Populi Vox Dei

Percik Firman: Vox Populi Vox Dei
Senin, 7 Desember 2020
PW St. Ambrosius,Uskup
Bacaan Injil: Luk 5: 17-26

“Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia: ‘Hai saudara, dosamu sudah diampuni” (Luk 5:20)

Sdri/a ku ytk.,
Dengan kaki yang dimiliki kita dapat pergi kemana-mana dengan leluasa. Kita bisa berjalan, berlari, bergowes ria, naik gunung, memanjat pohon, dsb.

Dengan kaki kita dapat melangkah. Ya, Tuhan menganugerahkan kaki kepada kita untuk melangkah. Melangkah maju meraih hidup yang bermutu dan bermakna. Kelumpuhan kaki bisa membuat orang tidak berdaya. Tapi juga bisa memacu diri untuk mandiri.

Dalam Injil pada peringatan wajib Santo Ambrosius (340-397) hari ini Tuhan Yesus menyembuhkan orang yang sakit lumpuh. Kelumpuhan membuat orang tidak berdaya, tidak bisa berjalan dan melangkah maju. Bahkan untuk bisa berjumpa dengan Yesus, dia digotong oleh beberapa orang. Karena penuh sesak, mereka tidak bisa lewat pintu, tetapi menjebol atap rumah dan menurunkan orang lumpuh itu lewat atap.

Mungkin saat ini kita tidak lumpuh fisik. Tetapi bisa jadi kita lumpuh rohani. Kita mudah loyo, letih, malas, tidak bersemangat dan mudah uring-uringan. Anggota keluarga yang tidak bersalah bisa kena dampak dari kelumpuhan rohani kita.

Salah satu penyebab kelumpuhan adalah dosa. Untuk itu, kita perlu dengan rendah hati datang untuk mengaku dosa pada Tuhan dan menerima pengampunan-Nya. Sebab, pengampunan itu menyembuhkan “kelumpuhan” kita.

Itulah sebabnya, Yesus menyembuhkan si lumpuh, pertama-tama dengan sabda pengampunan-Nya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia: “Hai saudara, dosamu sudah diampuni.”

Santo Ambrosius yang diperingati hari ini menjadi teladan pribadi yang luar biasa dalam beriman pada Tuhan. Dia dipakai Tuhan untuk menguatkan iman dan semangat umatnya yang sedang lumpuh waktu itu.

Pada tahun 372 ia diangkat menjadi kepala dewan kota Liguria dan Emilia, dengan berkedudukan di kota Milano. Saat itu Milano adalah ibu kota kedua Kerajaan Romawi setelah Kota Roma. Kedudukan ini membuat dia terkenal ke seluruh negeri sebagai seorang administrator yang cakap dan seorang politisi ulung.

Pada masa itu umat di kota Milan terpecah menjadi dua golongan, yaitu Kristen Trinitarian dan Bidaah Arian. Ambrosius sebagai Kepala Dewan Kota sangat dihormati dan diterima dengan baik oleh kedua golongan yang sedang bertikai itu. Ketika Uskup Milan Auxentius meninggal dunia, kedua golongan ini terlibat persaingan dan pertikaian sengit dalam pemilihan uskup yang baru.

Gubernur Milan sampai harus datang secara pribadi ke basilika tempat pemilihan berlangsung, untuk mencegah kerusuhan yang akan terjadi. Saat gubernur sedang berpidato ia diinterupsi dengan seruan-seruan, “Angkat Ambrosius menjadi uskup!” yang kemudian diikuti oleh orang lain, sehingga Ambrosius pun secara aklamasi diangkat sebagai uskup.

Ambrosius dengan keras menolak pengangkatannya ini karena ia sama sekali tidak siap dan tidak pantas. Ia bukan seorang imam dan tidak memiliki pendidikan teologis. Namun umat terus mendesaknya.

Gubernur Milan dan kaisar pun memintanya untuk menerima keputusan tersebut. “Vox Populi Vox Dei. Suara rakyat adalah suara Tuhan”, begitu kata mereka. Ambrosius kemudian menerima pilihan umat kota Milan.

Sebagai uskup, Ambrosius segera menjalani cara hidup para pertapa dan bermati-raga dengan sangat keras. Ambrosius menjadi bapa serta teladan yang mengagumkan bagi umatnya. Ia juga melawan segala kejahatan dengan keberanian yang mengagumkan. Ia juga melawan bidaah Arian dengan gigih.

Di tengah kesibukannya, ia tetap berusaha mencari waktu untuk berdoa dan menulis tentang kebenaran-kebenaran Kristen. Kotbah-kotbahnya sangat menarik dan kemudian diterbitkan menjadi buku bacaan rohani umat.

Salah satu kemenangannya yang terbesar ialah keberhasilannya mempertobatkan Santo Agustinus. Ia menerima dan mempertobatkan Agustinus, seorang pemuda yang amat cerdas tapi hidupnya tidak karuhan. Ternyata, Santo ‘melahirkan’ santo. Kekudusan itu ternyata bisa nyetrum dan menjalar.

Pertanyaan refleksi, apakah hari-hari ini Anda sedang mengalami “kelumpuhan rohani” dalam hidup Anda? Apakah Anda peka menangkap suara umat yang adalah suara Tuhan untuk hidup Anda (diusulkan menjadi prodiakon, ketua lingkungan, pengurus Dewan Pastoral Paroki, dsb)?

Selamat berpesta pelindung bagi Anda yang bernama baptis Ambrosius. Berkah Dalem dan Salam Teplok dari bumi Mertoyudan.

# Y. Gunawan, Pr

Similar Posts

  • Yesus Sang Penyembuh

    Percik Firman : Yesus Sang PenyembuhSabtu, 27 Juni 2020Bacaan Injil : Mat 8:5-17 “Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit” (Mat 8:16) Saudari/a ku ytk.,Kita percaya bahwa Yesus Sang Juru Selamat. Artinya apa? Kata ”juru” menunjuk pada pribadi…

  • Perlu Ketegasan

    Percik Firman: Perlu KetegasanMinggu Biasa IV, 31 Januari 2021Bacaan Injil : Mrk 1:21-28 “Yesus menghardiknya, kata-Nya: ‘Diam, keluarlah dari padanya!’” (Mrk 1:25) Saudari/a ku ytk.,Santo Antonius Abas (250-356) pernah memberikan kesaksian: “Setan takut pada kita ketika kita berdoa dan bermatiraga. Setan juga takut ketika kita rendah hati dan lemah lembut. Terutama setan takut pada kita…

  • Berprasangka Buruk

    Percik Firman: Berprasangka BurukSabtu, 16 Maret 2024Bacaan Injil: Yoh 7:40-53 Sdri/a yang terkasih,Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita supaya jangan cepat berprasangka buruk dan menghakimi sesama dengan hanya melihat bagian luarnya saja. Mungkin ada di antara kita yang pernah terpengaruh sikap yang lebih cepat mengadili atau menghakimi, berprasangka buruk daripada melihat kebaikan sesama sebelum mengklarifikasinya….

  • Datang pada Tuhan

    Percik Firman : Datang pada TuhanRabu, 13 Desember 2023Peringatan Wajib Santa Lusia (Perawan dan Martir)Bacaan Injil : Mat 11:28-30 Saudari/a ku ytk.,Apakah Anda pernah takut dan khawatir dalam hidup ini? Atau hari-hari ini perasaan takut dan khawatir itu sedang Anda alami? Adakah beban berat yang sedang dipikul? Pada peringatan Wajib Santa Lusia hari ini Tuhan…

  • Satriyaning Buwana: Akrab dengan Persoalan-Persoalan Dunia

    Dalam menggambarkan dan merangkum perjalanan formasinya di Seminari, teman-teman seminaris angkatan 105 (2016/2017) menentukan nama “Satriyaning Buwana”. Memperhatikan sebutan tersebut sambil membayangkan kebersamaan keseharian dengan mereka di Seminari, antara lain  muncul diri mereka sebagai anak-anak jaman; datang dari dunia dan lingkungannya; mengikuti dan menindaklanjuti apa yang dirasakan dan diyakini sebagai panggilan. Teman-teman adalah anak muda…

  • Setia Menunggu

    Percik Firman : Setia MenungguSelasa, 20 Oktober 2020Bacaan Injil : Lukas 12:35-38“Hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan” (Luk 12:36) Saudari/a ku ytk.,Dalam hidup kita sehari-hari kadang kala diwarnai kegiatan menunggu atau menanti. Di tengah pandemi Covid-19 saat ini, misalnya, saat menjalani rapid test, seseorang menunggu hasilnya dengan harap-harap cemas….