Memaknai Pekerjaan

Mertoyudan – Ada kebanggaan tertentu jika orang bisa bekerja. Esensi orang hidup adalah bekerja. Karena dengan bekerja, kita akan memperoleh rezeki, dapat mempertahankan hidup kita, mengaktualisasikan diri, dan memuliakan Tuhan. Terkadang kita harus bekerja sangat keras untuk memperoleh rezeki. Sampai ada istilah “P6”, yaitu: “pergi pagi pulang petang pendapatan pas-pasan”.

Ketika saya menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta, saya tinggal di Paroki Kiduloji. Saat saya merayakan ulang tahun, saya berniat untuk berbagi rejeki kepada para tukang becak di sekitar Kiduloji.

Setelah mandi sore, saya berkeliling menemui beberapa bapak tukang becak. Saya ingin berbagi sukacita atas ulang tahun saya. Saya memberikan uang pada mereka untuk beli makan malam. Ada yang langsung menerima dengan senang, ada yang bingung, ada yang menolak, dan ada yang mau menerima uang itu jika ia sudah mengantar saya dengan becaknya.

Yang terakhir ini mengesankan saya. Si bapak hanya akan menerima uang itu jika sudah bekerja dulu. ”Maaf, mas. Saya harus kerja dulu, baru terima uang. Mari masnya mau saya antar ke mana, baru mas memberi saya uang. Saya tidak mau terima uang tanpa bekerja”, tutur bapak tukang becak itu.

Saya beberapa kali membujuk bapak itu untuk tidak perlu ngantar saya. Saya ikhlas memberi uang itu. Si bapak pun tetap menolak. Maka saya pun menuruti keinginannya. Saya minta diantar keliling alun-alun utara Jogja saja.

Bacaan Injil pada hari ini mengingatkan kita akan nasihat Yesus untuk menghayati makna bekerja. Diungkapkan, “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal”. Nasihat ini disampaikan Tuhan Yesus untuk memurnikan motivasi orang banyak yang berbondong-bondong mencari Yesus.

Kehidupan jasmani dan rohani harus diusahakan seimbang, karena pada akhirnya tujuan hidup manusia adalah menuju kepada Allah. Melaksanakan kehendak Allah adalah makanan Yesus. Dalam peziarahan menuju Allah itu, kita sebagai orang beriman juga diajak untuk memahami dan melaksanakan kehendak Allah (necep sabda Dalem, manages kersa Dalem lan ngemban dhawuh Dalem).

Seminari Menengah Mertoyudan berada di bawah perlindungan Santo Petrus Canisius (1521-1597). Dalam tradisi Gereja, peringatannya jatuh pada tanggal 27 April atau 21 Desember. Dalam Input yang saya berikan dalam rangka menyongsong pesta pelindung seminari pada tahun ini, saya mengutip inspirasi hidup dari Santo Petrus Canisius, “Cara terbaik memperjuangkan iman ialah bukan dengan kekerasan, tetapi dengan berdoa dan bekerja keras”. Kita kenal istilah dalam bahasa Latin: ora et labora (berdoa dan bekerja).

Menjelang akhir hidupnya, Santo Petrus Canisius mengungkapkan sebuah refleksi perjalanan hidupnya, “Jika kau memiliki terlalu banyak hal untuk dilakukan, dengan bantuan Tuhan kau akan mendapatkan waktu untuk mengerjakannya”.

Melalui berbagai tugas yang diserahkan kepadanya, Santo Petrus Canisius sadar bahwa Tuhan yang mengutus dia akan membantunya untuk menyelesaikannya. Orang Jawa bilang, “Gusti mesthi paring dalan” (Tuhan pasti memberi jalan). Oleh karena itu, marilah kita kembangkan 4 kartu AS, yaitu kerja kerAS, kerja cerdAs, kerja ikhlAS, dan kerja tuntAS.

Pertanyaan refleksinya, apa makna kerja bagi Anda? Apa saja yang dapat Anda lakukan untuk menyeimbangkan hidup jasmani dan rohani? Selamat merayakan pesta pelindung Seminari dan Sekolah-sekolah Kanisius. Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bumi Mertoyudan. # Y. Gunawan, Pr

Similar Posts

  • Tuhan Menyapa

    Percik Firman: Tuhan MenyapaSelasa, 30 November 2021Pesta St. Andreas RasulBacaan Injil: Mat. 4:18-22 “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Mat 4:19) Sdri/a ku ytk.,Dalam pengalaman hidup panggilan, Tuhan seringkali memilih dan memanggil seseorang melalui peristiwa sederhana, pengalaman sehari-hari. Bukan melalui peristiwa yang spektakuler dan gegap gempita. Bahkan tak jarang Tuhan memilih kakak…

  • Tidak Memaksa Tuhan

    Percik Firman: Tidak Memaksa TuhanSabtu Imam, 7 Agustus 2021Bacaan Injil: Mat 17:4-20 ”Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita.” (Mat 17:14) Saudari/a ku ytk.,Orangtua mana yang tidak peduli pada anaknya? Jika anaknya lapar, pasti akan berusaha dicarikan makan. Jika anaknya mau sekolah, pasti akan dicarikan biaya agar bisa tetap sekolah. Jika anaknya mau…

  • Sabda Celaka

    Percik Firman: Sabda CelakaRabu, 14 Oktober 2020Bacaan Injil : Luk 11:42-46 “Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah” (Luk 11:42) Sdri/a ku ytk.,Gus Dur dikenal sebagai salah satu pribadi yang punya prinsip. Dia berani mengkritik siapa pun jika apa…

  • Hati-Hati Godaan “Farisi” Masa Kini

    Percik Firman : Hati-Hati Godaan “Farisi” Masa KiniSabtu, 21 Agustus 2021PW St. Pius X, PausBacaan Injil: Mat 23:1-12 Saudari/a ku ytk.,Ada sebuah pepatah Jawa yang berbunyi, “Gajah diblangkoni, isoh kojah ora isoh nglakoni”. Artinya, bisa berbicara tetapi tidak bisa menjalani. Terjadi ketidak-konsistenan antara perkataan dan tindakan. Dalam bacaan Injil pada peringatan wajib Santo Pius X…

  • Mempersilakan Tuhan

    Kamis, 8 Desember 2022HR St Maria Dikandung Tanpa NodaBacaan Injil: Luk 1:26-38 Sdri/a ku ytk.,Pada hari ini tanggal 8 Desember, Gereja merayakan Hari Raya St. Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda (Maria Immaculata). Ajaran Gereja tentang St. Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda ini disampaikan oleh Paus Pius IX pada tahun 1854. Mengapa? Karena beliau melihat kelesuan…

  • Maneges Kersa Dalem Gusti

    Percik Firman: Maneges Kersa Dalem GustiSabtu, 19 Maret 2022HR Santo Yusuf, Suami SP MariaBacaan Injil: Mat 1:16.18-21.24a Sdri/a yang terkasih,Pada hari ini tanggal 19 Maret kita merayakan Hari Raya Santo Yusuf, suami Santa Perawan Maria. Sejak abad ke-8, Gereja menetapkan tanggal 19 Maret sebagai hari raya utama Santo Yusuf. Santo Yusuf adalah tokoh teladan dalam…