak karena kita hidup dalam jaman banjir informasi online (infobesity).  Tanpa literasi, kita bisa menjadi budak informasi dan bukan menjadi tuan yang bijak atas informasi . Bisa dibayangkan dampak buruk seorang imam yang tidak terampil berliterasi sehingga tak bisa mengolah informasi yang begitu melimpah dengan bijak. Sangat mungkin dampaknya bisa memecah belah umat dan komunitas.

Kelima, mayoritas dari kita belum terbiasa dengan literasi menurut Kurikulum Merdeka. Kita mungkin terbiasa dengan “literasi” warisan  Orde  Baru yang pengaruhnya masih terasa dalam kurikulum-kurikulum sesudahnya: pandai menghafal seperti burung beo tetapi belum/tidak terampil berpikir kritis. Maka seluruh sivitas akademika ditantang untuk melatih literasi model Kurikulum Merdeka, bukan “literasi” burung beo warisan Orde Baru.

Bagaimana Melatih Literasi?

            Freedom Writers (2007)  adalah sebuah film tentang literasi yang mengubah hidup remaja bermasalah dan kriminal. Film ini dibuat atas dasar kisah nyata seorang pendidik bernama Erin Gruwell. Sekarang beliau selain guru juga presiden The Freedom Writers Foundation. Mungkin langkah pertama dan menghibur yang bisa kita lakukan adalah menonton, merefleksikan dan menimba inspirasi dari film ini. Semoga film yang inspiratif ini bisa menjadi pengingat nilai penting literasi untuk hidup kita.

Tentu dalam keseharian formasi di SMM ini melimpah peluang melatih literasi secara kreatif. Setiap perjumpaan dengan liyan (sesama, film, teks, dll) adalah kesempatan untuk melatih literasi. Tentu pembelajaran harian di kelas dan jam studi itu merupakan arena latihan literasi yang penting. Tetapi di luar itu, dalam setiap kesempatan perjumpaan dengan teks, youtube, film, sharing itupun adalah kesempatan melatih literasi. Tentu hal ini akan terjadi jika kita mau berefleksi.

Selain latihan literasi lewat perjumpaan harian, kita perlu latihan eksamen khusus untuk membantu kita berefleksi tentang pengalaman melatih literasi. Dua atau tiga kali dalam seminggu pada waktu siang setelah jam pelajaran selesai, kita bisa melatih eksamen khusus bersama dan terbimbing tentang pengalaman berliterasi pada hari tersebut. Semoga Roh Kudus menolong seluruh sivitas akademika untuk memiliki semangat berlatih literasi.

Penutup

“Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”-Mat 18:20

“When I walk along with two others, from at least one I will be able to learn.” – Confucius

Dua kutipan dari Injil Matius dan Confucius di atas rasanya mengungkapkan roh dari literasi: belajar secara kreatif, kritis dan reflektif dalam setiap perjumpaan dengan liyan (the others) yang dengan bantuan rahmatNya bahkan bisa membuka peluang perjumpaan dengan yang Illahi (The Others). Pengalaman keseharian dan insani  (the others) adalah ruang untuk mengalami pengalaman perjumpaan dengan yang Illahi (The Others) .Literasi adalah ketrampilan dasariah untuk formasi calon imam. Maka berlatihlah dengan tekun mulai dari sekarang supaya dalam masa formasi imamatmu Anda akan menjalaninya dengan sukacita. Practice makes perfect! Semoga Tuhan menganugerahkan rahmat ketekunan melatih literasi ini.

GARUDA EMAS

Tahun-tahun berlalu dan garuda itu pun menjadi tua. Pada suatu hari ia melihat seekor burung perkasa terbang tinggi di angkasa biru. Burung itu melayang-layang dengan indah dan lincah melawan tiupan angin, hampir-hampir tanpa mengepakkan sayapnya yang kuat dan berwarna keemas-emasan.

Garuda tua itu melihat ke atas dengan rasa kagum.

”Apakah itu?” tanyanya kepada temannya.

”Itulah garuda, raja segala burung,” kata temannya. “Tetapi jangan terlalu memikirkan hal itu. Engkau dan aku berbeda dengan dia.”

Maka garuda tua itu pun tidak pernah memikirkan hal itu lagi. Akhirnya ia mati, dengan masih tetap mengira dirinya hanyalah seekor ayam saja.

Melatih literasi (dan refleksi) adalah jalan untuk semakin menyadari bahwa hakikat sejati diri kita adalah garuda bukan ayam atau beo!

Mertoyudan, 11 Juli 2022


Similar Posts